Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh

Kesejatian Hidup

Minggu, 26 Desember 2010

Sungguh, memang tak ada satupun yang kita miliki kawan, tapi selalu ada yang dapat kita berikan. Karna semua yang kita genggam, hanya ada dalam ketidak-abadian. Semuanya mudah hilang, berpindah tangan, atau malah kita abaikan..

Lalu sebenarnya bagaimana hakikat pengorbanan??
Bukankah pengorbanan itu merelakan apa yang kita genggam?
Bukankah pengorbanan itu mengikhlaskan apa yang seharusnya kita tanam?

Sungguh,, TIDAK satupun dari semua definisi yang kita fahami selama ini,
menjelaskan pengorbanan dengan arti yang tulus...
Karna pada hakikatnya,
pengorbanan tidak membuat kita lemah karna kehilangan,
namun pengorbanan,
selalu memberikan apa yang kita harapkan...

Ya, pengorbanan selalu memberikan apa yang ingin kita dapatkan..
Tanam definisi itu kawan...!!
Bahwa pada hakikatnya, tak ada yang hilang dari kita,
Karna kita memang tak memiliki apa-apa..
Namun selalu ada yang bertambah,
minimalnya dengan amal shalih karna keikhlasan kita...

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama??
Lalu buat apa kita berfikir ulang meniatkan kebaikan yang pantas kita lakukan??
Atau merasa menjadi orang yang teramat rugi,
ketika harus menjalaninya seorang diri.
Lakukan saja sahabat, pun ketika harus berkorban..
Lalu tanamkan keikhlasan, agar tak tercium wanginya
Karna terbakar api riya


Mungkin selama ini ada hal yang belum kita dapatkan,
Belum kita fahami dengan bijak,belum kita hayati dalam benak,,
Kesejatian hidup, mungkin itu yang selama ini tidak kita miliki..

Bersambung.....

Jatinangor, 15 Desember 2010, 06.38.54

Ada Kalanya

Mungkin ada kalanya kita tidak mempertanyakan apa tanggung jawab mereka, karna mereka akan lebih menerima dan mendengarkan saat kita memberikan haknya. Bahwa perhatian kita tidak melulu berkonsentrasi pada kerja-kerja besar mereka, atau malah menggerutu ketika kelelahan telah melanda sendu...


Semua adakalanya..
Maka cobalah fokus untuk menunaikan hak mereka....
Cobalah membangun tawa, saat jiwa sangat menuntut untuk bertanya..
Usahakan menyelipkan suka, saat begitu terpaksanya hati untuk kecewa...

Semua adakalanya...
Maka bukan hakmu untuk selalu mencela atas setiap kelalaian mereka,
Namun jadikanlah ia kewajibanmu untuk sama-sama memperbaiki segalanya..
Jangan biarkan cela setitik, merusak baik yang sebelanga
Lalu menghilangkan kepercayaanmu padanya..

Semua adakalanya....
Baik curiga, maupun berbaik sangka....
Maka jangan biarkan jiwamu selalu luput pada kebaikannya..
Lalu menganggap abadi cela dan kealpaan dirinya...

Semua adakalanya.
Namun bukankah kita lebih memilih bahagia bersama mereka??

Maka biarkan ukhuwah ini terjalin dengan dinamika..
Bahwa kenangan akan selalu teringat pada masa depan.
Dan lalu, selalu jadi pembelajaran...
Bahkan, suatu saat kita akan sangat merindukan
Saat terpisah jarak, dan masa yang membeda..

Jatinangor, 30 Desember 2010, 21.59.03

Katakan apa salahku, tapi bukan maumu...

