Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh

Tanah Menyejarah

Minggu, 27 Februari 2011

Embun dipagi hari, asap di pergatian siangnya. Kota yang memiliki kompleksitas perubahan udara yang ekstrim ini cukup memberikan kenangan yang dapat dijadikan bahan cerita untuk anak-cucuku nanti. Entah berapa tahun lagi. Yang jelas, sudah hampir 4 tahun keberadaanku di tanah orang. Waktu yang lumayan lama untuk mengasah diri ini menjadi dewasa. Namun tetap saja, kedewasaan sulit dimiliki, walau jarak telah jauh terbentang antara rumah dan keberadaan kita di tanah orang.

Jatinangor, tempat bersejarah. Disinilah aku memulai kehidupanku sebagai mahasiswa. Sudah banyak cerita yang berjejal dalam ingatan, ada yang penuh canda, sebagiannya menyimpan banyak luka. Disinilah aku mulai merasakan kemandirian yang sebenarnya, walau hidup tak bisa lepas sepenuhnya dari bantuan orangtua. Disinilah aku memulai hidup mencari selembar uang, dengan keringat sendiri, mengajar, berbisnis dalam sebuah usaha. Walau sebagiannya berjalan lancar awalnya, dan sebagiannya berakhir dengan menanggung banyak kerugian....

Kota yang menyejarah, karna disinilah aku mencoba mewujudkan sebagian mimpi yang dulu hilang. Dan entah mengapa, dunia seakan membuka lebar jalan mimpiku disini. Sedikit demi sedikit menemukan serpihan potensi yang terkubur lama dalam diri..

Ahh,, kota yang sangat kurindukan...

Disini, berawalah sebuah amanah yang kadang terlihat menjemukan, namun pada akhirnya mampu kunikmati walau dengan paksa. Semua kenangan seakan membekas lekat, kuharap tak pernah hilang terlupakan. Bahkan sangat berharap dapat dijadikan novel petualangan kehidupan, yang sebagian ceritanya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kota kecil yang penuh inspirasi...

Namun, mungkin tak lama lagi berpisah dari kota ini. Paksaan keadaan selalu membawa kita berpetualangan, dari belahan bumi yang satu, ke bagian wajah bumi lainnya. Berpindah, berubah, dan menjalani kehidupan dalam masa-masa yang berbeda.

Ya, mungkin tak lama lagi keberadaanku disini. Semoga dapat dijadikan tanah yang selalu menyejarah.....

Ada serpihan harap yang menghangat.....
Ada cita yang senantiasa terpanjat...
Ada Cinta yang membuat diri ini kuat...
Tanah menyejarah, semoga menjadi lukisan yang berwarna,
Lalu membentuk selaksa pelangi yang terukir indah..

Jatinangor, 4 April 2011 - 11.44.54

Hidup memang keras, Dunia memang kejam...

Jumat, 18 Februari 2011

Hidup memang keras, dunia memang kejam. Maka kehidupan tak cukup dikesahkan dengan banyak keluhan, bahkan tak cukup dihadapi dengan selalu menjadi benalu di kehidupan orang. Kita harus mampu menjalaninya, walau bersama atau dalam kesendirian. Hufhhh,, rasanya memang berat, menjalani setiap ujian yang bertubi. Tak perlu ditangisi, karna airmata hanya menambah bukti kelemahan diri.

Namun saat ini, sangat benar-benar ingin mengeluhkan diri, sekaligus mencoba untuk memotivasi. Walau sebenarnya kata-kata tak lagi mempan memompa semangat ini untuk bangkit dan berdiri. Namun, kalau bukan diri sendiri, kepada siapa lagi kita percaya bahwa akan ada saatnya IA memberikan jalan keluarnya. Tak perlu berharap banyak pada manusia, karna kitalah penentu kebaikan dan segala pemecah permasalahan, tentunya dengan izin-Nya...
Yang dibelakang bukan berarti tidak bisa menjadi yang terdepan. Cukup menancap 'gas' dan konsistensi semangat untuk mengejar ketertinggalan...

Aku merasa, saat ini posisiku sedang terbelakang. Kadang mencoba melihat sekeliling dan kawan, sungguh mereka telah jauh melampauiku. Mungkin ini bukan jalanku, namun aku harus tetap berjalan pada jalan itu. Berjuang hingga akhir, hingga sampai di persimpangan. Setelah ada pilihan jalan, rasanya ingin memutar kendaliku, dan berlari pada jalan yang aku impikan. Saat ini, hanya mampu berjuang, bertahan hingga sampai di persimpangan...

