Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Renungan : Untuk mereka yang memiliki keluarga

Sabtu, 30 April 2011

Ini sudah beberapa kalinya seorang akh, pulang larut malam. Rutinitas yang padat membuatnya lupa akan hak keluarga akan dirinya, sekaligus kewajiban ia atas mereka. Ini sudah menjadi bilangan yang tak terhitung jari lagi, ketika banyak urusan dirumahnya, tak mampu ia selesaikan dengan bantuan dan uluran tangannya. Membayar listrik, mencuci piring, beberes rumah, bahkan sekedar untuk mencuci baju miliknya. Alasannya klise, masih dengan dalih : sibuk dengan rutinitas kuliah dan organisasi. Padahal ia tahu - ibu dan ayahnya adalah 'orangtua karier' yang sibuk untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga. Pergi subuh hari, pulang larut malam. Mereka tak akan sempat mengurusi lagi seabrek pekerjaan rumah yang menumpuk. Bahkan meskipun itu menjadi tanggung-jawab mereka - maka dipastikan kewajiban itu telah gugur seketika. Seharusnya, pekerjaan rumah tangga seperti ini menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Bukan kewajiban para orangtua.

Sepertinya ada yang salah pada diri kebanyakan aktifis dakwah. Seorang yang biasanya mengaku taat mengaji dan haus akan ilmu agama. Seorang yang katanya sangat disibukkan dengan memikirkan umat. Yang katanya generasi "Rabbani" dengan modal tarbiyah di liqo-liqo yang menjadi rutinitasnya. Sangat disayangkan, jika kondisi pada lingkup terkecil di keluarganya, tak mampu ia benahi dengan baik. Kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggungannya tak mampu ditunaikan, dan sibuk memberi manfaat diluar. Di tempat yang kadangkala ia tak kenal.

"Khairunnas, anfa'uhum linnas", mungkin dalih ini yang membuat kita lupa akan kehadiran dalil : "Quu anfusakum wa ahliikum naara"....

Ketidak-seimbangan kita pada keluarga terkadang membuat ketidak-adilan kita atas mereka - yang sebenarnya sangat berhak atas diri kita. Sejenak coba kita introspeksi, seberapa banyak waktu kita, disibukkan dengan aktifitas 'dakwah' ataupun organisasi??? Bandingkan dengan seberapa sering kita disibukkan dengan pekerjaan rumah : mencuci baju, menyapu rumah, membantu orangtua, dan berbagai hal lainnya??? Lalu bandingkan, seberapa sering kita memberikan mentoring keislaman, motivasi, sms-sms tausiyah kepada sahabat dan kerabat kita? Lalu bandingkan, dengan seberapa sering kita memberikan semua perhatian itu kepada anggota keluarga dan saudara-saudara kita??

Belum lagi adanya beberapa fenomena yang memprihatinkan. Ketika banyak saudara mereka - yang katanya saudaranya aktifis dakwah, sangat jauh dari nilai-nilai keislaman. Sebagian dari mereka, ada yang menjadi pecandu, ada yang terjerumus aliran sesat, ada yang gemar melakukan kemaksiatan. Jika ditanyakan, bukankah ini tanggung jawab kita sebagai orang yang terdekat dengan mereka??? Mungkin saat itulah kita baru tersadar, bahwa begitu banyak kewajiban-kewajiban yang sangat dekat dengan kita yang terabaikan. Tidak sedikit dari kita, lebih memilih untuk sibuk di organisasi dibandingkan disibukkan dengan 'pekerjaan rumah' sendiri.

Begitulah fenomena-fenomena 'unik' yang seharusnya tidak terjadi. Mudah-mudahan hal ini-pun menjadi tausiyah untuk diri sendiri. Karna sangat diakui, tulisan ini sangat terinspirasi atas cela yang dilakukan selama ini. Semoga menjadi motivasi kita untuk memberi kesegaran dengan kehadiran kita di sekitar mereka. Ingatlah, pepohonan akan selalu meneduhkan tanah gersang dibawahnya, dan buahnya akan jatuh tak jauh disekitarnya. Bukankah itu hakikat dari perumpamaan pohon iman? Jika manisnya buah, hanya mampu dikecap oleh tetangga. Maka apalah artinya pohon yang tertanam subur di pekarangan??