"Aku tak mengerti apa maumu?"
"Entah, akupun tak tahu akan diriku!"
"Lalu apa salahku?"
"Salahmu, karna kau tak tau apa mauku!!"
"Lalu buat apa kau menyalahkanku? Kau pun tak tahu apa maumu!!"
"Ya, seharusnya kau tahu, karna aku tak suka menuntutmu!!"
"Tapi Kau menuntut apa yang ku tak tahu!!"
"Tapi mau-ku, seharusnya kau tahu!"
"Entahlah, kau sulit kumengerti!"
"Ya, karna kau belum sepenuhnya peduli!"
"Katakan salahku, tapi jangan paksakan apa mau-mu!!"
"Aku tak paksakan apa mau-ku!!"
"Lalu buat apa kau menggerutu??"
"Agar kau tahu, bahwa aku hanya minta untuk dimengerti!!"
"Katakan apa salahku, tapi jangan paksakan apa maumu!!"
"Entahlah, memang kita sama-sama sulit dimengerti.."
......................

"Katakan sekali lagi, apa salahku??"
"Jangan hanya menggerutu, apalagi mengguruiku!!!"
............................


Cerita Sahabat.
Saat hanya menuntut untuk dimengerti,
Tanpa mau menjelaskan secara pasti...

Jatinangor, 30 Desember 2010, 19.58.02

Memaknai Amanah (Part.2) : Dialog Tubuh

Minggu, 12 Desember 2010

Suatu saat aku berjalan. Melangkah sambil menatap hutan dari kejauhan. Terlalu asyik, tanpa sadar ada duri yang menancap keras, menusuk kaki hingga meninggalkan luka. Darah mengalir, semakin membanjir. Sakit semakin menghimpit, darah semakin memerah. Lelama, darah kian mengucur di sela kuku, tanpa sadar luka semakin melebar...

"Duhh,,, sakkitt...", mulut tak sadar meringis.
tangan segera menggenggam kaki, mata menyipit, lalu ada tetesan air yang mengalir.
"Sudah, jangan menangis..", Lewat mulut, tangan berucap sambil menyeka.
"Aku tak tega melihat kaki yang kesakitan begitu..."

Akal berucap, "sudah jangan sedih..."
"Tangan, bisakah kau cabut duri itu???
"Kaki semakin mengerang:"sakitt.. sepertinya aku akan mati!!"
"Jangan berkata begitu, aku akan segera mencabutnya!!" , tangan meyakinkan.
"Tapi aku tak tahan lagi, duri ini sangat membunuhku!"

"Bawa obat merah, bawa obat merah!"Mata menjawab,
"obatnya sangat jauh, tak mampu aku menggapainya.."
Akal bicara, "hei,, kaki, mampukah kau berjalan dengan sebelah saja??"
"Ya, aku mampu, tapi bisakah tangan membantu"
"Ya, aku akan mengambil kayu untuk berpegangan
"Semua disibukkan dengan peran, tak ada yang terdiam.
Namun ada sosok yang merasa terasingkan.

Akal berbicara : Maafkan kawan, setiap detikku tidak bisa melakukan pekerjaan, tapi tubuhku dipenuhi oleh fikiran
Aku Berfikir, Apa yang sehausnya terucap oleh mulut.
Aku berfikir, Kemana Selanjutnya kaki harus melangkah
Aku terus berfikir, apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya!!!

Maafkan aku kawan, aku tidak mampu bekerja
Seperti kaki yang terus melangkah
seperti mata yang terus menatap
seperti mulut yang selalu berucap
Namun disisi lain, aku hanya mampu memikirkan kehidupan kalian...
Berfikir dalam diam...

......

Bahwa organisasi bagaikan anggota badan, namun kepemimpinan tidak mampu teribaratkan. Pemimpin bukan hanya menjadi 'otak' organisasi yang menjadi sumber pemikiran, namun juga sebagai jantung yang menggerakkan!! Memompakan darah agar seluruh anggota tak mati, menstimulus gairah agar semuanya mampu bekerja dengan semangatnya. Bahwa kepemimpinan itu suatu peran yang luar biasa. Karna ia memiliki peran ganda.

Karna seringkali seorang anggota tidak mungkin mengerjakan hal terkecil yang biasa dilakukan pemimpinnya. Namun seorang pemimpin sangat mungkin melakukan hal terbesar yang telah dilakukan anggotanya. Karna seorang anggota tidak mungkin memiliki hak sekecil apapun yang menjadi wewenang pemimpinnya, namun seorang pemimpin pasti memiliki kewajiban sebesar apapun yang dimiliki oleh anggotanya. Sederhananya, hak pemimpin hanyalah menjadi bagian untuk dirinya, namun kewajiban anggota adalah tanggung jawabnya pula!!!