Suatu saat takdir akan memaksa kita untuk menyerah padanya. Di sela ikhtiar, hanya mampu berdo'a, semoga keajaiban akan tiba....

Menyerah memang bukan pilihan. Walau semangat telah runtuh, walau kaki menapak, walau raga tak mampu berdiri, namun masih ada satu hal bagi 'pecundang' untuk melakukan usaha. Berdo'a. Begitulah, kita dipaksa untuk pasrah oleh keadaan, ketika memang tak ada lagi hal yang mampu kita lakukan....



Jalan ini semakin terlihat terjal, berkabut, jauh berujung... Aku terus tergopoh walau tak melihat pencerahan Terseok, lunglai dalam kegelapan.. Meraba dalam ketidakpastian... Lalu hanya sebatas lilin kecil, yang suatu saat mungkin akan padam
..............................

Pleasee,,, HELP me.. Allahh....

Pagi dan Paksaan Inspirasi

Kamis, 06 Januari 2011

Pagi ini, terpaksa bangun larut malam. Menyentuh dinginnya udara subuh walau tak siap. Bahkan memaksa otak untuk terpacu memikirkan inspirasi yang belum terfikir. Lalu, tak lama ada kilatan tembukan sel otak karna rangsangan melankolis, dan jemari serasa reflek dengan menuliskan kata-kata yang ditemukan tanpa sengaja.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Entah mengapa muncul kata seperti itu. Namun harus saya akui, banyak inspirasi muncul dan datang karna pernah dirasakan, atau bermula dari banyak kejadian yang saya temukan. Pagi ini, mungkin refleksi masa lalu yang telah saya lewati. Bahkan dejavu-pun sering terjadi berkali-kali bukan?? Ahh,, hentikan membicarakan asal muasal perkataan. Lebih baik mendalami secara bijak apa yang pernah kita fikirkan dan rasakan.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Banyak contoh yang dapat membuktikan kalimat diatas. Ya, seringkali kita berbuat bodoh dengan hal yang telah kita perjuangkan hingga kita lelah mendapatkannya. Betapa sering kita memaksakan untuk mendapatkan sesuatu. Namun setelah berhasil menggenggamnya, ia kita biarkan hilang dan berlalu. Betapa banyak barang dan cinderamata yang dahulu kita senangi dan berusaha membelinya, lalu kita biarkan ia lusuh dan berdebu.

Betapa berat kita berusaha mendapatkan status tertentu, namun kita tidak dapat menempatkan peran sebagai mana mestinya. Atau ketika kita mendapatkan amanah dan kepercayaan dari orang lain, namun tidak diimbangi dengan menjaga tanggung jawabnya.

Bahkan, ketika kita berusaha berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari sesama, namun seringkali kita sulit untuk menjaganya. Menjaga agar mereka tidak kecewa, dan menjaga kepercayaan mereka seutuhnya.

Ya, seringkali motivasi untuk menjaga tidak sekuat saat kita berusaha memilikinya. Rasanya, apa yang kita miliki, tak lagi berharga ketika waktu telah membuktikan bahwa ia memang tak cukup berharga untuk dimiliki.

Lalu, apakah masalah waktu, yang berhak membuatnya hilang dari genggaman. Atau memang masalah kita, yang tidak becus menjaga komitmen dan tanggung-jawab dari semua yang telah kita dapati tanpa percuma.

Lalu kehilangan membuat kita tersadarkan..
Bahwa apa yang kita abaikan, suatu saat akan menghilang.

Jatinangor, 6 Januari 2011, 5.18.06
(Saat pergantian tahun diawali dengan banyak kesia-siaan)

Seharusnya Kita Malu...

Minggu, 02 Januari 2011

Semburat senyum tulus mengalir dalam wajah pada kamera. Seorang wanita dengan tinggi badan 74 cm, sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Dengan tangan dan kaki yang tidak normal, namun masih bisa mensyukuri anugerah dengan ikhlas dan semangat pantang menyerah. Dengan kekurangan yang dimilikinya, ia diberi gelar 'wanita terpendek di Indonesia'.

Seorang wanita yang tumbuh dengan keyakinan dan semangat yang besar. Ia tidak minder sekalipun ia dianggap oleh banyak orang sebagai wanita yang aneh karena tubuhnya. Ia sekolah di sekolah normal dan terus belajar mandiri. Ia tidak mau sekolah di sekolah untuk anak cacat dan selalu mendapatkan prestasi akademik di sekolah. Ia kemudian masuk perguruan tinggi dan saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang seorang jaksa, diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah komputer sampai lulus D3. Ya, dia mampu menjalani perkuliahan dengan 2 bidang studi yang berbeda dan berhasil menyabet kelulusan dengan sempurna.

