Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Organisasi Kehidupan

Senin, 11 Juli 2011

"Belum pernah terlihat ada obat yang lebih mujarab bagi dua orang yang sedang dimabuk cinta, selain menikah" (H.R. Thabrani dan Ad-Dailami)

Banyak orang yang memulai kehidupan rumah tangganya dengan hal yang besar. Dengan impian, cita-cita dan harapan yang melekat pada diri mereka. Dengan cinta yang mereka tumbuh kembangkan hingga membuahkan kasih sayang. Namun ironisnya, banyak rumah tangga yang keharmonisannya tidak bertahan lama. Seakan impiannya saat menikah dahulu, hanyalah sekelumit bayang-bayang kehidupan. Cinta dan iman seakan menjadi alasan yang kerdil dibandingkan dengan peliknya permasalahan yang menyulut api perceraian. Maka, mungkin yang perlu kita perbaiki adalah orientasi yang benar mengenai pernikahan. Karna banyak orang yang menganggap pernikahan hanyalah untuk memiliki surat legalitas 'berhubungan badan'.

Saat pernikahan hanya dianggap sebagai sebuah prosesi tanpa esensi, maka disanalah bermula benih-benih kehancuran dalam membangun rumah tangga. Lalu bagaimana seharusnya pernikahan agar dapat dijadikan landasan awal dalam membangun rumah tangga? Setidaknya, perbaikilah tujuan kita ketika memilih untuk menikah. Karna pilihan yang terpenting dalam hidup tak pernah mudah, begitupun dengan MENIKAH!.

Tujuan Pernikahan :

1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta, kasih sayang dan ketenangan jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
5. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
6. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan).

Tujuan ini hanya sebatas referensi yang ane dapatkan dari salah satu sumber. Semoga ini menjadi tujuan minimal ketika kita memutuskan diri dari status membujang..

Keluarga adalah organisasi terumit dalam lingkup rumah tangga... Yang visinya bukan hanya berorientasi pada keberhasilan dunia, namun berorientasi pada keberhasilan meraih syurga.. Menuju Cinta dan Keridhoan-Nya..

Tidak sedikit dari kita yang menganggap keluarga hanya seperti sebuah rumah. Didalamnya kita dapat berteduh, melabuhkan lelah, dan melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tak lebih tak kurang. Atau adapula yang menganggap keluarga hanyalah sebuah kapal layar. Disana kita bersama mendayung hingga akhirnya sampai pada tempat tujuan. Kita dapat mengganti kapal manapun yang kita mau, ketika tujuannya telah berbeda. Pelabuhan yang kita tuju adalah peristirahatan sementara dalam pengembaraan kehidupan. Berpindah dari pelabuhan satu menuju pelabuhan lainnya. Hingga orientasi begitu cepat berubah. (Ngerti khan ya, maksud ana?? :))

Tidak sedikit dari kita, yang menjadikan keluarga sebagai pabrik penghasil manusia dengan kualitas seadanya. Asal bisa bertahan hidup dalam kurun waktu cukup lama, maka proses produksi barang yang biasa disebut 'manusia' itu tak lagi diperhatikan. Bahkan sebagian hanya mengandalkan modal uang untuk memproduksi generasi penerus, yang katanya menjadi harapan agama, masyarakat dan bangsa. Sebagian lainnya, ada yang menjadikan keluarganya sebagai mesin pencetak uang. Tujuannya adalah meningkatkan taraf kehidupan diatas rata-rata kondisi sosial dalam kemewahan dan harta.

Padahal....

Keluarga adalah awal dari segalanya. Soal pendidikan, agama, bahkan keluarga adalah permulaan dari sebuah peradaban bangsa. Banyak orang yang menganggap hidup berkeluarga adalah pekerjaan remeh temeh sehingga banyak diantara kita yang mengenyampingkan kondisi keluarganya. Kalau kita coba analisa, betapa banyaknya permasalahan umat dan masyarakat yang sebenarnya bermula dari kebobrokan dari lingkup terkecil dalam keluarganya. Silakan perhatikan dan analisa sendiri ya.. :)

Keluarga adalah organisasi terbesar dalam lingkup terkecil...

Disadari ataupun tidak, keluarga dapat diibaratkan laksana sebuah organisasi. Seperti yang kita fahami layaknya sebuah organisasi, maka perlu segala yang berhubungan dengannya memiliki landasan, tujuan, peraturan-peraturan, pengkaderan bahkan sampai kepada hal mendetail terkait dengan program kerja. Saya takjub ketika mendengar salah seorang ustadz yang begitu apik mengagendakan secara terperinci agenda-agenda dalam keluarganya. Kapan saatnya seorang anak bermain, belajar, setor hafalan al qur'an, bahkan untuk sekedar menonton TV!! Luar Biasa!!...

Hasilnya? Tak heranlah kalau kesemua anaknya berprestasi dan bernilai di mata masyarakat. Di gemari oleh sahabat dan kerabat. Karna proses 'produksi'-nya melalui serangkaian proses yang dirancang dengan matang, terprogram bahkan terevaluasi layaknya sebuah organisasi!!

Maka, tugas kitalah para lelaki, sebagai qawwam yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak kita. Menjadi pembimbing untuk istri ketika mengurusi masalah rumah tangga. Ingatlah, di pundak kitalah amanah besar itu dititipkan. Tak ada alasan untuk berdalih ketika kita dimintai pertanggung-jawaban atas amanah yang telah menjadi fitrah kita. Apalagi menyerahkan amanah besar itu kepada istri kita dengan segala keterbatasannya. Ingatlah, KITALAH NAHKODANYA!!!


Suami yang shalih adalah dia yang mampu memuliakan seorang wanita di dunianya sebagai seorang istri, dan menjadikannya di akhirat sebagai bidadari....

Maka, untuk kita para lelaki. Bersiaplah.. Karna genderang perang akan segera di tabuh. Bukanlah perang itu selalu dengan pertumpahan darah. Namun perang saat ini adalah bagaimana kita dapat membulatkan tekad untuk berjihad mempersiapkan masa depan kita. Karna sudah pastilah Allah akan mengamanahi kita dengan jabatan yang tidak dapat kita elakkan. Menjadi seorang suami sekaligus ayah, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan anak dan istri kita. Saatnya kita membenahi diri dalam sebuah organisasi kehidupan, sebuah keluarga. Saatnya kita berjihad mempersiapkan generasi rabbani dambaan ummat... Biidznillah....