Mari memaknai kepemimpinan kita kawan...
Sudahkah ia berkembang, menjulang dan mampu memberikan harapan??

Jatinangor, 12 Desember 2010
(Saat kurasa, tidak terjadi hal yang seharusnya)

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Perjuangan ini tak lagi berarti

Selasa, 30 November 2010

Mungkin imanku sedang compang-camping...

Saat aku merasa apa yang ku lakukan bukan menjadi amal baik yang harus dikerjakan. Saat amanah yang membebani pundak ini, terasa begitu berat, membuat sesak. Saat tak ada lagi semangat dan azam yang melekat. Saat hanya ada kekecewaan yang terus kurasakan. Saat berkorban bukan kuanggap sebagai sebuah keniscayaan. Saat semua ini kurasa sia-sia, untuk diriku, untuk dakwah, bahkan untuk agama ini..

Lalu syetan menggoda-ku dari arah yang tak kukira. Ia bisikkan ku dengan kemalasan, lalu aku merasa nyaman. Lalu ia menggodaku dengan kesibukan pribadi, akupun menurutinya. Kemudian akupun lupa atas segala kewajiban yang belum sempat kutunaikan.

Lalu aku menganggap bahwa diriku adalah manusia biasa. Manusia biasa yang tak bisa luput dari dosa. Dan menganggap wajar kelemahan imanku. Akupun sering memaklumi setiap kelalaian demi kelalaian selama ini. Dengan dalih wajar, sangat wajar....

Lalu ku berdalih kecewa untuk meninggalkan semuanya. Ku meneriakkan beribu kebenaran, walau hati tak mengakuinya. Pembenaran demi pembenaran hanya kujadikan alasan untuk lari dari keadaan. Akupun ingin hidup tenang tanpa tuntutan...

Mungkin aku kehilangan orientasi....

Saat menunaikan amanah bukan menjadi prioritas fikirku. Saat meluangkan waktu untuknya tak cukup berarti bagi kebaikan diriku. Saat kerja keras dan pengorbanan hanya ada dalam cerita-cerita kepahlawanan. Dan disini, keadaannya biasa saja. Tanpa akupun semuanya akan baik-baik saja. Aku mengabaikannya, tak ada keburukan yang tercipta. Saat aku mengerjakannya, tak ada yang berubah. Hanya pekerjaan dunia yang tak cukup berharga. Tak cukup menebus pahala walaupun sebelanga.

Mungkin akupun berharap dihargai

Saat kerja-kerjaku tak dihargai, walau akupun tak berharap untuk diapresiasi. Saat mereka hanya menuntut kesempurnaan kerjaku. Padahal nyatanya, mereka pun tak memberi apa-apa untukku. Semua Kerjaku seakan ada celanya, selalu ada kekurangannya. Saat mereka diminta untuk membantu, mereka hanya menasihati agar aku berjuang dulu untuk menyelesaikannya. Dengan dalih demi kedewasaanku.

Tak pernah ada satupun perhatian mereka padaku. Saat kucoba melakukan segalanya untuk mereka, seringkali diabaikan. Cuek, tanpa perhatian. Saat kutanyakan apa saran dari mulut mereka, selalu berdalih akan difikirkan. Atau saat kutanya apa kabar mereka, tak pernah ada balasan. Saat kucoba berbuat banyak untuk mereka, tak pernah ada tanggapan. Bahkan seringkali mereka membalasnya dengan ketidakhadiran. Ahhh, rasanya segala kerjaku tak lagi mereka butuhkan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dan tak mau peduli.

Mungkin ego-ku terlalu berlebih....


Saat aku merasa lebih baik menyendiri. Mengabaikan amanah, lalu hilang pergi. Saat ku lebih memilih untuk mengabaikan uluran tangan meraka saat berjuang merangkulku. Saat ku pilih diam dan membisu atas pertanyaan apa keluhku. Saat ku tak lagi perdulikan mereka atas semua yang tercurahkan padaku. Lalu berkata dalam hati : Apa urusanmu?