Jatinangor, 29 April 2011 -19:04:54
(Kutitipkan untuk mereka yang memiliki keluarga : karna kita pasti memilikinya dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka)

Catatan Perjalanan Dakwah : Untuk Mereka Yang Penuh Kecewa..

Senin, 04 April 2011

Akhi, ukhti, afwan...

Memang benar dan harus kita akui. Bahwa iman kita tak sekuat nabi dan para sahabat. Namun pantaskah alasan itu selalu dijadikan pembenaran dari semua kelalaian dan kesalahan kita? Bukankah malah sebaliknya, seharusnya kita banyak belajar dari mereka. Karna kita berada di zaman yang berbeda, dan tentunya, ujian kita-pun tak sebanding dengan ujian yang menghantam para nabi dan sahabat terdahulu.

Ya, ketika para sahabat benar-benar mengorbankan nyawa-nya demi tertegaknya al-islam, bagaimanakah diri kita? Akankah kita merasa cukup mensudahi amalan dakwah ini hanya karna secuil ujian perasaan?? Merasa cukupkah kita diuji, karna seucap kata hinaan dan setitik belenggu kekecewaan???

Sahabat, seorang nabi yang mulia, yang akhlaqnya telah di-patenkan untuk dijadikan suri teladan - masih mengalami cercaan, hinaan, sumpah serapah, dikatai gila, busuk, penggila wanita, dan hinaan yang sangat tak pantas lainnya. Ya, hinaan itu bukan semata-mata pantas ditujukan padanya. Karna kemuliaan akhlaqnya, bahkan tak sanggup terlukiskan dalam bait-bait pujian.

Bukankah semua hinaan itu sangat-sangat lebih menghinakan dibanding sekata hinaan yang ditujukan pada kita. Ya, pada kita, yang memang penuh lumpur dan debu karna dosa yang sering kita lakukan. Pada maksiat-maksiat yang seringkali tidak kita sadari. Sungguh, sungguh sahabat. Jika ditakar semua hinaan itu, dan dibandingkan dengan akhlaq kita yang sebenarnya, bukankah menghasilkan neraca yang setimbang??

Sahabat, Ketahuilah kita semua memiliki kecenderungan untuk kecewa. Saat itu pula, begitu banyak orang yang menahan kekecewaannya pada diri kita. Namun lihatlah mereka!! Mereka yang tetap tegar bersama kita, mereka yang tak pernah mengeluhkan kekecewaan, mereka yang terus menutupi perasaan. Bukankah mereka lebih baik dibandingkan kita yang selalu saja menampilkan kekecewaan?? Seakan-akan kita telah memberi segalanya pada jalan ini, pada agama dan Tuhan!!. Dan mereka, hanya memegang peran tambahan yang tak pantas menuntut kekecewaan pula pada diri kita??

Sahabat, ketahuilah.. kekecewaan kita adalah rekayasa syetan yang mencoba menjerumuskan kita ke jalan ke-futuran. Yang tak akan lebih, ujungnya selalu berlabuh pada kesesatan...

Padahal disisi lain, tahukah kau??
Tahukah bahwa ada orang-orang yang rela berjalan kaki hingga sampai ke tempat liqo-an. Bahwa ada diantara kita yang menyisihkan separuh uang bulanannya sekedar untuk menutupi kebutuhan dakwah . Bahwa ada diantara kita yang memaksan hadir syuro walau dirinya sedang sakit dan sangat butuh istirahat.

Tahukah kita?? Pernahkah kita melakukannya? Atau hanya sekedar merasakan apa yang diperjuangkan saudara-saudara kita di luar sana? Namun diri kita belum pernah berjuang seperti layaknya mereka yang berjuang melebihi batas kemampuannya?

Sahabat, sejujurnya. Jika kita merasa kecewa, bahkan ingin pergi dari jalan ini, fikirkanlah.. Berapa banyak para syuhada yang merelakan harta dan jiwanya. Dan kita disini, cukup merasa puas dengan meluangkan waktu senggang saja...