Wallahu'alam..

`Jatinangor, 7 Juli 2011` - 17.02.01

Soul nicht perfekt

Sabtu, 07 Mei 2011

Wir nie Liebe finden von man ist perfekt. Weil sie sind perfekt nicht mehr brauchen Liebe. So lernen zu lieben aber viele Defekt zur Verfügung stehen. Dann Perfekt wir lieben, ihn zu lieben... Ja, in dieser Welt nichts perfekt ist. Ebenso mit dem Leben und der Liebe. Die perfekt ist die Liebe Gottes zu seinen Knechten. Und eins ist nahezu perfekt in dieser Welt, ist die Liebe einer Mutter zu ihrem Kind. So lernen, egal wie viel sie über Schuld Liebe. Wir sollten nicht zu dem, was die Mängel betreffen. Wegen der Mängel des lieben wir, eine Rolle in seinem Leben haben. Wenn er nur nicht über eine Verknappung, dann wird er nie brauchen Liebe. Menschen, die viele Mängel haben, die dringend der Aufmerksamkeit, Liebe und Liebe zum Nächsten. Von da ist es, wie sinnlos unsere Liebe in seinem Leben.... Ich liebe dich weil es gibt Unvollkommenheiten sie,auch für mich. Aber Liebe ergänzen unsere Mängel bis perfekt.

Wirklich, ich konnte dich nicht lieben perfekt. Dann lernen mich zu lieben, für unsere können einander lieben mit vollkommene L
iebe....
Kita tak akan pernah mendapatkan cinta dari orang yang sempurna. Karna mereka yang sempurna tak lagi membutuhkan cinta. Maka belajarlah mencintai seberapapun banyaknya cela yang ada padanya. Lalu sempurnakanlah cinta kita untuk mencintainya...

Ya, di dunia ini tak ada yang sempurna. Begitupun dengan jiwa dan cinta. Yang sempurna hanyalah cinta Tuhan kepada hambanya. Dan satu hal didunia ini yang mendekati sempurna, adalah cinta seorang ibu kepada anaknya. Maka belajarlah mencintai seberapapun banyaknya cela yang ada padanya. Kita tidak perlu terlalu memperdulikan apa yang menjadi kekurangannya. Karena dengan kekurangannya itulah, cinta kita memiliki peran dalam hidupnya. Andai saja ia tidak memiliki kekurangan, maka ia tidak akan pernah membutuhkan cinta. Orang yang memiliki banyak kekurangan, sangat membutuhkan perhatian, cinta, dan kasih sayang dari sesama. Oleh karna itu, betapa bermaknanya cinta kita dalam kehidupannya.

Aku mencintaimu karena ketidaksempurnaan yang ada padamu, juga padaku. Namun cinta melengkapi kekurangan kita hingga sempurna.

Sungguh, aku tak bisa mencintaimu dengan sempurna. Maka belajarlah untuk mencintaiku, agar kita dapat saling mencintai dengan sesempurnanya cinta...


JT-Nenger, Heidelberg
(
über dem Neckar - ein Traum)

Pagi dan Paksaan Inspirasi

Kamis, 06 Januari 2011

Pagi ini, terpaksa bangun larut malam. Menyentuh dinginnya udara subuh walau tak siap. Bahkan memaksa otak untuk terpacu memikirkan inspirasi yang belum terfikir. Lalu, tak lama ada kilatan tembukan sel otak karna rangsangan melankolis, dan jemari serasa reflek dengan menuliskan kata-kata yang ditemukan tanpa sengaja.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Entah mengapa muncul kata seperti itu. Namun harus saya akui, banyak inspirasi muncul dan datang karna pernah dirasakan, atau bermula dari banyak kejadian yang saya temukan. Pagi ini, mungkin refleksi masa lalu yang telah saya lewati. Bahkan dejavu-pun sering terjadi berkali-kali bukan?? Ahh,, hentikan membicarakan asal muasal perkataan. Lebih baik mendalami secara bijak apa yang pernah kita fikirkan dan rasakan.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Banyak contoh yang dapat membuktikan kalimat diatas. Ya, seringkali kita berbuat bodoh dengan hal yang telah kita perjuangkan hingga kita lelah mendapatkannya. Betapa sering kita memaksakan untuk mendapatkan sesuatu. Namun setelah berhasil menggenggamnya, ia kita biarkan hilang dan berlalu. Betapa banyak barang dan cinderamata yang dahulu kita senangi dan berusaha membelinya, lalu kita biarkan ia lusuh dan berdebu.

Betapa berat kita berusaha mendapatkan status tertentu, namun kita tidak dapat menempatkan peran sebagai mana mestinya. Atau ketika kita mendapatkan amanah dan kepercayaan dari orang lain, namun tidak diimbangi dengan menjaga tanggung jawabnya.

Bahkan, ketika kita berusaha berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari sesama, namun seringkali kita sulit untuk menjaganya. Menjaga agar mereka tidak kecewa, dan menjaga kepercayaan mereka seutuhnya.

Ya, seringkali motivasi untuk menjaga tidak sekuat saat kita berusaha memilikinya. Rasanya, apa yang kita miliki, tak lagi berharga ketika waktu telah membuktikan bahwa ia memang tak cukup berharga untuk dimiliki.

Lalu, apakah masalah waktu, yang berhak membuatnya hilang dari genggaman. Atau memang masalah kita, yang tidak becus menjaga komitmen dan tanggung-jawab dari semua yang telah kita dapati tanpa percuma.

Lalu kehilangan membuat kita tersadarkan..
Bahwa apa yang kita abaikan, suatu saat akan menghilang.

Jatinangor, 6 Januari 2011, 5.18.06
(Saat pergantian tahun diawali dengan banyak kesia-siaan)

Ada Kalanya

Minggu, 26 Desember 2010

Mungkin ada kalanya kita tidak mempertanyakan apa tanggung jawab mereka, karna mereka akan lebih menerima dan mendengarkan saat kita memberikan haknya. Bahwa perhatian kita tidak melulu berkonsentrasi pada kerja-kerja besar mereka, atau malah menggerutu ketika kelelahan telah melanda sendu...