Ahh,, melihat dan mendengar sebagian kisahnya membuat bulu kuduk ini merinding. Sejujurnya, jika dihadapkan pada kondisi yang sama, mungkin aku memilih untuk menyerah, dan kini sedang berbaring dengan rintihan penuh keluhan. Sangat berbeda, dan jauh berbeda dengan apa yang mampu ia lakukan dengan perjuangannya. Dan hanya satu rasa yang seharusnya dapat diakui hati ini : MALU!!

Cukup sampai disana!! Belum selesai mata ini membaca kisahnya saat melahirkan dan mengasuh anaknya sendirian. Bagaimana saat ia menjadi motivator, bahkan untuk orang-orang yang normal tanpa cacat! Tidak sanggup rasanya ketika membayangkan bagaimana saat ia mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anaknya.

Lalu bagaimana dengan kita??

Cacatkah kita? Begitu besarkah masalah yang menimpa kita?

Rasa-rasanya yang cacat bukan raga kita, namun otak ini yang berkarat hingga tak mampu lagi berfikir jernih saat ujian menimpa. Harus kita sadari, ternyata yang buta bukan mata kita. Namun hati yang tak mampu jujur menatap masalah dan ujian yang seharusnya dapat kita selesaikan dengan sempurna. Harus kita akui, ternyata yang lumpuh bukan tangan dan kaki kita. Namun jiwa yang mati karna kurangnya motivasi.

Berkacalah, dan banyaklah bercermin pada orang-orang yang benar-benar diuji dengan keterbatasan. Lalu tataplah seberapa pengecutnya diri ini yang menjalani hidup dengan berjuta keluhan.

Seharusnya kita malu...

Aku jadi tersadar, bahwa sebenarnya aku dilahirkan dengan sempurna. Namun kelalaian yang ku lakukanlah, yang membuatku banyak cela.

Banyak orang yang merasa istimewa dengan ujian dan permasalahan yang menimpa , lalu menjadikan pemakluman untuk menutupi kelemahan dirinya. Lihatlah diluar sana!! Betapa banyak orang yang lebih menderita dengan menanggung takdir yang tidak kita kira, namun mereka berjuang tanpa pernah berfikir bahwa 'akulah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam kemalangan.....

Aku malu pada mereka yang benar-benar ditimpa kemalangan. Jika ku bandingkan dengan apa yang menimpa, rasanya tak pantas aku berkata lagi sebagai manusia seutuhnya. Karna, begitu banyak yang seharusnya dapat kulakukan dibanding mereka. Mereka yang benar-benar memiliki keterbatasan raga, bahkan mampu menciptakan kemampuan yang tak kubisa, lalu mereka mampu menutupi aib dengan prestasi-prestasi gemilang dalam kehidupannya.

Malu, aku yakin tak cukup pada kata itu.

Sungguh, kebahagian tidak pernah melihat kekurangan. Karna ia dapat diciptakan dengan hati yang ikhlas menerima, dan jiwa yang tak lelah berjuang memaknai kehidupan.

Jatinangor, 1 Januari 2011, 19.27.05
(Saat lagi-lagi mendapatkan motivasi dan inspirasi dari orang yang tak ku kenal)


Kesejatian Hidup

Minggu, 26 Desember 2010

Sungguh, memang tak ada satupun yang kita miliki kawan, tapi selalu ada yang dapat kita berikan. Karna semua yang kita genggam, hanya ada dalam ketidak-abadian. Semuanya mudah hilang, berpindah tangan, atau malah kita abaikan..

Lalu sebenarnya bagaimana hakikat pengorbanan??
Bukankah pengorbanan itu merelakan apa yang kita genggam?
Bukankah pengorbanan itu mengikhlaskan apa yang seharusnya kita tanam?

Sungguh,, TIDAK satupun dari semua definisi yang kita fahami selama ini,
menjelaskan pengorbanan dengan arti yang tulus...
Karna pada hakikatnya,
pengorbanan tidak membuat kita lemah karna kehilangan,
namun pengorbanan,
selalu memberikan apa yang kita harapkan...