Tahukah sahabat.. sejujurnya tak ada alasan untuk kita untuk berlama-lama dalam kondisi penuh kata kecewa. Tahukah kau, saat amarah ini ditahan untuk sekedar menjaga ukhuwah, saat terpaksa tersenyum kecut walau tersakiti, saat begitu banyak pengabaian atas semua perhatian, saat belum benar-benar tersadar akan semua tanggung jawab, ketahuilah saat itu pula banyak sahabat-sahabatmu yang merasa serupa denganmu. Kecewa, sakit hati, lelah di jalan ini. Ya semua merasakan hal yang serupa. Namun bedanya, mereka tetap tegar menjalaninya.

Buktikanlah, bahwa kekecewaan yang kita rasakan tidak akan pernah menjadi alasan untuk berpaling dari jalan ini karna merasa kelelahan. Namun kekecewaan ditujukan agar dapat dijadikan pembelajaran untuk perbaikan...

Sahabat, aku-pun tersadar.Ketika banyak yang kecewa, seringkali dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan biasa. Saat kita terbiasa mengklaim bahwa jamaah ini adalah kumpulan manusia, bukan jamaah malaikat ataupun nabi. Hingga menganggap lumrah kelalaian dalam kepemimpinan. Ini-pun sama salahnya. Bedanya, alasan yang terdahulu untuk para jundi-jundiyah, dan alasan ini menjadi alasan para qiyadah...Naudzubillah!!

Jatinangor, 4 April 2011 - 12:27:45

Perjuangan ini tak lagi berarti

Selasa, 30 November 2010

Mungkin imanku sedang compang-camping...

Saat aku merasa apa yang ku lakukan bukan menjadi amal baik yang harus dikerjakan. Saat amanah yang membebani pundak ini, terasa begitu berat, membuat sesak. Saat tak ada lagi semangat dan azam yang melekat. Saat hanya ada kekecewaan yang terus kurasakan. Saat berkorban bukan kuanggap sebagai sebuah keniscayaan. Saat semua ini kurasa sia-sia, untuk diriku, untuk dakwah, bahkan untuk agama ini..

Lalu syetan menggoda-ku dari arah yang tak kukira. Ia bisikkan ku dengan kemalasan, lalu aku merasa nyaman. Lalu ia menggodaku dengan kesibukan pribadi, akupun menurutinya. Kemudian akupun lupa atas segala kewajiban yang belum sempat kutunaikan.

Lalu aku menganggap bahwa diriku adalah manusia biasa. Manusia biasa yang tak bisa luput dari dosa. Dan menganggap wajar kelemahan imanku. Akupun sering memaklumi setiap kelalaian demi kelalaian selama ini. Dengan dalih wajar, sangat wajar....

Lalu ku berdalih kecewa untuk meninggalkan semuanya. Ku meneriakkan beribu kebenaran, walau hati tak mengakuinya. Pembenaran demi pembenaran hanya kujadikan alasan untuk lari dari keadaan. Akupun ingin hidup tenang tanpa tuntutan...

Mungkin aku kehilangan orientasi....

Saat menunaikan amanah bukan menjadi prioritas fikirku. Saat meluangkan waktu untuknya tak cukup berarti bagi kebaikan diriku. Saat kerja keras dan pengorbanan hanya ada dalam cerita-cerita kepahlawanan. Dan disini, keadaannya biasa saja. Tanpa akupun semuanya akan baik-baik saja. Aku mengabaikannya, tak ada keburukan yang tercipta. Saat aku mengerjakannya, tak ada yang berubah. Hanya pekerjaan dunia yang tak cukup berharga. Tak cukup menebus pahala walaupun sebelanga.

Mungkin akupun berharap dihargai

Saat kerja-kerjaku tak dihargai, walau akupun tak berharap untuk diapresiasi. Saat mereka hanya menuntut kesempurnaan kerjaku. Padahal nyatanya, mereka pun tak memberi apa-apa untukku. Semua Kerjaku seakan ada celanya, selalu ada kekurangannya. Saat mereka diminta untuk membantu, mereka hanya menasihati agar aku berjuang dulu untuk menyelesaikannya. Dengan dalih demi kedewasaanku.