Semua adakalanya..
Maka cobalah fokus untuk menunaikan hak mereka....
Cobalah membangun tawa, saat jiwa sangat menuntut untuk bertanya..
Usahakan menyelipkan suka, saat begitu terpaksanya hati untuk kecewa...

Semua adakalanya...
Maka bukan hakmu untuk selalu mencela atas setiap kelalaian mereka,
Namun jadikanlah ia kewajibanmu untuk sama-sama memperbaiki segalanya..
Jangan biarkan cela setitik, merusak baik yang sebelanga
Lalu menghilangkan kepercayaanmu padanya..

Semua adakalanya....
Baik curiga, maupun berbaik sangka....
Maka jangan biarkan jiwamu selalu luput pada kebaikannya..
Lalu menganggap abadi cela dan kealpaan dirinya...

Semua adakalanya.
Namun bukankah kita lebih memilih bahagia bersama mereka??

Maka biarkan ukhuwah ini terjalin dengan dinamika..
Bahwa kenangan akan selalu teringat pada masa depan.
Dan lalu, selalu jadi pembelajaran...
Bahkan, suatu saat kita akan sangat merindukan
Saat terpisah jarak, dan masa yang membeda..

Jatinangor, 30 Desember 2010, 21.59.03

Memaknai Amanah (Part.2) : Dialog Tubuh

Minggu, 12 Desember 2010

Suatu saat aku berjalan. Melangkah sambil menatap hutan dari kejauhan. Terlalu asyik, tanpa sadar ada duri yang menancap keras, menusuk kaki hingga meninggalkan luka. Darah mengalir, semakin membanjir. Sakit semakin menghimpit, darah semakin memerah. Lelama, darah kian mengucur di sela kuku, tanpa sadar luka semakin melebar...

"Duhh,,, sakkitt...", mulut tak sadar meringis.
tangan segera menggenggam kaki, mata menyipit, lalu ada tetesan air yang mengalir.
"Sudah, jangan menangis..", Lewat mulut, tangan berucap sambil menyeka.
"Aku tak tega melihat kaki yang kesakitan begitu..."

Akal berucap, "sudah jangan sedih..."
"Tangan, bisakah kau cabut duri itu???
"Kaki semakin mengerang:"sakitt.. sepertinya aku akan mati!!"
"Jangan berkata begitu, aku akan segera mencabutnya!!" , tangan meyakinkan.
"Tapi aku tak tahan lagi, duri ini sangat membunuhku!"

"Bawa obat merah, bawa obat merah!"Mata menjawab,
"obatnya sangat jauh, tak mampu aku menggapainya.."
Akal bicara, "hei,, kaki, mampukah kau berjalan dengan sebelah saja??"
"Ya, aku mampu, tapi bisakah tangan membantu"
"Ya, aku akan mengambil kayu untuk berpegangan
"Semua disibukkan dengan peran, tak ada yang terdiam.
Namun ada sosok yang merasa terasingkan.

Akal berbicara : Maafkan kawan, setiap detikku tidak bisa melakukan pekerjaan, tapi tubuhku dipenuhi oleh fikiran
Aku Berfikir, Apa yang sehausnya terucap oleh mulut.
Aku berfikir, Kemana Selanjutnya kaki harus melangkah
Aku terus berfikir, apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya!!!

Maafkan aku kawan, aku tidak mampu bekerja
Seperti kaki yang terus melangkah
seperti mata yang terus menatap
seperti mulut yang selalu berucap
Namun disisi lain, aku hanya mampu memikirkan kehidupan kalian...
Berfikir dalam diam...

......

Bahwa organisasi bagaikan anggota badan, namun kepemimpinan tidak mampu teribaratkan. Pemimpin bukan hanya menjadi 'otak' organisasi yang menjadi sumber pemikiran, namun juga sebagai jantung yang menggerakkan!! Memompakan darah agar seluruh anggota tak mati, menstimulus gairah agar semuanya mampu bekerja dengan semangatnya. Bahwa kepemimpinan itu suatu peran yang luar biasa. Karna ia memiliki peran ganda.

Karna seringkali seorang anggota tidak mungkin mengerjakan hal terkecil yang biasa dilakukan pemimpinnya. Namun seorang pemimpin sangat mungkin melakukan hal terbesar yang telah dilakukan anggotanya. Karna seorang anggota tidak mungkin memiliki hak sekecil apapun yang menjadi wewenang pemimpinnya, namun seorang pemimpin pasti memiliki kewajiban sebesar apapun yang dimiliki oleh anggotanya. Sederhananya, hak pemimpin hanyalah menjadi bagian untuk dirinya, namun kewajiban anggota adalah tanggung jawabnya pula!!!

Mari memaknai kepemimpinan kita kawan...
Sudahkah ia berkembang, menjulang dan mampu memberikan harapan??

Jatinangor, 12 Desember 2010
(Saat kurasa, tidak terjadi hal yang seharusnya)

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Tentang Hati (Part. Laki-laki)

Sabtu, 20 November 2010

Berbicara tentang hati, berarti kita berdiskusi tentang perasaan. Setiap manusia pasti memiliki hati, karenanya sudah otomatis kita semua memiliki perasaan. Namun, sampai saat ini, terkadang kita masih sulit untuk dapat memahami bagaimana hati seseorang. Bahkan dari berbagai ilmu pengetahuan yang ada, rasanya masih sulit untuk mempelajari tentang misteri sebuah hati, itu yang saya rasakan.

Hati dan kelakuan (tingkah laku) mungkin dipelajari dalam ilmu psikologi. Namun tetap saja, bukan ilmu pasti. Ya, bagaimana tidak, setiap orang memiliki karakternya masing-masing, pantas saja sulit dimengerti.

Untuk dapat mengerti, kita perlu banyak pengalaman, turut menyertakan perasaan dari setiap perbedaan, perlu banyak belajar untuk mendengar, perlu banyak waktu luang untuk orang lain, perlu menahan ketidak-nyamanan saat orang lain berkeluh, perlu banyak hal. Pantas saja untuk mengerti seseorang sangat sulit, sangat rumit.