Aku selalu berfikir : ternyata aku hanya menjadi orang yang dimanfaatkan. Terbukti saat mereka hanya menghubungiku saat butuh. Terbukti saat hanya ada waktu mereka bersamaku saat dituntut untuk bekerja. Terbukti saat semua pertanyaan yang mereka ajukan adalah tanya atas penyebab kelalaianku. Sungguh, mereka tak pernah memberi apapun yang menjadi hak-ku, dan hanya bisa menuntut tanggung-jawabku..

Aku tak lagi berfikir untuk menjadi orang yang pertama. Karna tak ada lagi slogan 'fastabiqul khairat' di hati mereka dan kita. Semua lalai mengerjakan segalanya. Amanah kian bertambah, dan kelalaian semakin mendunia.

Saat segala perjuangku, rasanya sia-sia...
Saat segala pengorbananku, tak ada artinya...

.............
Aku disini adalah kamu yang disana.
Mungkin suatu saat akupun akan mengalaminya.
Aku selalu mencoba untuk mengerti dirimu, namun selalu keliru.
Lalu kubiarkan waktu untuk menjawabnya, walau ku terus berusaha untuk memaksa mengungkapnya.

Sahabat, tak lagi berartikah perjuangan kita?
Semua tanya berkecamuk dalam dada.
Lalu hati hanya mampu berdo'a : semoga suatu saat hati kita akan terbuka.

Mungkin segalanya terjadi seperti ini karna kita sedang kehilangan motivasi dan orientasi. Maka hal sederhanya, cobalah untuk mengungkap hati dari diri sendiri. Jangan pernah menuntut orang lain untuk mengerti, kalau dirimu-pun tak pernah mengerti diri sendiri. Buatlah pertanyaan tentang apa yang membuatmu merasa begini dan begini. Lalu renungkan jawaban agar segala keresahan dan kekeliruan segera terselesaikan. Dengan hati yang khusyuk, dengan menundukkan ego dan dominasi ke-aku-an...

Renungkan, renungkan.....
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita. Agar kelak tak keliru dalam memikirkan, agar kelak tak salah saat merasakan....

Jatinangor, 25 November 2010
(Saat penyakit aku-pun menjangkiti diriku)

Izinkan Ku Menyendiri

Senin, 29 November 2010

Hari ini, terasa hambar dari segala yang dapat dirasakan. Rasanya hati tak lagi dapat mengecap semua hal yang berkecamuk dalam fikiran. Apa yang kita rasakan, sepatutnya tidak seluruhnya menjadi beban fikiran. Ya itu idealisme-ku dulu, bahkan sampai saat ini. Ketika ada hal yang mengusik dalam hati, membuat gelisah, kucoba selalu mengulangi kata itu dalam bisik. Kemudian memejamkan mata untuk memanipulasi keadaan agar lebih baik. Rasanya ingin merenung, kemudian terdiam dengan beribu pertanyaan....
Izinkan Ku menyendiri.
Saat ini, saat ku tak butuhkan teman untuk berbagi keluhan. Karna bukan hak semua orang untuk tahu apa yang aku rasakan. Walau dengan paksa, mulut ini akan selalu membisu saat mereka bertanya apa yang sedang menimpa-ku.

Izinkan Ku Menyendiri..
Saat kehadiranmu, dan mereka malah menjadi pengganggu kehidupanku. Aku hanya butuh waktu untuk menyendiri. Duduk menulis, memaksa memutar kata dalam otak, dan kemudian menumpahkan segala rasa dalam ke-abstrakan kalimatnya. Suatu saat, hanya menjadi coretan-coretan luka yang kembali menganga..

Izinkan Ku Menyendiri...
Saat tak ada lagi kata yang sanggup ku tulis. Dalam memoar yang tumpahkan tinta dalam ketidakjelasan ceritanya. Galau. Mungkin itu menjadi karakter yang terus melemahkan semua orang saat ini. Mencoba memahami tapi tak pernah bisa mengerti, lalu hilang pergi.

