Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Organisasi Kehidupan

Senin, 11 Juli 2011

"Belum pernah terlihat ada obat yang lebih mujarab bagi dua orang yang sedang dimabuk cinta, selain menikah" (H.R. Thabrani dan Ad-Dailami)

Banyak orang yang memulai kehidupan rumah tangganya dengan hal yang besar. Dengan impian, cita-cita dan harapan yang melekat pada diri mereka. Dengan cinta yang mereka tumbuh kembangkan hingga membuahkan kasih sayang. Namun ironisnya, banyak rumah tangga yang keharmonisannya tidak bertahan lama. Seakan impiannya saat menikah dahulu, hanyalah sekelumit bayang-bayang kehidupan. Cinta dan iman seakan menjadi alasan yang kerdil dibandingkan dengan peliknya permasalahan yang menyulut api perceraian. Maka, mungkin yang perlu kita perbaiki adalah orientasi yang benar mengenai pernikahan. Karna banyak orang yang menganggap pernikahan hanyalah untuk memiliki surat legalitas 'berhubungan badan'.

Saat pernikahan hanya dianggap sebagai sebuah prosesi tanpa esensi, maka disanalah bermula benih-benih kehancuran dalam membangun rumah tangga. Lalu bagaimana seharusnya pernikahan agar dapat dijadikan landasan awal dalam membangun rumah tangga? Setidaknya, perbaikilah tujuan kita ketika memilih untuk menikah. Karna pilihan yang terpenting dalam hidup tak pernah mudah, begitupun dengan MENIKAH!.

Tujuan Pernikahan :

1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta, kasih sayang dan ketenangan jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
5. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
6. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan).

Tujuan ini hanya sebatas referensi yang ane dapatkan dari salah satu sumber. Semoga ini menjadi tujuan minimal ketika kita memutuskan diri dari status membujang..

Keluarga adalah organisasi terumit dalam lingkup rumah tangga... Yang visinya bukan hanya berorientasi pada keberhasilan dunia, namun berorientasi pada keberhasilan meraih syurga.. Menuju Cinta dan Keridhoan-Nya..

Tidak sedikit dari kita yang menganggap keluarga hanya seperti sebuah rumah. Didalamnya kita dapat berteduh, melabuhkan lelah, dan melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tak lebih tak kurang. Atau adapula yang menganggap keluarga hanyalah sebuah kapal layar. Disana kita bersama mendayung hingga akhirnya sampai pada tempat tujuan. Kita dapat mengganti kapal manapun yang kita mau, ketika tujuannya telah berbeda. Pelabuhan yang kita tuju adalah peristirahatan sementara dalam pengembaraan kehidupan. Berpindah dari pelabuhan satu menuju pelabuhan lainnya. Hingga orientasi begitu cepat berubah. (Ngerti khan ya, maksud ana?? :))

Tidak sedikit dari kita, yang menjadikan keluarga sebagai pabrik penghasil manusia dengan kualitas seadanya. Asal bisa bertahan hidup dalam kurun waktu cukup lama, maka proses produksi barang yang biasa disebut 'manusia' itu tak lagi diperhatikan. Bahkan sebagian hanya mengandalkan modal uang untuk memproduksi generasi penerus, yang katanya menjadi harapan agama, masyarakat dan bangsa. Sebagian lainnya, ada yang menjadikan keluarganya sebagai mesin pencetak uang. Tujuannya adalah meningkatkan taraf kehidupan diatas rata-rata kondisi sosial dalam kemewahan dan harta.

Padahal....

Keluarga adalah awal dari segalanya. Soal pendidikan, agama, bahkan keluarga adalah permulaan dari sebuah peradaban bangsa. Banyak orang yang menganggap hidup berkeluarga adalah pekerjaan remeh temeh sehingga banyak diantara kita yang mengenyampingkan kondisi keluarganya. Kalau kita coba analisa, betapa banyaknya permasalahan umat dan masyarakat yang sebenarnya bermula dari kebobrokan dari lingkup terkecil dalam keluarganya. Silakan perhatikan dan analisa sendiri ya.. :)

Keluarga adalah organisasi terbesar dalam lingkup terkecil...