Tentang Hati Lelaki

Banyak wanita yang bilang kalau ternyata pada umumnya lelaki itu tidak peka. Hati lelaki itu keras, terbuat dari batu, bahkan ada yang lebih parah lagi bilang, Lelaki gak punya perasaan!! Huaahhh.... Iya gitu ya??? Sebagai lelaki saya tidak terima dibilang gt (he,,). Yah memang terkadang ada beberapa kaum adam yang kurang peka perasaannya. Namun memang begitulah adanya. Mungkin kalau benar begitu adanya, ada maksud Allah memberikan dosis "syaraf kepekaan" yang tidak terlalu tinggi, karna IA menginginkan akalnya lebih berfikir jernih agar tak mudah rapuh dibawa perasaan. Dan ini, yang menyebabkan seseorang lelaki umumnya lebih tegar dibanding perempuan. Karna kaum adam dialokasikan sebagai qawwan!

Sedikit mengungkap tentang hati lelaki :
1. Lelaki paling tidak suka dibilang bodoh akalnya dibanding buruk rupanya. Karna baginya, otak yang berisi lebih mulia dari wajah yang rupawan (Karna lelaki tidak suka bersolek ^^').
2. Rasa simpati akan meluluhkan keteguhan hati seorang lelaki. Sungguh, lelaki tak butuh simpati, tapi butuh dukungan. Jadi kalau menemukan seorang lelaki lagi lesu karna masalah yang menimpanya atau karena beban hidupnya, jangan tanya apa masalahnya lalu kau tumpahkan airmata karna iba kepadanya , tapi beri dia semangat untuk menjalaninya!! (ahh, lebay banget ini mah ^^').
3. Kalau merasa laki-laki tidak peka setelah diberi beberapa perhatian, bukan berarti ia mengabaikan. Tapi terlebih sering ia mencoba untuk memikirkan. Laki-laki memang sulit untuk merasakan, tapi kalau ada sesuatu benar-benar jadi beban fikiran.

Bersambung yah,, ^_^




Pagi Tanpa Inspirasi

Bakarlah pagi ini dengan semangat sehangat mentari.
Yang mampu menggetarkan arsy,
yang geloranya membangkitkan jiwa yang luluh dengan airmata.
Tiada kesedihan di hari ini,
karna kebahagiaan telah menanti siapa saja yang memulai berjuang di pagi ini...
Bismillah!!

Kembali berkutat dengan jejelan inspirasi yang muncul secara paksa. Merenung itu ternyata sulit juga. Setelah berfikir cukup lama, tetap tidak mendapatkan apapun untuk melanjutkan tulisan. Merajut mimpi, tak ayal hanya menjadi mimpi. Serasa pesimis untuk melanjutkan oase demi oase kata yang berujung pada kebuntuan. Setelah kemarin ada kesempatan buat nge-print dirumah, belum juga bergairah untuk dibaca. Tadinya berniat untuk mengkoreksi kekurangan kata yang ada, tapi saat ini masih saja sulit untuk melakukannya. Huufhhhh, ternyata menulis itu lebih sulit dibanding harus berkata..

Pagi ini kembali mencari inspirasi, mencoba merangsang syaraf melankolis di otak, karna biasanya lebih mudah menulis kalau perasaannya lagi bagus. Merenung, berfikir, berkata, lalu menuliskannya. Ahhh,, rasanya buntu sekali pagi ini, hingga memaksa terus menulis catatan ini agar melaksanakan target sehari minimal 2 tulisan. Ckckckk,, terlalu dipaksakan.

Ngomong-ngomong tentang keterpaksaan ada baiknya loh. Ternyata ada baiknya juga peribahasa 'paksa' dalam melakukan agenda-agenda kebaikan untuk kita.

"Jangan pernah merasa terpaksa untuk melaksanakan kebaikan dan manfaat, namun paksakanlah untuk melakukannya"

Kalau bertanya : Apa bedanya ya??
Ya jelas beda!

Bagaimana tidak, rasa terpaksa mengandung arti ada kecederungan hati untuk enggan melakukannnya, terpaksa karna paksaan dari lingkungan. Namun 'paksakanlah', bermakna dorongan dari diri sendiri untuk berjuang melawan keengganan dan kemalasan. Sehingga kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memulai kebaikan-kebaikan walau godaan syetan begitu menggiurkan. Beda kan??? ^_^

Sepertinya kita memang harus terbiasa mengganti kamus dalam hati, kembali menguatkan pondasi niat dalam dada : mengubah terpaksa menjadi paksakanlah!!! Yah, lebih baik memaksakan diri untuk senantiasa sibuk dalam kebaikan, karna kebaikan itu baik untuk kita. Ayo paksakan!! Bismillah...

Jatinangor, 20 November 2010, 7.10
(Mencoba membangkitkan motivasi yang telah lama hilang)

Jika Politik Jadi Pilihan (Bag.1)

Rabu, 17 November 2010

Hah,, sepertinya melihat potret keseharian bangsa tak ubahnya seperti melihat sejarah kelam dari masa yang semakin suram.Kondisi tanah air yang memilukan. Jadi rindu dengan Rasulullah, rindu dengan perjuangannya yang mampu merubah situasi jahiliyyah menjadi ilahiyyah. Memutar 180 derajat peradaban kearah kemuliaan zaman. Andai saja sosok beliau ada yang meneladani saat ini, pasti langsung ditunjuk menjadi pemimpin di negri ini cukup dengan aklamasi. Namun, realita menyadarkan bahwa kita hidup jauh ratusan tahun dari zaman nubuwwah. Yah,, hanya bisa berharap saja.

Mari kita berkaca akan potret bangsa. Tak ubahnya lotre pacuan kuda, semua partai berlomba duduk di bangku kekuasaan. Mungkin dengan berbagai cara, baik yang halal ataupun yang haram bukan menjadi pilihan, semua dianggap hal yang wajar untuk diusahakan. Dana Kampanye tidak lagi mengenal uang haram ataupun halal, yang dikenal hanya dua mata uang : yang asli atau palsu. Selagi uang itu asli, ya berarti bisa digunakan untuk apa saja, yang penting bisa menang pada pemilu.. Hmmm,, begitu ya.