Tak pernah ada satupun perhatian mereka padaku. Saat kucoba melakukan segalanya untuk mereka, seringkali diabaikan. Cuek, tanpa perhatian. Saat kutanyakan apa saran dari mulut mereka, selalu berdalih akan difikirkan. Atau saat kutanya apa kabar mereka, tak pernah ada balasan. Saat kucoba berbuat banyak untuk mereka, tak pernah ada tanggapan. Bahkan seringkali mereka membalasnya dengan ketidakhadiran. Ahhh, rasanya segala kerjaku tak lagi mereka butuhkan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dan tak mau peduli.

Mungkin ego-ku terlalu berlebih....


Saat aku merasa lebih baik menyendiri. Mengabaikan amanah, lalu hilang pergi. Saat ku lebih memilih untuk mengabaikan uluran tangan meraka saat berjuang merangkulku. Saat ku pilih diam dan membisu atas pertanyaan apa keluhku. Saat ku tak lagi perdulikan mereka atas semua yang tercurahkan padaku. Lalu berkata dalam hati : Apa urusanmu?

Aku selalu berfikir : ternyata aku hanya menjadi orang yang dimanfaatkan. Terbukti saat mereka hanya menghubungiku saat butuh. Terbukti saat hanya ada waktu mereka bersamaku saat dituntut untuk bekerja. Terbukti saat semua pertanyaan yang mereka ajukan adalah tanya atas penyebab kelalaianku. Sungguh, mereka tak pernah memberi apapun yang menjadi hak-ku, dan hanya bisa menuntut tanggung-jawabku..

Aku tak lagi berfikir untuk menjadi orang yang pertama. Karna tak ada lagi slogan 'fastabiqul khairat' di hati mereka dan kita. Semua lalai mengerjakan segalanya. Amanah kian bertambah, dan kelalaian semakin mendunia.

Saat segala perjuangku, rasanya sia-sia...
Saat segala pengorbananku, tak ada artinya...

.............
Aku disini adalah kamu yang disana.
Mungkin suatu saat akupun akan mengalaminya.
Aku selalu mencoba untuk mengerti dirimu, namun selalu keliru.
Lalu kubiarkan waktu untuk menjawabnya, walau ku terus berusaha untuk memaksa mengungkapnya.

Sahabat, tak lagi berartikah perjuangan kita?
Semua tanya berkecamuk dalam dada.
Lalu hati hanya mampu berdo'a : semoga suatu saat hati kita akan terbuka.

Mungkin segalanya terjadi seperti ini karna kita sedang kehilangan motivasi dan orientasi. Maka hal sederhanya, cobalah untuk mengungkap hati dari diri sendiri. Jangan pernah menuntut orang lain untuk mengerti, kalau dirimu-pun tak pernah mengerti diri sendiri. Buatlah pertanyaan tentang apa yang membuatmu merasa begini dan begini. Lalu renungkan jawaban agar segala keresahan dan kekeliruan segera terselesaikan. Dengan hati yang khusyuk, dengan menundukkan ego dan dominasi ke-aku-an...

Renungkan, renungkan.....
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita. Agar kelak tak keliru dalam memikirkan, agar kelak tak salah saat merasakan....

Jatinangor, 25 November 2010
(Saat penyakit aku-pun menjangkiti diriku)

Topeng Belaka

Sabtu, 26 Juni 2010

Cermin yang biasa kupandangi di setiap hari
Sekali lagi menghiaskan bayangan diri
Wajah ini, mata ini, tempat segala dosa bermula
dan indahkan akhir segala cipta

Apakah diriku ini, Yang bercahaya bersinar di syurga-Mu
menatap penuh pilu
Ataukah diriku ini, kan hangus legam terbakar dalam nyala
di neraka membara

Sungguh berbeda yang nampak dan tersembunyi
hanya kepalsuan menipu, topeng belaka
Wajah ini Tubuh ini, hati yang merajai diri
t'lah bersalah tak mau melangkah

Cermin tak pernah berdusta
yang indah topeng semata
Ya Allah aku malu tlah tertipu
Ampuni hamba sebelum akhir waktu..