Disadari ataupun tidak, keluarga dapat diibaratkan laksana sebuah organisasi. Seperti yang kita fahami layaknya sebuah organisasi, maka perlu segala yang berhubungan dengannya memiliki landasan, tujuan, peraturan-peraturan, pengkaderan bahkan sampai kepada hal mendetail terkait dengan program kerja. Saya takjub ketika mendengar salah seorang ustadz yang begitu apik mengagendakan secara terperinci agenda-agenda dalam keluarganya. Kapan saatnya seorang anak bermain, belajar, setor hafalan al qur'an, bahkan untuk sekedar menonton TV!! Luar Biasa!!...

Hasilnya? Tak heranlah kalau kesemua anaknya berprestasi dan bernilai di mata masyarakat. Di gemari oleh sahabat dan kerabat. Karna proses 'produksi'-nya melalui serangkaian proses yang dirancang dengan matang, terprogram bahkan terevaluasi layaknya sebuah organisasi!!

Maka, tugas kitalah para lelaki, sebagai qawwam yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak kita. Menjadi pembimbing untuk istri ketika mengurusi masalah rumah tangga. Ingatlah, di pundak kitalah amanah besar itu dititipkan. Tak ada alasan untuk berdalih ketika kita dimintai pertanggung-jawaban atas amanah yang telah menjadi fitrah kita. Apalagi menyerahkan amanah besar itu kepada istri kita dengan segala keterbatasannya. Ingatlah, KITALAH NAHKODANYA!!!


Suami yang shalih adalah dia yang mampu memuliakan seorang wanita di dunianya sebagai seorang istri, dan menjadikannya di akhirat sebagai bidadari....

Maka, untuk kita para lelaki. Bersiaplah.. Karna genderang perang akan segera di tabuh. Bukanlah perang itu selalu dengan pertumpahan darah. Namun perang saat ini adalah bagaimana kita dapat membulatkan tekad untuk berjihad mempersiapkan masa depan kita. Karna sudah pastilah Allah akan mengamanahi kita dengan jabatan yang tidak dapat kita elakkan. Menjadi seorang suami sekaligus ayah, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan anak dan istri kita. Saatnya kita membenahi diri dalam sebuah organisasi kehidupan, sebuah keluarga. Saatnya kita berjihad mempersiapkan generasi rabbani dambaan ummat... Biidznillah....

Wallahu'alam..

`Jatinangor, 7 Juli 2011` - 17.02.01

Inspiring Moment #3 : Untuk Para Ikhwan

Senin, 09 Mei 2011

Ternyata banyak kewajiban di masa depan yang membutuhkan perhatian. Sebelum semua menagih haknya atas diri kita, lebih baik mempersiapkannya sekarang juga!!! Bismillah, mari bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Untuk anak, istri dan keluarga kita kelak.

Menjadi laki-laki memang cukup berat. Apalagi telah tergambar jelas, jika nantinya para lelaki akan menjadi qawwam atas istri dan anak-anak. Menjadi kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang menyebut kita : suami, dan juga ayah. Menjadi seorang nahkoda yang seharusnya mampu melabuhkan anak dan istri kita di syurga. Maka, tak ayal lagi - kepemimpinan kita akan diuji dengan amanah sebuah keluarga. Pertanyaannya : Apakah kita telah sanggup mempersiapkannya dengan baik, atau malah menjadi salah satu penyebab suramnya masa depan istri dan anak-anak kita kelak?? Maka selagi muda, sudah seharusnya kita mempersiapkan segalanya.

Sudah seharusnya kita berfikir dewasa dan belajar menjadi orangtua. Karna masa depan generasi selanjutnya adalah tanggung jawab kita!!

Dalam sebuah training pernikahan, para peserta diminta untuk menuliskan rencana hidupnya saat berkeluarga. Dengan secarik kertas yang diberikan panitia, kami diminta untuk menuliskan impian, harapan, serta target-target yang harus dicapai selama berumah tangga. Seorang bapak duduk tepat disamping saya. Melihat saya cukup bersemangat menuliskan rencana masa depan, ia tersenyum. "Wah mas, semangat amat nulisnya, sepertinya sebentar lagi ya?", ujar bapak itu sambil tersenyum memandang saya."Ah enggak pak, masih lama", jawab saya sambil membalas senyumnya. Tak lama kemudian si bapak muda meminta untuk melihat rencana hidup saya yang kini sudah melebihi apa yang ditulisnya. Sebenarnya enggan untuk memberikannya, namun rasanya tak enak ketika menolaknya - karna sejujurnya saya malu ^^;

"Memang harus dipersiapkan mendetail seperti itu mas. Walaupun pada kenyataannya sangat sulit di praktekan setelahnya. Biasa lah namanya juga berumah tangga. 6 bulan pertama indah, 6 bulan selanjutnya sangat indah, setahun setelahnya terserah anda...", ujar si bapak sambil terus menyunggingkan senyumnya. Saya sempat senyam-senyum sendiri dibuatnya. Jadi makin berfikir : Begitukah pernikahan? manisnya hanya dirasakan saat-saat tahun pertama, tahun selanjutnya : penuh derita.