Izinkan Ku Menyendiri....
Saat waktu terus terbuang percuma dalam kegelisahan.
Determinasi. Mungkin tak butuh lama untuk mengembalikan semuanya.

Jatinangor, 29 November 2010. 10.55.43

Inspiring Event : SFT

Minggu, 21 November 2010

Akhir-akhir ini saya jadi sering termenung, sekaligus mengingat setiap jengkal perjalanan hidup yang telah terlewati.Teringat ketika mengikuti sebuah event Pelatihan "School For Trainer (SFT)" yang diadakan teman-teman kaderisasi BEM Kema FMIPA Unpad.

Bagi saya, event yang satu ini sungguh luar biasa. Karna saya merasakan dorongan yang begitu kuat untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya yang terpendam. Ya, menjadi salah seorang motivator adalah cita-cita saya sejak SMP dahulu. Pertama kali yang terfikir saat itu, alangkah senangnya ketika kita dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang dapat menginspirasi orang lain untuk berubah. Mendorong orang lain untuk kembali membangun semangatnya. Bagaimana tidak, sepertinya pemuda saat ini banyak yang kehilangan mimpinya, lemah dalam memotivasi hidupnya. Dilihat dari banyaknya pengangguran yang merajalela, banyak pengamen, pengemis jalanan, remaja putus sekolah, dan banyak masyarakat bertahan pada kehidupan yang seadanya. Kalau dilihat dari realita, SDM di indonesia yang berkualitas sangat minim dan kurang memadai. Lalu, bagaimana negri ini diwariskan untuk hari nanti, jika pada saat mudanya kita tak cukup berprestasi untuk mengurusi diri mereka sendiri?

Ya, mungkin itu mimpi di masa lalu, dan saya harus berjuang mewujudkannya untuk masa depan! Seakan gelora terus membara, dan semangat kian mengalir hangat...

Di akhir acara, jadi teringat ketika harus mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Ada sebuah hal yang terus mengalihkan perhatian saya. Saat itu saya merasa bingung untuk membangun komunikasi selama perjalanan. Karna rasanya cukup membosankan jika berkendaraan dalam diam. Pemateri yang saat pelatihan begitu bersahabat dan bersemangat, terlihat begitu lesu kelelahan. Ya, mungkin beliau terlalu memporsir waktu dan tenaganya dalam banyak training terkemuka, begitu fikir singkat saya. Hingga saat saya melaju dengan motor saat itu, hanya beberapa dialog singkat saja yang sempat terucap. Ternyata, seorang trainer motivasi pun dapat merasa lelah. Hal yang wajar saja, dan begitulah manusia.

Seorang trainer adalah orang yang dapat memanipulasi wajahnya saat di depan panggung. Ia dituntut untuk merubah wajah dari segala kelelahan, kelesuan, atau bahkan dituntut untuk melupakan segala masalah yang sedang dihimpitnya. Wajah optimis harus selalu ia hiasi, walaupun saat itu ia sedang dirundung ujian yang tak terperi. Tapi inilah yang membuat saya takjub. Ternyata dengan berbagi, kita dapat menjadi seorang yang begitu kuat walau pada dasarnya kita sedang melemah. Dengan berkumpul dengan banyak orang, ada energi luar biasa yang bisa membangkitkan semangat kita. Sungguh, berbagi itu luar biasa!!!

Cukup terasa manfaatnya saat bersama. Seringkali saat sakit menghimpit, saya menyengajakan menyibukkan diri dalam organisasi. Dan sungguh luar biasa, dalam beberapa agenda yang padat seringkali rasa sakit itu tak terasa dan terlupakan. Walau gerak sana gerak sini, rasanya seperti orang yang sehat saja. Dan anehnya, setelah pulang dan beristirahat, embali lagi rasa sakit itu merajalela. Entah mengapa, tapi begitulah adanya...

Lalu teringat, sewaktu mengejar waktu untuk tampil di tes ujian dalam training itu. Ketika setiap peserta diwajibkan untuk tampil menjadi pemateri layaknya sorang trainer, dan ini akan dijadikan salah satu syarat kelulusan pada training ini. Kami hanya diberi waktu yang singkat untuk menyiapkan segalanya. Cukup merepotkan. Apalagi dalam jeda itu, saya masih mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Beginilah nasib kalau merangkap status peserta skaligus 'panitia'.. Hufhhh...