Kemanakah diriku ini
Berakhir di syurga atau di neraka-Mu
Aku takkan mampu
Apakah diriku inikan bercahaya,
bersinar di syurgamu, menatap penuh pilu
ataukah diriku ini,
kan hangus legam terbakar dalam nyala
di neraka membara

Selamatkan aku Ya Rabb,,,
(Cermin Tak Pernah Berdusta : EdCoustic)
Ya Allah, rasanya kita selalu hidup dalam kemunafikan. Kepalsuan yang sering kita tutup-tutupi dengan sikap santun di depan orang banyak. Sikap ramah yang sering kita umbar-umbarkan di depan orang lain. Keshalihan yang kita tunjukkan di saat kita bersamaan dengan banyak orang. Namun dibalik itu semua, disaat dalam kesendirian, masihkah kita menampakkannya? Menjaga Ibadah kita dalam kesendirian, menjaga keikhlasan kita setiap beramal. Atau hanya sebagai pemanis sikap saat kita bergaul dan bermasyarakat?

Apa yang kita katakan, sangat jauh sekali dari hal yang biasa kita lakukan. Mulut kita selalu membenarkan apa yang Allah tunjukkan. Namun hati, perbuatan, sangat jarang sekali turut membuktikannya dengan amal perbuatan. Seakan-akan kita pintar berdalih barangkali, memberikan pencerahan kepada orang lain, memberikan motivasi utuk hidupnya yanglebih baik, namun disaat yang bersamaan kita begitu rapuh. Sangaaatt jauh dari kenyataan..

Ya Allah, maafkan ketika kata tak sengaja kuucapakan setiap kali bertemu dengan manusia, hanyalah bualan semata. Bahkan terkadang, aku merangkainya begitu indah, hingga setiap orang dapat menerima setiap ucapakan yang aku katakan. Walaupun kutahu, bahwa kebenaran akan tetap benar, walalupun terucap dengan kata yang sederhana, mengalir tulus ikhlas, tanpa bumbu penyedap. Namun lagi-lagi aku merangkainya dengan indah, merajutnya dengan kata yang semu, membodohi tanpa melihat esensinya.

Sungguh, aku takut ya Rabb
Ketika lidah ini dimintai pertanggung jawaban, atas apa-apa yang pernah kuucapkan
Ketika mata ini dimintai pertanggung jawaban, atas apa-apa yang pernah kuperhatikan
Mata ini, berapa banyak hal yang haram kutatap
Lidah ini, berapa banyak kepalsuan yang terucap

Ya Rabb, sungguh aku tak mampu ketika harus menebus semuanya
Taubat-ku pun tak pernah aku penuhi sepenuhnya
Istighfar-ku, hanya sebatas bualan semata
Ibadah-ku, sungguh sangat jauh dari kesempurnaan

Berhadapan dengan-Mu pun aku malu.

Memaknai Arti Cinta

Jumat, 25 Juni 2010

“Banyak cinta yang kita buang dengan percuma. Hawa nafsu menjadi makhluk liar dan sulit dikendalikan ketika cinta sudah disalah artikan..Banyak dari kita yang begitu mudah mencinta, tanpa tahu apa makna dari cinta yang sesungguhnya...”

Sahabat, cinta ibarat tumbuhan liar, yang dapat tumbuh kapanpun dan dimanapun. Ia akan selalu tumbuh subur walaupun kau tak pernah menanamnya, ia akan berkembang walaupun kita tak pernah memupuknya. Karna Cinta adalah anugerah, Karna Cinta adalah karunia yang Allah titipkan pada setiap hati kita. Ia tak mengenal waktu, tak mengenal 'siapa yang punya lahan', tidak memandang bagaimana ia dapat tumbuh. Maka yang kau harus lakukan, bukan merawatnya. Tapi mencabutnya ketika ia menjadi penggangu di lahan kebunmu. Kebun tempat kau menanam bibit-bibit keimanan, tempat kau menumbuhkan pohon ketaqwaan. Sungguh, jika kita tak mampu mencabutnya, maka akan ada tumbuhan liar lain yang mengganggu kebunmu. Ya, kebun itu adalah hatimu...