Yah, begitulah orangtua. Selalu membandingkan impian kita dengan pengalaman mereka. Namun begitulah hidup, harus kita akui - selalu ada saripati hikmah yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka.

Memang tidak bisa dipungkiri. Dari sebagian besar cerita yang pernah saya dengar, tidak sedikit diantara para orangtua yang pernikahannya kandas di tengah jalan. Peliknya permasalahan rumah tangga rasanya tak sesederhana teori, atau sebatas 'skenario' yang biasa ditampilkan di pelbagai sinetron. Semuanya adalah realitas hidup. Tidak melulu diributkan dengan permasalahan yang besar ternyata, masalah-masalah kecilpun kadang menggelombang, dan akhirnya membentur karang kesetiaan dan cinta yang dulu dibangunnya.

Mulai dari tidak enaknya masakan istri, suami yang pulang larut malam tanpa konfirmasi, pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, anak-anak yang nakal di usia remaja, sampai ketika kecemburuan dan perhatian tak lagi diberikan sesuai kebutuhan. Belum lagi polemik dari permasalahan finansial bagi mereka yang tak cukup mapan. Rasanya setiap permasalahan itu adalah sebuah ujian yang pasti menghampiri siapapun ketika telah berlayar dalam bahtera keluarga. Dan bisa tidak bisa, kita harus melewatinya. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mendewasakan diri sebelum permasalahan-permasalahan itu merenggut kebahagiaan kita..

Cukup banyak yang saya tuliskan dalam secarik kertas yang diberikan panitia. Rencana agenda harian, mingguan, bahkan targetan-targetan yang seharusnya dapat dicapai secepatnya. Rentetan detail yang sebenarnya masih mengawang (karna belum pengalaman), berjejer dalam secarik kertas hingga penuh. Ahh, beginikah rencana hidup, berfikir dalam 5 menit saja sudah cukup memusingkan, apalagi dikemudian hari harus menghadapinya secara nyata untuk menjalani kehidupan. Namun begitulah hidup, rencana kita adalah ikhtiar untuk menciptakan nasib kita.

Hahhh,,, rasanya apa yang saya tuliskan ini bukan sekedar mimpi. Tapi kewajiban yang harus saya penuhi. Seakan gambaran masa depan semakin dekat dipandangan. Bayangan anak-anak yang menagih uang saku, bayar SPP, mainan, dan berbagai keperluan lainnya. Belum lagi untuk keperluan rumah tangga : Bayar listrik, bahan makanan, membeli perabotan rumah tangga, menyekolahkan anak hingga kuliah, sampai pada meng-hajikan orangtua dan mertua. Dan tahukah? Ketika kita mencoba menghitungnya secara mendetail - saya pastikan : tidak ada seorangpun yang siap menikah dengan segera! Walaupun telah nyata dihadapannya seorang wanita yang siap untuk dilamarnya, atau telah bulat keputusan mertua untuk menikahkan kita dengan anak mereka!!

Namun begitulah cinta. Semuanya harus diwujudkan dengan logika. Harus diperhitungkan. Karna konsekuensi dari cinta adalah membahagiakan. Ketika kita berlindung dan mencari aman dengan dalih "Cinta itu menerima apa adanya", maka saat itulah kita harus tersadar, bahwa kita bukanlah pecinta sejati, dan kita tidak berhak merasakannya. Karna cinta adalah sumber energi untuk memperbaiki diri. Membuat kita yang bukan siapa-siapa menjadi papa. Membuat kita yang apa adanya menjadi luar biasa. Dan yang perlu ditegaskan, jangan pernah mengatakan : Siapkah kau hidup bersamaku dalam derita? Relakah kau kiranya kisah kita tak selamanya indah???

Hentikan ucapan pengecut seperti itu. Ketika kita tak mampu menjanjikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai, patutkah kita mencintainya? Jika cinta kita hanya membawanya lebih menderita, lebih baik putuskan segera, buang ia jauh-jauh, dan iklaskan wanita yang kita cintai itu menikah dengan pria yang lebih baik dari kita. Relakan ia bersama seorang lelaki tangguh yang berani menjanjikan kebahagiaan selamanya. Karna konsekuensi cinta adalah membahagiakan!! Membuatnya tumbuh berkembang, menggapai langit, hingga membersamai kita menikmati syurga. Begitulah cinta yang berkah, selalu menawarkan kebaikan.