Berada pada bangku kekuasaan, ibarat berada pada lingkaran setan. Mereka yang berhati suci, terkadang mudah terpengaruh dan terkotori. Suap sana, suap sini. Semua hati, apalagi nurani sudah tertutupi oleh ambisi pribadi. Motivasi membangun negri, akhirnya terkubur kaku tergantikan untuk membangun rumah sendiri. Soal gaji, silakan dinikmati. Kalau kurang fasilitas, tinggal mark up anggaran buat kesejahteraan anggota dewan.. Mahkota menjadi dewa, Nafsu dunia semakin merajalela. Ah,, gila memikirkannya. Jadinya buat apa memikirkan kekuasaan, kalau malah menjerumuskan kita pada kehancuran...??

Sejujurnya, sampai saat ini saya masih pesimis dengan semua partai politik yang ada, termasuk parpol dengan embel-embel partai islam. Semua ditunggangi dengan kepentingan golongan. Mau bukti?? silakan analisa lebih dalam.. Kalau dalam masalah furu' dalam ibadah bolehlah kita berbeda, karna memang ada perbedaan dalam pemahaman mazhab dan sebagainya. Tapi kalau masalah politik bangsa, apakah kita juga memilih untuk berbeda? lalu sampai kapan umat ini akan bersatu membereskan permasalahan bangsa? Kalau untuk menyatukan suara dalam 'kampanye kebaikan' kita tak ada satu suara yang sama?

Saya jadi sering bertanya-tanya pada para pemuka politik muslim : Sudahkah mereka mencoba meyatukan visi misi dan langkah untuk bergerak bersama dalam kancah pemerintahan? Atau mereka memang benar-benar hanya membawa misi dan ambisi golongan? Bukankah strategi politik rasulullah dahulu juga menyatukan muhajirin dan anshar?? Lalu mengapa kita selalu memilih berjalan sendiri-sendiri, seakan mereka bukan saudara-saudara seiman kita?? seakan mereka tak memiliki visi dan misi yang sama? Atau memang begitu adanya???

Entah kepentingannya apa, entah pertimbangannya apa. Sampai saat ini saya benar-benar tak dapat mencerna apa yag mereka perjuangkan dari dakwah ini. Hingga saya mengamini bahwa semuanya tidak ada yang benar-benar berjuang untuk rakyat. Masa pemilu dijadikan obral janji, setelah terpilih, eh malah bikin sakit hati. Begitulah mentalitas pemimpin negeri ini, semua pandai berdongeng, apalagi membuat rekayasa politik dan sosial untuk mengelabui rakyat. Sudah pendidikan masyarakat tidak begitu memadai, malah dibodoh-bodohi.


Sebagian besar dari kita setuju berpendapat, saatnya islam menguasai tampuk kekuasaan. Demi dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Dakwah siyasi harus segera digulirkan melihat kondisi bangsa yang semakin termakan oleh ahli thagut dan syetan. Korupsi merajalela, hukum ibarat permainan penguasa. Tak ada yang benar-benar baik di negeri ini. Namun, apakah semua permasalahan bangsa dapat terjawab sebelum kita sama-sama menyatukan langkah?

"Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."

Tulisan ini pun saya yakin tidak menjadi solusi, mungkin malah tambah bikin sakit hati. Biarlah, hanya sebatas meluapkan perasaan diri sendri. Entah benar atau tidak, suka atau tidak. Biarlah semua memiliki pandangannya masing-masing. Mudah-mudahan kedepan kita semua dapat menyatukan pandangan, sehingga tak ada kabut lagi yang menutupi kebenaran. Wallahu 'alam.


Jatinangor, 21 Juli 2010
(Saat politik terlihat membusuk oleh ketamakan)


Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah Bag.2

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kalau saja waktu bisa dibeli, Betapa saya ingin membeli waktu milik orang-orang yang menganggur itu. Agar semua menjadi 'amal yang muntijah (produktif) dalam dakwah. Karena, alwajabat aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia.."(Hasan Albana)

Huffhhhh,, mungkin itu helaan panjang yang sudah menjadi kebiasaan. entah sampai kapan kita mampu menyelesaikan. Semakin dikerjakan sepertinya bukannya semakin berkurang, tapi kian bertambah bahkan berkali lipat bebannya. Ya, karna kita mengerjakannya semakin detail, semakin kita mengetahui bahwa ternyata masih banyak yg kurang dari perencaan awal.

Sepakat dengan perkataan Hasan Albana : Al wajabat Aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yg tersedia. Allah menganugerahkan kepada kita dengan begitu banyak kewajiban yang harus kita selesaikan, terlepas dari penting atau tidaknya kewajiban itu untuk kita tunaikan. Tapi bukankah kita beramal karna memang membutuhkanya. Sungguh, kita butuh menunaikannya sebagai bekal untuk pemberat kebaikan di akhirat.

Kelelahan seperti rasa yg haram untuk dirasakan sepertinya. Ketika kita sungguh2 berniat untuk mengejar kesempurnaan amal. Produktivitas waktu, itu yang perlu kita tuju. Bukankah dalam surat Al Asr, Allahpun menyebutkan bahwa pada dasarnya kita memang merugi, kecuali orang2 yang memanfaatkan waktunya umtuk beramal sholeh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran???

Jadi untuk masalah waktu, sepertinya kita tak perlu menggerutu. Mengapa Allah memberikan keterbatasan waktu pada kita, bukan bertujuan untuk melihat seberapa bisa kita menyelesaikan semua kewajiban2 kita, tapi bertujuan untuk menilai bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk berjuang dalam menunaikannya..(itu menurut saya, entah bagaimana dengan anda).

Untukkmu yang diburu waktu... Bersabarlah, waktu memang selalu mengejar kita Mengejar agar kita tidak menyia-nyiakannya. Karna begitu banyak kewajiban yang harus kita tunaikan. Begitu banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Begitu banyak harapan yang harus kita perjuangkan. Selagi Tuhan masih memberi kita waktu untuk berdiri dan berlari Maka jangan sia-siakan waktu yg tersisa saat ini. Karna esok belum tentu ada waktu lagi untuk menanti


Untukmu yang tak kenal lelah,
Semoga Allah mengganti setiap tetesan peluhmu dengan airmata Syurga....