Dalam guyuran hujan di perjalanan, mencoba menguak inspirasi dalam otak. Bingung mau menyampaikan materi apa dalam tes nanti. Organisasi? atau motivasi??? Sepertinya materi tentang motivasi lebih menarik dibahas saat ini..

Yap, akhirnya ada judul materi yang menyeruak dalam benak. Judulnya : Membangun kekuatan dalam keterbatasan. Ya, lagi-lagi terinspirasi dari materi pagi tadi, yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang lumpuh kakinya dan cacat tangannya. Lalu ia berusaha mengubah nasib, berjuang melawan realita, dan akhirnya ia berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya dengan kemandirian. Bahkan ia menjadi salah seorang luar biasa melawan keterbatasannya. Bahkan menjadi seseorang yang tidak saya dapat bayangkan : menjadi trainer motivasi!! Luar biasa!!

Sepertinya hari itu penuh dengan motivasi. Walau lagi gak punya uang, walau harus hujan-hujanan, walau harus pulang malam, walau harus kecapean. Rasanya manfaatnya lebih banyak dari deritanya (duhh lebay banget kayaknya ya ^_^). Mudah-mudahan hari itu menjadi pijakan untuk masa depan, mencoba lagi hal baru, kemudian menjadi bekal untuk senantiasa memaksimalkan potensi yang ada. Namun,....

Hahh,, lagi-lagi ada mimpi yang terus menjadi misteri. Semakin banyak pilihan untuk masa depan. Menjadi trainer motivasi? Mampukah? Hanya do'a yang mengalun syahdu, dalam sujud panjang walau seringkali tak khusyuk. Rabb, temukan aku pada jalan yang terbaik untukku, demi masa depanku...

Catatan yang telah lama tersimpan dan belum sempat terselesaikan.
Akhirnya menemukan inspirasi untuk mengakhirinya..

Jatinangor, 21 November 2010, 20.20

Tentang Hati (Part. Laki-laki)

Sabtu, 20 November 2010

Berbicara tentang hati, berarti kita berdiskusi tentang perasaan. Setiap manusia pasti memiliki hati, karenanya sudah otomatis kita semua memiliki perasaan. Namun, sampai saat ini, terkadang kita masih sulit untuk dapat memahami bagaimana hati seseorang. Bahkan dari berbagai ilmu pengetahuan yang ada, rasanya masih sulit untuk mempelajari tentang misteri sebuah hati, itu yang saya rasakan.

Hati dan kelakuan (tingkah laku) mungkin dipelajari dalam ilmu psikologi. Namun tetap saja, bukan ilmu pasti. Ya, bagaimana tidak, setiap orang memiliki karakternya masing-masing, pantas saja sulit dimengerti.

Untuk dapat mengerti, kita perlu banyak pengalaman, turut menyertakan perasaan dari setiap perbedaan, perlu banyak belajar untuk mendengar, perlu banyak waktu luang untuk orang lain, perlu menahan ketidak-nyamanan saat orang lain berkeluh, perlu banyak hal. Pantas saja untuk mengerti seseorang sangat sulit, sangat rumit.

Tentang Hati Lelaki

Banyak wanita yang bilang kalau ternyata pada umumnya lelaki itu tidak peka. Hati lelaki itu keras, terbuat dari batu, bahkan ada yang lebih parah lagi bilang, Lelaki gak punya perasaan!! Huaahhh.... Iya gitu ya??? Sebagai lelaki saya tidak terima dibilang gt (he,,). Yah memang terkadang ada beberapa kaum adam yang kurang peka perasaannya. Namun memang begitulah adanya. Mungkin kalau benar begitu adanya, ada maksud Allah memberikan dosis "syaraf kepekaan" yang tidak terlalu tinggi, karna IA menginginkan akalnya lebih berfikir jernih agar tak mudah rapuh dibawa perasaan. Dan ini, yang menyebabkan seseorang lelaki umumnya lebih tegar dibanding perempuan. Karna kaum adam dialokasikan sebagai qawwan!