Ya, pengorbanan selalu memberikan apa yang ingin kita dapatkan..
Tanam definisi itu kawan...!!
Bahwa pada hakikatnya, tak ada yang hilang dari kita,
Karna kita memang tak memiliki apa-apa..
Namun selalu ada yang bertambah,
minimalnya dengan amal shalih karna keikhlasan kita...

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama??
Lalu buat apa kita berfikir ulang meniatkan kebaikan yang pantas kita lakukan??
Atau merasa menjadi orang yang teramat rugi,
ketika harus menjalaninya seorang diri.
Lakukan saja sahabat, pun ketika harus berkorban..
Lalu tanamkan keikhlasan, agar tak tercium wanginya
Karna terbakar api riya


Mungkin selama ini ada hal yang belum kita dapatkan,
Belum kita fahami dengan bijak,belum kita hayati dalam benak,,
Kesejatian hidup, mungkin itu yang selama ini tidak kita miliki..

Bersambung.....

Jatinangor, 15 Desember 2010, 06.38.54

Ada Kalanya

Mungkin ada kalanya kita tidak mempertanyakan apa tanggung jawab mereka, karna mereka akan lebih menerima dan mendengarkan saat kita memberikan haknya. Bahwa perhatian kita tidak melulu berkonsentrasi pada kerja-kerja besar mereka, atau malah menggerutu ketika kelelahan telah melanda sendu...


Semua adakalanya..
Maka cobalah fokus untuk menunaikan hak mereka....
Cobalah membangun tawa, saat jiwa sangat menuntut untuk bertanya..
Usahakan menyelipkan suka, saat begitu terpaksanya hati untuk kecewa...

Semua adakalanya...
Maka bukan hakmu untuk selalu mencela atas setiap kelalaian mereka,
Namun jadikanlah ia kewajibanmu untuk sama-sama memperbaiki segalanya..
Jangan biarkan cela setitik, merusak baik yang sebelanga
Lalu menghilangkan kepercayaanmu padanya..

Semua adakalanya....
Baik curiga, maupun berbaik sangka....
Maka jangan biarkan jiwamu selalu luput pada kebaikannya..
Lalu menganggap abadi cela dan kealpaan dirinya...

Semua adakalanya.
Namun bukankah kita lebih memilih bahagia bersama mereka??

Maka biarkan ukhuwah ini terjalin dengan dinamika..
Bahwa kenangan akan selalu teringat pada masa depan.
Dan lalu, selalu jadi pembelajaran...
Bahkan, suatu saat kita akan sangat merindukan
Saat terpisah jarak, dan masa yang membeda..

Jatinangor, 30 Desember 2010, 21.59.03

Katakan apa salahku, tapi bukan maumu...

"Aku tak mengerti apa maumu?"
"Entah, akupun tak tahu akan diriku!"
"Lalu apa salahku?"
"Salahmu, karna kau tak tau apa mauku!!"
"Lalu buat apa kau menyalahkanku? Kau pun tak tahu apa maumu!!"
"Ya, seharusnya kau tahu, karna aku tak suka menuntutmu!!"
"Tapi Kau menuntut apa yang ku tak tahu!!"
"Tapi mau-ku, seharusnya kau tahu!"
"Entahlah, kau sulit kumengerti!"
"Ya, karna kau belum sepenuhnya peduli!"
"Katakan salahku, tapi jangan paksakan apa mau-mu!!"
"Aku tak paksakan apa mau-ku!!"
"Lalu buat apa kau menggerutu??"
"Agar kau tahu, bahwa aku hanya minta untuk dimengerti!!"
"Katakan apa salahku, tapi jangan paksakan apa maumu!!"
"Entahlah, memang kita sama-sama sulit dimengerti.."
......................

"Katakan sekali lagi, apa salahku??"
"Jangan hanya menggerutu, apalagi mengguruiku!!!"
............................


Cerita Sahabat.
Saat hanya menuntut untuk dimengerti,
Tanpa mau menjelaskan secara pasti...

Jatinangor, 30 Desember 2010, 19.58.02

Memaknai Amanah (Part.2) : Dialog Tubuh

Minggu, 12 Desember 2010

Suatu saat aku berjalan. Melangkah sambil menatap hutan dari kejauhan. Terlalu asyik, tanpa sadar ada duri yang menancap keras, menusuk kaki hingga meninggalkan luka. Darah mengalir, semakin membanjir. Sakit semakin menghimpit, darah semakin memerah. Lelama, darah kian mengucur di sela kuku, tanpa sadar luka semakin melebar...