Cinta begitu rumit, ketika kita tidak dapat memaknai-nya secara bijak. Terkadang kita mendefinisikan cinta terlalu sempit, hingga terbuai oleh wajahnya yang semu.. Terkadang kita mengejawantahkan nafsu atas nama cinta. Hingga kita beranggapan, ketika kita telah mencintai sesorang, dan orang yang kita cintai mencitai kita, sudah selayaknya ia selalu ada bersama kita. Mendayung bersama dalam sebuah pelayaran kehidupan dalam perahu rumah tangga. Hingga terkadang kita menghalalkan berbagai cara agar dapat mewujudkannya menjadi nyata. Namun tanpa sadar, selama ini kita keliru dengan perasaan cinta yang kita punya.

Tanyalah pada dirimu : Mengapa aku harus mencintainya??

Sahabat, kita sering dibodohi oleh perasaan kita sendiri. Menganggap bahwa apa yang kita rasakan haruslah kita nikmati sepenuhnya. Tanpa sadar, kita menikmati racun yang kita anggap madu. Perasan cinta memang manusiawi, namun ketika membuat kita terlena, itu tak lebih dari rayuan syetan untuk menghacurkan sisi lain dari kehidupan kita.

Syetan telah membuat kita terlena. Kita dimabukkan dengan arak berbahan cinta. Ia tahu, betapa lemahnya manusia terhadap perasaan yang dimilikinya, Cinta. Syetan tahu, bagaimana kuatnya kita untuk menggapai sepenuhnya untuk merasakan betapa nikmatnya anugerah Cinta. Namun sayang, cinta sudah disalah artikan. Cinta tak lagi menjadi obat yang dapat menyehatkan. Ia menjadi racun pada jiwa-jiwa yang rapuh. namun sayang, Cinta tak lagi menguatkan. Bahkan ia akan melemahkan sendi-sendi perasaan yang terselimuti oleh nafsu.

Jika kau benar-benar mencintainya atas nama Cinta
Maka jangan kau geser esensi cinta menjadi nafsu buas-mu
Maka jangan kau benarkan perasaan yang menghantui-mu itu
Jika yang kau maksud cinta itu suci
maka jangan pernah mengotorinya dengan sentuhan-mu
maka jangan pernah mengotorinya dengan pandangan-mu

Sahabat, jika kau mencintai seseorang yang belum pantas kau cintai
Maka jauhilah ia, karna boleh jadi cinta-mu yang semu itu
malah akan mengantarkan nya ke azab neraka
menjauhkannya dari cinta yang ia harapkan sesungguhnya, dari Tuhannya.

Sungguh, kau tahu, bahwa yang pantas ia cintai hanyalah Tuhannya
cintamu hanya akan jadi pengganggu
saat ia ingin melabuhkan sepenuh Cintanya untuk Sang Pencipta

Sahabat, jika kau benar-benar mencintai ia
maka buatlah ia lebih mencintai Penciptanya
Bukan mencintaimu, ataupun hartamu

Sahabat, jika kau yakin jodoh itu ada
Maka Yakinlah Allah telah menyiapkannya untukmu
Maka jangan pernah kau takut, kau tak akan mendapatkannya
Maka jangan pernah takut, kau tak ada dapat hidup bersamanya
Jika ia jodohmu, maka Allah akan mempertemukanmu di dunia-Nya
Jika tak sempat di dunia,
Maka Allah akan mempertemukan bidadari untuk-mu di Syurga-Nya

Sahabat, jika kau percaya
Cinta itu anugerah yang suci,
maka jangan pernah kau lumuri ia dengan nafsu-mu
Hingga kau merasa nyaman ketika dekat bersamanya
Padahal ia belum halal bagimu
Hingga kau merasa tentram ketika dekat disampingnya
Padahal ia bukan siapa-siapa bagimu
Sungguh, Jika cintamu seperti itu
Cinta itu sungguh keliru

Sahabat, Jika kau yakin Cinta-lah yang menguatkanmu
Biarkan ia tumbuh subuh di hatimu
Agar keimananmu berkembang semerbak bunga
Bukan cinta yang mematikan hatimu
Bukan cinta yang membunuh nuranimu
Bukan cinta yang menipumu
Bukan cinta yang mewarnai dengan sejuta wajahnya yang semu
Melupakanmu dari hakikat diciptakannya dirimu

biarkan ia berkembang
biarkan ia tumbuh subur
biarkan ia menjadi bunga
yang mewangi
yang menghiasi hidupmu

Biarkan ia ada bukan semata untuk-mu
Namun biarkan ia ada bersamamu
untuk bersama menggapai Anugrah Cinta-Nya bersamamu...