Sedikit mengungkap tentang hati lelaki :
1. Lelaki paling tidak suka dibilang bodoh akalnya dibanding buruk rupanya. Karna baginya, otak yang berisi lebih mulia dari wajah yang rupawan (Karna lelaki tidak suka bersolek ^^').
2. Rasa simpati akan meluluhkan keteguhan hati seorang lelaki. Sungguh, lelaki tak butuh simpati, tapi butuh dukungan. Jadi kalau menemukan seorang lelaki lagi lesu karna masalah yang menimpanya atau karena beban hidupnya, jangan tanya apa masalahnya lalu kau tumpahkan airmata karna iba kepadanya , tapi beri dia semangat untuk menjalaninya!! (ahh, lebay banget ini mah ^^').
3. Kalau merasa laki-laki tidak peka setelah diberi beberapa perhatian, bukan berarti ia mengabaikan. Tapi terlebih sering ia mencoba untuk memikirkan. Laki-laki memang sulit untuk merasakan, tapi kalau ada sesuatu benar-benar jadi beban fikiran.

Bersambung yah,, ^_^




Pagi Tanpa Inspirasi

Bakarlah pagi ini dengan semangat sehangat mentari.
Yang mampu menggetarkan arsy,
yang geloranya membangkitkan jiwa yang luluh dengan airmata.
Tiada kesedihan di hari ini,
karna kebahagiaan telah menanti siapa saja yang memulai berjuang di pagi ini...
Bismillah!!

Kembali berkutat dengan jejelan inspirasi yang muncul secara paksa. Merenung itu ternyata sulit juga. Setelah berfikir cukup lama, tetap tidak mendapatkan apapun untuk melanjutkan tulisan. Merajut mimpi, tak ayal hanya menjadi mimpi. Serasa pesimis untuk melanjutkan oase demi oase kata yang berujung pada kebuntuan. Setelah kemarin ada kesempatan buat nge-print dirumah, belum juga bergairah untuk dibaca. Tadinya berniat untuk mengkoreksi kekurangan kata yang ada, tapi saat ini masih saja sulit untuk melakukannya. Huufhhhh, ternyata menulis itu lebih sulit dibanding harus berkata..

Pagi ini kembali mencari inspirasi, mencoba merangsang syaraf melankolis di otak, karna biasanya lebih mudah menulis kalau perasaannya lagi bagus. Merenung, berfikir, berkata, lalu menuliskannya. Ahhh,, rasanya buntu sekali pagi ini, hingga memaksa terus menulis catatan ini agar melaksanakan target sehari minimal 2 tulisan. Ckckckk,, terlalu dipaksakan.

Ngomong-ngomong tentang keterpaksaan ada baiknya loh. Ternyata ada baiknya juga peribahasa 'paksa' dalam melakukan agenda-agenda kebaikan untuk kita.

"Jangan pernah merasa terpaksa untuk melaksanakan kebaikan dan manfaat, namun paksakanlah untuk melakukannya"

Kalau bertanya : Apa bedanya ya??
Ya jelas beda!

Bagaimana tidak, rasa terpaksa mengandung arti ada kecederungan hati untuk enggan melakukannnya, terpaksa karna paksaan dari lingkungan. Namun 'paksakanlah', bermakna dorongan dari diri sendiri untuk berjuang melawan keengganan dan kemalasan. Sehingga kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memulai kebaikan-kebaikan walau godaan syetan begitu menggiurkan. Beda kan??? ^_^

Sepertinya kita memang harus terbiasa mengganti kamus dalam hati, kembali menguatkan pondasi niat dalam dada : mengubah terpaksa menjadi paksakanlah!!! Yah, lebih baik memaksakan diri untuk senantiasa sibuk dalam kebaikan, karna kebaikan itu baik untuk kita. Ayo paksakan!! Bismillah...

Jatinangor, 20 November 2010, 7.10
(Mencoba membangkitkan motivasi yang telah lama hilang)

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.