Jatinangor, 23 Oktober 2010, 06.07.51
(Saat mencari motivasi yang hilang)

Bila Badai kan Datang (Part.I)

Minggu, 17 Oktober 2010

Malam semakin pekat, hujan semakin deras, getir kian menyambar, dan kilat mengerjap cepat. Badai akan tiba, tapi apakah kita mampu bertahan melewatinya? Saat-saat yang tidak diinginkan akhirnya tiba, menguji seberapa kuat keyakinan dan kekuatan kita. Mungkinkah akan bertahan lama, atau hanya ada satu helaan nafas yang tersisa??
Badai datang lagi. lagi-lagi. Entah mengapa saat ini ia sering menyapa. Membuat sedikit kekacauan yang merusak ketenangan. Sampai kapan ia tetap disini, mengganggu dan mengusik kehidupanku. Mungkin juga mengusik kehidupanmu. atau juga mengganggu kehidupan kita. Namun harus disadari, badai tak datang dengan niatnya sendiri. Mungkin ada 'api' yang mematiknya datang kesini.

Hujan tak kunjung berhenti. Tanda ada kesedihan lagi di hari ini. Seakan semuanya berubah rona menjadi pilu, sehingga kita semua begitu mudah untuk menggerutu. Mungkin bagi banyak orang hujan kali ini tak cukup berarti, tapi bagi sebagian yang lain cukup memberikan arti. Mungkin karna hujan memberikan pengharapan, atau bahkan sebaliknya : menimbulkan kebencian. Deras yang terus mengalir membuat banjir. Seakan ingin mengubur kaki hingga perih. Namun bagi saya, sebatas takdir yang tersiklus apa adanya. Entah berarti atau tidak, tapi Tuhan telah memberikan nikmat begitu banyak bagi makhluknya. Begitu banyak, sehingga kita begitu lupa dan sering mendustakannya.

Badai saat ini, kian menjelma bagai raksasa. Meluluh lantakkan siapa saja yang berani melawannya. Mugkin sedikit orang yang berani menghadapinya. Mungkin memang jangan coba berfikir untuk melawannya. Karna mungkin kita akan terbawa hanyutnya. Atau mungkin memang kita terlalu sering terhanyut oleh arus yang kita ciptakan dengan sendirinya.

Entah kalian mengerti atau tidak, tapi ini yang saya rasakan saat ini.

Jatinangor, 17 Oktober 2010, 20.57
Dalam kebisuan malam.

Memaknai Cinta Part.4 : Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Sebenarnya apa yang memotivasi kita untuk mencitai seseorang??
Sebatas kita memerlukan perhatian manusiakah??
Atau sebatas menjelmakan perasaan kita?
Setiap orang memiliki motivasi tersendiri untuk mencintai orang-orang yang dikasihi. Cinta memang sebuah anugrah yang tak dapat kita bantah. Adalanya ia hadir tanpa diundang, ia datang tiba-tiba, dan hilang dengan seenaknya. Cinta sebagai sebuah bentuk perasaan, terkadang mudah luntur dan hilang. Ketika ia ingin senantiasa kita pertahankan, maka butuh motivasi yang kuat sebagai landasan. 'Latar belakang sejarah' perasaan kita, harus dapat kita manajemen dengan baik. Sehingga kita tidak tertipu dengan rasa yang semu. Mungkin bagi beberapa orang, mencintai adalah hal yang sederhana. Tak perlu banyak berfikir, karna fikiran yang mengikis perasaan. Tak perlu menetapkan tujuan, biarlah ia mengalir begitu saja. Menikmati dalam ketidakjelasaan status ataupun hubungan. Tapi bagi orang-orang yang menjadikan cinta sebagai kekuatan, ia akan terus berjuang untuk memahami lebih dalam rasa cinta yang dimilikinya.

Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Alangkah indahnya, ketika cinta yang kita miliki adalah cinta yang bervisi. Cinta yang tumbuh karna kekuatan iman, bukan sebatas cinta yang terlegalkan dengan pernikahan. Cinta yang bervisi mengantarkan kita pada banyak kebaikan. Sebaliknya, cinta yang tak berorientasi hanya akan menimbulkan kepedihan , kekecewaan, sakit hati, bahkan kehancuran. Banyak orang yang terjerat oleh perasaan, dan berubah drastis ketika menemukan cinta yang tak sengaja dapat ia rasakan. Ya, cinta membuat segalanya berubah. Ada yang berubah menjadi lebih baik, sangat banyak yang merubah seseorang menjadi lebih buruk. Sungguh, cinta merubah segalanya.

Contoh sederhananya, adalah saat cinta menjadi pondasi dalam membangun keluarga. Saat cinta suami kepada istri hanya didasari atas dasar perasaan suka, maka suatu saat, ketika suami menemukan cela yang ada pada istrinya, maka perasaan suka itu semakin terkikis habis. Semakin hari, semakin dalam ia mengetahui akan kekurangan yang istrinya miliki. Alhasil, mungkin ketika cinta kian terkikis, maka benih-benih perceraian semakin dekat untuk dijadikan sebagai pilihan (Naudzubillah).

Namun, berbeda dengan orang yang melandaskan cinta dengan iman. Seberapapun cela yang ada pada pendamping hidupnya, ia akan terus mempertahankannya. Ia akan mencoba saling menasihati dan memperbaiki diri, agar kelak keturunan yang dilahirkan lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Karna Cinta Adalah ibadah, yang dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Ketika kita mencintai manusia, pada hakikatnya kita sedang mencintai sang Pencipta.Maka ketika cinta ternyata menjauhkan kita dari-Nya.Ketika cinta membuat kita bermaksiat pada-NyaKetika cinta bahkan membuat kita lalai untuk mendekat pada-NyaTanyakan pada diri kita : Siapakah gerangan yang sedang aku cinta???

Jikalau harus memilih :
Lebih baik mencintai seseorang atas dasar iman, daripada dicintai banyak orang dengan kemaksiatan...