"Duhh,,, sakkitt...", mulut tak sadar meringis.
tangan segera menggenggam kaki, mata menyipit, lalu ada tetesan air yang mengalir.
"Sudah, jangan menangis..", Lewat mulut, tangan berucap sambil menyeka.
"Aku tak tega melihat kaki yang kesakitan begitu..."

Akal berucap, "sudah jangan sedih..."
"Tangan, bisakah kau cabut duri itu???
"Kaki semakin mengerang:"sakitt.. sepertinya aku akan mati!!"
"Jangan berkata begitu, aku akan segera mencabutnya!!" , tangan meyakinkan.
"Tapi aku tak tahan lagi, duri ini sangat membunuhku!"

"Bawa obat merah, bawa obat merah!"Mata menjawab,
"obatnya sangat jauh, tak mampu aku menggapainya.."
Akal bicara, "hei,, kaki, mampukah kau berjalan dengan sebelah saja??"
"Ya, aku mampu, tapi bisakah tangan membantu"
"Ya, aku akan mengambil kayu untuk berpegangan
"Semua disibukkan dengan peran, tak ada yang terdiam.
Namun ada sosok yang merasa terasingkan.

Akal berbicara : Maafkan kawan, setiap detikku tidak bisa melakukan pekerjaan, tapi tubuhku dipenuhi oleh fikiran
Aku Berfikir, Apa yang sehausnya terucap oleh mulut.
Aku berfikir, Kemana Selanjutnya kaki harus melangkah
Aku terus berfikir, apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya!!!

Maafkan aku kawan, aku tidak mampu bekerja
Seperti kaki yang terus melangkah
seperti mata yang terus menatap
seperti mulut yang selalu berucap
Namun disisi lain, aku hanya mampu memikirkan kehidupan kalian...
Berfikir dalam diam...

......

Bahwa organisasi bagaikan anggota badan, namun kepemimpinan tidak mampu teribaratkan. Pemimpin bukan hanya menjadi 'otak' organisasi yang menjadi sumber pemikiran, namun juga sebagai jantung yang menggerakkan!! Memompakan darah agar seluruh anggota tak mati, menstimulus gairah agar semuanya mampu bekerja dengan semangatnya. Bahwa kepemimpinan itu suatu peran yang luar biasa. Karna ia memiliki peran ganda.

Karna seringkali seorang anggota tidak mungkin mengerjakan hal terkecil yang biasa dilakukan pemimpinnya. Namun seorang pemimpin sangat mungkin melakukan hal terbesar yang telah dilakukan anggotanya. Karna seorang anggota tidak mungkin memiliki hak sekecil apapun yang menjadi wewenang pemimpinnya, namun seorang pemimpin pasti memiliki kewajiban sebesar apapun yang dimiliki oleh anggotanya. Sederhananya, hak pemimpin hanyalah menjadi bagian untuk dirinya, namun kewajiban anggota adalah tanggung jawabnya pula!!!

Mari memaknai kepemimpinan kita kawan...
Sudahkah ia berkembang, menjulang dan mampu memberikan harapan??

Jatinangor, 12 Desember 2010
(Saat kurasa, tidak terjadi hal yang seharusnya)

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Perjuangan ini tak lagi berarti

Selasa, 30 November 2010

Mungkin imanku sedang compang-camping...

Saat aku merasa apa yang ku lakukan bukan menjadi amal baik yang harus dikerjakan. Saat amanah yang membebani pundak ini, terasa begitu berat, membuat sesak. Saat tak ada lagi semangat dan azam yang melekat. Saat hanya ada kekecewaan yang terus kurasakan. Saat berkorban bukan kuanggap sebagai sebuah keniscayaan. Saat semua ini kurasa sia-sia, untuk diriku, untuk dakwah, bahkan untuk agama ini..

Lalu syetan menggoda-ku dari arah yang tak kukira. Ia bisikkan ku dengan kemalasan, lalu aku merasa nyaman. Lalu ia menggodaku dengan kesibukan pribadi, akupun menurutinya. Kemudian akupun lupa atas segala kewajiban yang belum sempat kutunaikan.

Lalu aku menganggap bahwa diriku adalah manusia biasa. Manusia biasa yang tak bisa luput dari dosa. Dan menganggap wajar kelemahan imanku. Akupun sering memaklumi setiap kelalaian demi kelalaian selama ini. Dengan dalih wajar, sangat wajar....

Lalu ku berdalih kecewa untuk meninggalkan semuanya. Ku meneriakkan beribu kebenaran, walau hati tak mengakuinya. Pembenaran demi pembenaran hanya kujadikan alasan untuk lari dari keadaan. Akupun ingin hidup tenang tanpa tuntutan...