Kalau banyak orang bilang : Cinta itu tak butuh logika.

Maka, saatnya kita memperbaiki paradigma.

Sungguh, cinta itu sangat membutuhkan logika.

Karna logika, memaksa kita mewujudkan cinta dalam bahasa kerja!!

~Inspiring Moment~
Workshop Marriage Management
Jatinangor, 8 Mei 2011


Renungan : Untuk mereka yang memiliki keluarga

Sabtu, 30 April 2011

Ini sudah beberapa kalinya seorang akh, pulang larut malam. Rutinitas yang padat membuatnya lupa akan hak keluarga akan dirinya, sekaligus kewajiban ia atas mereka. Ini sudah menjadi bilangan yang tak terhitung jari lagi, ketika banyak urusan dirumahnya, tak mampu ia selesaikan dengan bantuan dan uluran tangannya. Membayar listrik, mencuci piring, beberes rumah, bahkan sekedar untuk mencuci baju miliknya. Alasannya klise, masih dengan dalih : sibuk dengan rutinitas kuliah dan organisasi. Padahal ia tahu - ibu dan ayahnya adalah 'orangtua karier' yang sibuk untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga. Pergi subuh hari, pulang larut malam. Mereka tak akan sempat mengurusi lagi seabrek pekerjaan rumah yang menumpuk. Bahkan meskipun itu menjadi tanggung-jawab mereka - maka dipastikan kewajiban itu telah gugur seketika. Seharusnya, pekerjaan rumah tangga seperti ini menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Bukan kewajiban para orangtua.

Sepertinya ada yang salah pada diri kebanyakan aktifis dakwah. Seorang yang biasanya mengaku taat mengaji dan haus akan ilmu agama. Seorang yang katanya sangat disibukkan dengan memikirkan umat. Yang katanya generasi "Rabbani" dengan modal tarbiyah di liqo-liqo yang menjadi rutinitasnya. Sangat disayangkan, jika kondisi pada lingkup terkecil di keluarganya, tak mampu ia benahi dengan baik. Kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggungannya tak mampu ditunaikan, dan sibuk memberi manfaat diluar. Di tempat yang kadangkala ia tak kenal.

"Khairunnas, anfa'uhum linnas", mungkin dalih ini yang membuat kita lupa akan kehadiran dalil : "Quu anfusakum wa ahliikum naara"....

Ketidak-seimbangan kita pada keluarga terkadang membuat ketidak-adilan kita atas mereka - yang sebenarnya sangat berhak atas diri kita. Sejenak coba kita introspeksi, seberapa banyak waktu kita, disibukkan dengan aktifitas 'dakwah' ataupun organisasi??? Bandingkan dengan seberapa sering kita disibukkan dengan pekerjaan rumah : mencuci baju, menyapu rumah, membantu orangtua, dan berbagai hal lainnya??? Lalu bandingkan, seberapa sering kita memberikan mentoring keislaman, motivasi, sms-sms tausiyah kepada sahabat dan kerabat kita? Lalu bandingkan, dengan seberapa sering kita memberikan semua perhatian itu kepada anggota keluarga dan saudara-saudara kita??

Belum lagi adanya beberapa fenomena yang memprihatinkan. Ketika banyak saudara mereka - yang katanya saudaranya aktifis dakwah, sangat jauh dari nilai-nilai keislaman. Sebagian dari mereka, ada yang menjadi pecandu, ada yang terjerumus aliran sesat, ada yang gemar melakukan kemaksiatan. Jika ditanyakan, bukankah ini tanggung jawab kita sebagai orang yang terdekat dengan mereka??? Mungkin saat itulah kita baru tersadar, bahwa begitu banyak kewajiban-kewajiban yang sangat dekat dengan kita yang terabaikan. Tidak sedikit dari kita, lebih memilih untuk sibuk di organisasi dibandingkan disibukkan dengan 'pekerjaan rumah' sendiri.