Rabb, pertemukan kami dengan orang-orang yang senantiasa Mencintai-Mu.
Yang tak pernah padam Cinta-Nya karna Iman dihatinya.
Yang menjadikan cinta pada makhluk sebagai wujud Cintanya pada-Mu.

Rabb, biarkan kami belajar untuk dapat mencintai.

Karna Cinta yang menguatkan kami

Karna Cinta yang membuat kami masih berada disini.


Jatinangor, 2 Oktober 2010. 19.18.00

Tentang Keluarga (Part.1) : Jika Keluarga Dipandang Sebelah Mata

Selasa, 21 September 2010

Sebelum mengarungi samudera hidup, ada kalanya kita diharuskan untuk menyamakan tujuan, sehingga saat badai datang, tak ada lagi kebimbangan dalam menentukan arah. Semua awak adalah nahkoda kapal, yang sama-sama berjuang untuk menyelamatkan hidupnya sampai tujuan. Jika salah seorang awak mulai bosan dengan pelayaran yang menjemukan, maka nahkoda-lah yang mengingatkan bahwa lelahnya perjalanan menunjukkan dekatnya kita dengan tempat tujuan. Semua saling mengingatkan, tak ada yang pantas duduk dengan lega disaat semua orang disibukkan dengan ancaman yang membahayakan. Hanya saja peran selalu mempengaruhi siapa yang patut untuk dijadikan teladan... Bijaksanalah dalam melihat kondisi dan keadaan, disitulah sebenarnya waktu yang tepat untuk menentukan siapa nahkoda yang sebenarnya...

Jemari seakan memaksa saya untuk menulis catatan tentang tema ini. Sebentar,, sebelum beranjak lebih jauh perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa motivasi saya dalam menulis tema ini semata-mata karna saya mendapatkan inspirasi sederhana dari jalan kehidupan yang saya amati dekat-dekat ini, dari berbagai kisah yang saya temui. Bukan karna pengalaman, atau termotivasi untuk mendorong teman2 atau diri saya sendiri untuk enggan atau ingin menikah secepatnya.(^^')Dari sebuah radio muslim saya mendengar kajian tentang keluarga. Ada kata bijak yang terucap dari mulut seorang ustadzah saat itu :

"Salah satu bencana dan malapetaka terbesar dalam keluarga adalah saat seorang suami tidak mampu menjadi imam, dan seorang istri yang tidak mau menjadi makmum"

Naudzubillah, mungkin bukan barang langka lagi sepertinya, kita seringkali melihat kondisi keluarga dalam masyarakat yang sudah jauh dari etika dan norma sebenarnya. Bukan hanya di sinetron-sinetron yang banyak di tayangkan di layar kaca saja, mungkin kita juga sering melihat bagaimana kondisi di masyarakat sekeliling kita, tetangga, atau bahkan dalam keluarga kita sendiri, bagaimana keadaan rumah tangga yang tidak harmonis, bahkan cenderung ke arah kehancuran. Hubungan suami-istri yang tidak baik, perceraian, penganiayan dalam rumah tangga, anak yang tega membunuh ibunya, atau sebaliknya.

Ya, beginilah kalau menikah hanya dijadikan sebagai perubah status sosial belaka, saat kita tidak memiliki tujuan yang jelas bahwa menikah juga berfungi untuk membangun keluarga, membangun masyarakat, bahkan membangun bangsa yang dilandasi dari pondasi-pondasi dalam keluarga, dilandasi oleh pondasi agama yang kuat. Saat menikah hanya dijadikan sebagai kebutuhan manusiawi, bukan semata-mata berniat untuk menunaikan kewajiban sebagai insan manusia yang taat beragama. Saat menikah hanya didasari atas nama cinta, tanpa iman, tanpa kekuatan untuk senantiasa menjaga kesucian. Saat menikah ibarat barang dagangan yang diperjual belikan, dimana adakalanya kita bosan, ada kalanya kita tidak membutuhkan.

Ironis memang, bagaimana cita-cita masyarakat selama ini belum utuh memandang sebuah ikatan keluarga yang seharusnya dapat merubah peradaban bangsa, bahkan dunia. Jelas rasanya, penyebab kehancuran bangsa ini, bermula karna kehancuran keluarga dalam setiap tananan masyarakat yang mendukungnya. Kita sudah sama-sama mengamini bahwasanya pendidikan yang paling efektif berada dalam lingkup keluarga. Bagaimana seorang ayah dan ibu dapat bekerja sama untuk mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi pribadi yang baik. Lalu bagaimana keadaannya, jika kedua pimpinan dalam keluarga ini tidak dapat gotong royong untuk bertanggung-jawab memikirkan masa depan anak-anak mereka???

Sungguh, tanggung jawab orangtua sangat memiliki kendali yang besar dalam masa depan, dan kebaikan anak-anak mereka. Seringkali permasalahan dalam keluarga tidak dapat kita selesaikan dengan bijak, sehingga berdampak kepada semua anggota keluarga. Perlu adanya pembagian peran yang jelas, rasa percaya, perhatian yang intens agar semuanya berjalan dengan baik. Berkeluarga menjadi ujian organisasi dalam lingkup yang kecil, namun berdampak global dalam tatanan kehidupan.

Maka pikirkanlah matang-matang apa yang kita cita-citakan dari kelurga sederhana kita. Apa prestasi yang ingin kita raih bersama-sama??

Keluarga yang sakinah selalu mengantarkan kita dalam ketenangan jiwa seberapapun menderitanya kita

Keluarga yang mawaddah, selalu menghantarkan kita pada cinta antar sesama, berapapun banyaknya alasan kita untuk membencinya

Keluarga yang warahmah, selalu membuat diri kita terketuk untuk memberi, berbelas kasih, dan mengorbankan apa yang kita miliki

Kemudian ketiganya seakan menyatu, berpadu, dan terdispersi begitu indah, lalu wanginya tercium semerbak Syurga...

Quu Anfusikum wa ahlikum naara...


Keluarga Yang Diimpikan

Cita-cita seorang ayah

“Laki-laki adalah wujud manusia yang tak pernah nyaman jika ada hal tak mengenakan dan diluar kebiasaan. Dan seorang ayah adalah peran yang cocok untuk memperbaiki segalanya. Membuat segalanya menjadi lebih baik, teruntuk keluarga tercinta”

Bagaimana Seorang Ibu??