Mungkin aku kehilangan orientasi....

Saat menunaikan amanah bukan menjadi prioritas fikirku. Saat meluangkan waktu untuknya tak cukup berarti bagi kebaikan diriku. Saat kerja keras dan pengorbanan hanya ada dalam cerita-cerita kepahlawanan. Dan disini, keadaannya biasa saja. Tanpa akupun semuanya akan baik-baik saja. Aku mengabaikannya, tak ada keburukan yang tercipta. Saat aku mengerjakannya, tak ada yang berubah. Hanya pekerjaan dunia yang tak cukup berharga. Tak cukup menebus pahala walaupun sebelanga.

Mungkin akupun berharap dihargai

Saat kerja-kerjaku tak dihargai, walau akupun tak berharap untuk diapresiasi. Saat mereka hanya menuntut kesempurnaan kerjaku. Padahal nyatanya, mereka pun tak memberi apa-apa untukku. Semua Kerjaku seakan ada celanya, selalu ada kekurangannya. Saat mereka diminta untuk membantu, mereka hanya menasihati agar aku berjuang dulu untuk menyelesaikannya. Dengan dalih demi kedewasaanku.

Tak pernah ada satupun perhatian mereka padaku. Saat kucoba melakukan segalanya untuk mereka, seringkali diabaikan. Cuek, tanpa perhatian. Saat kutanyakan apa saran dari mulut mereka, selalu berdalih akan difikirkan. Atau saat kutanya apa kabar mereka, tak pernah ada balasan. Saat kucoba berbuat banyak untuk mereka, tak pernah ada tanggapan. Bahkan seringkali mereka membalasnya dengan ketidakhadiran. Ahhh, rasanya segala kerjaku tak lagi mereka butuhkan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dan tak mau peduli.

Mungkin ego-ku terlalu berlebih....


Saat aku merasa lebih baik menyendiri. Mengabaikan amanah, lalu hilang pergi. Saat ku lebih memilih untuk mengabaikan uluran tangan meraka saat berjuang merangkulku. Saat ku pilih diam dan membisu atas pertanyaan apa keluhku. Saat ku tak lagi perdulikan mereka atas semua yang tercurahkan padaku. Lalu berkata dalam hati : Apa urusanmu?

Aku selalu berfikir : ternyata aku hanya menjadi orang yang dimanfaatkan. Terbukti saat mereka hanya menghubungiku saat butuh. Terbukti saat hanya ada waktu mereka bersamaku saat dituntut untuk bekerja. Terbukti saat semua pertanyaan yang mereka ajukan adalah tanya atas penyebab kelalaianku. Sungguh, mereka tak pernah memberi apapun yang menjadi hak-ku, dan hanya bisa menuntut tanggung-jawabku..

Aku tak lagi berfikir untuk menjadi orang yang pertama. Karna tak ada lagi slogan 'fastabiqul khairat' di hati mereka dan kita. Semua lalai mengerjakan segalanya. Amanah kian bertambah, dan kelalaian semakin mendunia.

Saat segala perjuangku, rasanya sia-sia...
Saat segala pengorbananku, tak ada artinya...

.............
Aku disini adalah kamu yang disana.
Mungkin suatu saat akupun akan mengalaminya.
Aku selalu mencoba untuk mengerti dirimu, namun selalu keliru.
Lalu kubiarkan waktu untuk menjawabnya, walau ku terus berusaha untuk memaksa mengungkapnya.

Sahabat, tak lagi berartikah perjuangan kita?
Semua tanya berkecamuk dalam dada.
Lalu hati hanya mampu berdo'a : semoga suatu saat hati kita akan terbuka.

Mungkin segalanya terjadi seperti ini karna kita sedang kehilangan motivasi dan orientasi. Maka hal sederhanya, cobalah untuk mengungkap hati dari diri sendiri. Jangan pernah menuntut orang lain untuk mengerti, kalau dirimu-pun tak pernah mengerti diri sendiri. Buatlah pertanyaan tentang apa yang membuatmu merasa begini dan begini. Lalu renungkan jawaban agar segala keresahan dan kekeliruan segera terselesaikan. Dengan hati yang khusyuk, dengan menundukkan ego dan dominasi ke-aku-an...

Renungkan, renungkan.....
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita. Agar kelak tak keliru dalam memikirkan, agar kelak tak salah saat merasakan....

Jatinangor, 25 November 2010
(Saat penyakit aku-pun menjangkiti diriku)

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.