~Cinta dengan sekelumit kerumitannya~
Biarkan ia berkembang, melayang, dan meninggalkanmu
di saat kau tak mampu mewadahkannya dengan baik.
(Afief Alkhawarizm)







Berhati-hatilah dalam Bersikap

Rabu, 23 Juni 2010

Kesulitan untuk dimaafkan membuat kita berhati-hati alam bersikap, dan jangan pernah meremehkan kesalahan yangg kita lakukan kepada manusia, sekecil apapun itu.Pepatah "Alloh SWT saja Maha Pengampun dan Pemaaf bagi setiap hamba yang mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada-Nya" itu motivasi untuk orang yg disakiti, sepertinya tidak pantas dijadikan dalih kita ketika berbuat salah, sehingga meremehkan setiap kesalahan yg kita lakukan. Itu yg saya fahami..... (Afief Alkhawarizm)

Begitu banyak dosa yang kita lakukan mungkin karena kita terlalu sering menganggap remeh dosa-dosa kecil. Padahal yang namanya dosa adalah sebuah keburukan dan akan dimintai pertanggung jawabannya. dan Allah tidak akan pernah luput dari segala macam dosa yang kita perbuat, besar ataupun kecil dosa itu. Sungguh, tidak begitu malu-nya kah kita berhadapan dengan Allah saat bertemu dengan-Nya di akhirat kelak?? tidak mengerikannya-kah neraka di mata kita?? begitu perihnya azab, tetesan api neraka yang membara. Huffhh,, membayangkannya saja saya tidak kuat sepertinya.

Seorang ustadz yang saya lupa namanya pernah berkata : Berhati-hatilah terhadap dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia, karna kita tidak hanya meminta ampun kepada Allah saja, tapi harus mendapatkan penerimaan maaf dari orang yang kita dzolimi. Istilahnya kalau kita dosa sama Allah, kita hanya meminta maaf kepada 1 pihak saja, yaitu Allah SWT, sedangkan ketika kita berdosa kepada sesama manusia, kita harus meminta maaf kepada 2 pihak, Allah dan manusia. Jadi, masih meremehkan dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia??

Kita sering mendengar 'gurauan lucu', ketika seseorang ingin meminta maaf kepada orang yang disakitinya. Tidak jarang kita juga sering mengucapkan : "Maafin ya, dosa loh kalau ga mau maafin, orang Allah aja memaafkan dosa hambanya, masa kita sebagai makhluknya pelit banget ngasih maaf, maafin ya.. please!!". Sambil sedikit memaksa dan merayu sepertinya itu ucapan yang sering kita lontarkan. Bukan dengki atau apapun, ketika sering terbersit ucapan itu, saya malah berfikir : Ya, Pantas aja Allah mau memaafkan, karna Allah itu memiliki sifat Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha bijaksana. Jadi ya wajar saja kalau Allah 'bersikap' rahman seperti itu, begitu fikiran sederhana saya. Bahkan kita sering melupakan bagaimana syarat mendapatkan kata 'penerimaan maaf' dari Allah. Tidak cukup hanya sebatas ucapan penyesalan, tapi masih banyak yang harus kita lakukan, diantaranya berjanji tidak akan mengulanginya, ikhlas, istighfar, memenuhi hak, dll.

Untuk memaafkan memang suatu yang rumit. Makanya kita harus berfikir sebelum bersikap dan bertindak, kira-kira ketika kita melakukannya kita PD gak bakal dapet kata maaf dari manusia, atau Allah SWT. Kalau gak yakin bakal dimaafin, ya mending jangan coba-coba deh berbuat salah, apalagi sampai mendzolimi seseorang. Terkadang kita meremehkan saat melakukannya, dan baru merasa bersalah ketika mendapat akibatnya. Berhati-hatilah, jangan sampai kita dijerumuskan ke neraka dan ditimpa dengan azab karna kita sering meremehkannya, dan tidak sadar saat melakukannya.. Naudzubillah.