Seorang wanita yang kuat selalu melahirkan anak-anak yang hebat. Generasi penerus seakan hanya bercokol pada kemuliaan ibu mendidik anaknya. Sangat berpengaruh besar untuk merubah manusia dan peradaban.Seorang wanita yang baik selalu berusaha menjadi istri yang sholehah, menjadi pendidik yang baik bagi anak-anakanya, dan bermanfaat untuk keluarga.

Seperti apakah Seorang Anak?

Anak adalah mutiara bagi kedua orangtua. Mutiara yang tidak akan pernah tergantikan oleh kekayaan harta, maupun tahta. Maka seorang anak yang baik akan berusaha agar hidupnya senantiasa bernilai. Bukan hanya menjadi objek pendidikan bagi kedua orangtua, tapi turut serta pula dalam membangun keluarga yang sakinah.


Jatinangor, 21 September 2010

(Saat begitu Banyak Makna yang Belum dapat saya Fahami)

Dua Hati yang Berlabuh

Minggu, 19 September 2010

Antara Hati dan Rasa

Banyak orang yang bilang, "Hati lelaki terbuat dari batu, hati wanita terbuat dari salju"..

Tidak sedikit orang yang bilang : "Cowo mah gak peka, gak punya perasaan"

Sebagian orang mengaminkan : "Wanita terlalu perasa, sensitif, gak logis!"

Semua orang sering berbicara tentang perasaannya,

tanpa mau merasakan, apa yang orang lain rasakan.

Tuhan membuat hati lelaki keras membaja, karna ia ingin menciptakan manusia yang teguh dan tangguh.

Ia membuat hati wanita lebih lembut dan perasa, karna dari hati seorang wanitalah tumbuh kasih sayang kepada anak2nya.

Tidak ada yang pernah salah, dari Hati yang Allah ciptakan berbeda.

Batu, untuk menguatkan, salju untuk melumatkan kasih sayang.

Sungguh, hentikan paradigma kita antar sesama manusia.

Karna Hati bisa merasakan, akal bisa mencerna.

Tanpa Hati, akal menjadi angkuh

Terlalu gagah untuk tidak meneteskan airmata.

Tanpa akal, perasaan melemah

Mudah terbawa kondisi yang ada

Maka buatlah hati kita seperti salju

ia lembut, namun begitu kuat ketika tergumpal menjadi batu.


Tidak Selamanya Batu itu Keras!!

Seorang Ayah terpekur di atas kursinya. Tetesan Keringat membanjir dari balik bajunya. Bau terik matahari masih tercium, kotoran lumpur, dan basahnya limbah menempel di celana. Sekedar melepas lelah, ia menarik helaan nafas beratnya. Kuatnya hirupan nafas pertanda sangat lelah, dan ingin segera beristirahat secepatnya. Kalau saja tidak teringat akan anak dan istrinya, rasanya ia ingin melabuhkan diri sejenak, beristirahat dari usianya yang sudah merenta. Pekerjaan sebagai buruh pabrik dengan jam kerja siang sampai larut malam cukup membuat rontok sendi tulang belakangnya.Namun Terkadang keluarga yang membuat kita kuat, bagaimanapun keadaannya.

"Pak, makan dulu. Sudah Ummi siapin di Meja. Maaf, cuma ada lauk seadanya".

"Anak-anak sudah makan bu??"

"Belum pak, tadi anak-anak nunggu bapak pulang, eh malah pada ketiduran. Padahal tadi mereka ribut kelaparan"

"Bapak kayaknya kecapean, istirahat dulu aja pak. Nanti malah sakit lagi"

"Nggak bu, cuma butuh rehat sejenak aja. Masih ada proyekan yang belum selesai. Kayaknya malam ini harus menginap di pabrik bu".

"Bapak, sudah biar ibu aja yang menggantikan bapak bekerja. Kemarin dapat tawaran buat nyuci baju di tetangga sebelah. Sudah waktunya bapak istirahat"

"Sudah ga usah perdulikan bapak! Bapak ga perlu perhatian dari ibu, lebih baik urus saja anak-anak dan ibu sendiri!"

Ada tetes yang tak biasa mengalir.

Seakan getir menyambar hujan yang turun gemetar. Memecah syahdu rintikan air yang mengalun merdu. Suara yang terdengar lantang seakan menusuk. Ucapan akan ketidak butuhan dengan keluarga terkadang diyakini secara emosinal sebagai tindakan acuh dan ketidakpedulian. Seorang ayah tau, tak pantas rasanya membentak atas perhatian yang istrinya berikan. Tapi sungguh, dalam lubuk hatinya ia tak bermaksud melukai perasaan istrinya. Hanya mencoba untuk berlaku keras, agar istrinya dapat menaati pengorbanannya. "Tidak usah perdulikan aku" dapat diterjemahkan sebagai "Aku tak mau merepotkanmu". Tapi kata tetaplah kata, salah bicara dan nada, ia akan merobek dan membuat nanah di lubuk hati seorang wanita.

Sebagian lelaki memang tidak pandai mengungkap perasaannya. Sebagian mereka terkadang memilih cara yang keras untuk menunjukkan perhatian. Ada hal yang sangat mendasar yang sangat membedakan ciri khas komukasi wanita dan lelaki pada umumnya. Untuk seorang Lelaki, lebih memilih diam ataupun pura-pura acuh ketika ia tidak menemukan cara untuk mengungkapnya, kemudian melupakannya atau memilih cara yang keras tanpa berfikir panjang, dan berkata apa adanya. Seorang wanita lebih cenderung diam dan menahan perasaan, menangis, dan menikmati penderitaan dari sakitnya perasaan. Banyak dari mereka yang tidak mamapu berkata jujur, tak bisa melupakan, dan terkadang bertambah besar ketika semakin tak tertahankan.

Hati-hati mengungkap hati,

Karna ia banyak menyimpan sebuah misteri

Dari rasa, materi yang tak pernah nyata.


Jatinangor, 18 September 2010

(Tengah Malam : Saat sangat sulit memahami hati sendiri)

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.