Penguasa-Penguasa IRONIS

Aku malu memiliki pemimpin di negeri ini,
Jika hanya ada Penguasa yang hanya bisa menggunakan jabatan
sebagai tameng untuk merebut kekuasaan sebanyak-banyaknya...

Memperkaya diri dengan menggunakan uang rakyat
Memperbudak dan memeras dengan kekuasaan
Menindas rakyat kecil dengan tameng peraturan dan perundang-undangan..
Allah,, sampai kapan negeri ini dapat berubah, meninggalkan goresan luka
dari bobroknya masa dan peradaban

Pernah baca sirah sahabat?? Para khalifah islam yg mengorbankan lebih dari sebagian hidupnya untuk berbagi, merelakan hartanya untuk membantu umat?? Kalau para pejabat nggak di gaji itu sangat dibawah standar para teladan kita terdahulu, Rosulullah dan sahabat. Kita baru akan mengorbankan 'waktu' saja dengan tidak menerima gaji,, dan mereka mengorbankan banyak hal.. ... Dan ternyata kita bisa melihat mereka tetap hidup dalam berkecukupan, karna pada dasarnya Allah lah yg mencukupi kehidupan mereka, harta tak akan membuat kita merasa cukup dengan kelezatan semunya.. Biarlah Allah yang mencukupi apa2 yang kurang dari diri kita.

Bukan saatnya jabatan menjadi profesi yg menggiurkan untuk diperebutkan.. Saat Rosulullah menjadi pemimpin pun dapat dilihat, tak sepeserpun harta yang ia ambil untuk mencukupi kehidupannya, bahkan sebaliknya, dengan amanah yang mulia itu Ia berkorban lebih dan banyak untuk umat... Sepertinya paradigma kepemimpinan telah berubah dari hal yg sewajarnya.... Ironis.

Today's Complicated!

Senin, 21 Juni 2010

Hari ini memang banyak yang memberiku semangat. Ketika beberapa orang sahabat menanyakan kabar atas kelakuanku hari ini yang menurut mereka tidak seperti biasa. Senang rasanya diperhatikan, saat mendengar apa yg mereka pertanyakan, Ada Apa? Lagi ada masalah ya? Kenapa?... Mereka seperti ditunjuk secara langsung dan mendadak oleh Tuhan untuk menjadi saudara2ku... Bahagianya jika kita dapat saling mengerti dan memahami atas permasalahan yang menimpa saudara2 kita. Tapi tidak semua masalah perlu untuk diperbincangkan bukan? Karna Masalah harus diselesaikan, dan tidak semua masalah dapat selesai dengan curhatan. Sungguh, aku ingin semua mendengar apa yang menjadi keluh kesahku, namun aku yakin, tak akan ada jalan dari kebuntuanku ini. Aku ingin curhat Allah!!

Ya Allah, sepertinya aku belum begitu baik,
dan kau embankan pada pundakku berbagai amanah
di tengah kelakuan burukku.
Aku tahu, kau ingin menempaku dengan ujian yang keras
yang membuatku tegar dengan cobaan yang kau berikan
kau ingin membuatku bijak, dan memahami
dari semua masalah yang menimpaku saat ini

Agar aku teralihkan dari kecenderungan berbuat dosa.

Ya Allah, di balik kemunafikan yang menghantui,
Izinkan agar kebaikan yang aku bawa itu adalah baik
walau darah ini masih berlumur nista.
Sejujurnya, aku ragu untuk menyampaikannya,,
Namun aku yakin, kebaikan hanyalah datang dari-Mu
Bukan dari lisanku, ataupun pemikiranku..

Sungguh, jika aku harus memilih,
Biarkanlah aku lari dari semua ini
meninggalkan jejak2 yang sudah aku tapaki
Namun aku tak sanggup
dan berhenti mengeluh untuk bangkit

Sungguh, aku malu,,
Disaat semua orang mampu bertahan atas segala kekurangan dan ujian
Disisi lain aku yg memiliki segalanya bahkan melemah
Di balik penderitaan, kelaparan, kekurangan harta, pula sanak saudara..
Aku terkadang bangga kepada mereka semua
Yang mencari kebahagiaan bukan dari apa yang mereka punya
Tapi dari apa yang tidak mereka punya

Sungguh aku malu Ya Allah
Pada diriku saat ini.........

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.