Begitulah fenomena-fenomena 'unik' yang seharusnya tidak terjadi. Mudah-mudahan hal ini-pun menjadi tausiyah untuk diri sendiri. Karna sangat diakui, tulisan ini sangat terinspirasi atas cela yang dilakukan selama ini. Semoga menjadi motivasi kita untuk memberi kesegaran dengan kehadiran kita di sekitar mereka. Ingatlah, pepohonan akan selalu meneduhkan tanah gersang dibawahnya, dan buahnya akan jatuh tak jauh disekitarnya. Bukankah itu hakikat dari perumpamaan pohon iman? Jika manisnya buah, hanya mampu dikecap oleh tetangga. Maka apalah artinya pohon yang tertanam subur di pekarangan??

Jatinangor, 29 April 2011 -19:04:54
(Kutitipkan untuk mereka yang memiliki keluarga : karna kita pasti memilikinya dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka)

Pagi dan Paksaan Inspirasi

Kamis, 06 Januari 2011

Pagi ini, terpaksa bangun larut malam. Menyentuh dinginnya udara subuh walau tak siap. Bahkan memaksa otak untuk terpacu memikirkan inspirasi yang belum terfikir. Lalu, tak lama ada kilatan tembukan sel otak karna rangsangan melankolis, dan jemari serasa reflek dengan menuliskan kata-kata yang ditemukan tanpa sengaja.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Entah mengapa muncul kata seperti itu. Namun harus saya akui, banyak inspirasi muncul dan datang karna pernah dirasakan, atau bermula dari banyak kejadian yang saya temukan. Pagi ini, mungkin refleksi masa lalu yang telah saya lewati. Bahkan dejavu-pun sering terjadi berkali-kali bukan?? Ahh,, hentikan membicarakan asal muasal perkataan. Lebih baik mendalami secara bijak apa yang pernah kita fikirkan dan rasakan.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Banyak contoh yang dapat membuktikan kalimat diatas. Ya, seringkali kita berbuat bodoh dengan hal yang telah kita perjuangkan hingga kita lelah mendapatkannya. Betapa sering kita memaksakan untuk mendapatkan sesuatu. Namun setelah berhasil menggenggamnya, ia kita biarkan hilang dan berlalu. Betapa banyak barang dan cinderamata yang dahulu kita senangi dan berusaha membelinya, lalu kita biarkan ia lusuh dan berdebu.

Betapa berat kita berusaha mendapatkan status tertentu, namun kita tidak dapat menempatkan peran sebagai mana mestinya. Atau ketika kita mendapatkan amanah dan kepercayaan dari orang lain, namun tidak diimbangi dengan menjaga tanggung jawabnya.

Bahkan, ketika kita berusaha berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari sesama, namun seringkali kita sulit untuk menjaganya. Menjaga agar mereka tidak kecewa, dan menjaga kepercayaan mereka seutuhnya.

Ya, seringkali motivasi untuk menjaga tidak sekuat saat kita berusaha memilikinya. Rasanya, apa yang kita miliki, tak lagi berharga ketika waktu telah membuktikan bahwa ia memang tak cukup berharga untuk dimiliki.

Lalu, apakah masalah waktu, yang berhak membuatnya hilang dari genggaman. Atau memang masalah kita, yang tidak becus menjaga komitmen dan tanggung-jawab dari semua yang telah kita dapati tanpa percuma.

Lalu kehilangan membuat kita tersadarkan..
Bahwa apa yang kita abaikan, suatu saat akan menghilang.

Jatinangor, 6 Januari 2011, 5.18.06
(Saat pergantian tahun diawali dengan banyak kesia-siaan)

Seharusnya Kita Malu...

Minggu, 02 Januari 2011

Semburat senyum tulus mengalir dalam wajah pada kamera. Seorang wanita dengan tinggi badan 74 cm, sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Dengan tangan dan kaki yang tidak normal, namun masih bisa mensyukuri anugerah dengan ikhlas dan semangat pantang menyerah. Dengan kekurangan yang dimilikinya, ia diberi gelar 'wanita terpendek di Indonesia'.

Seorang wanita yang tumbuh dengan keyakinan dan semangat yang besar. Ia tidak minder sekalipun ia dianggap oleh banyak orang sebagai wanita yang aneh karena tubuhnya. Ia sekolah di sekolah normal dan terus belajar mandiri. Ia tidak mau sekolah di sekolah untuk anak cacat dan selalu mendapatkan prestasi akademik di sekolah. Ia kemudian masuk perguruan tinggi dan saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang seorang jaksa, diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah komputer sampai lulus D3. Ya, dia mampu menjalani perkuliahan dengan 2 bidang studi yang berbeda dan berhasil menyabet kelulusan dengan sempurna.

Ahh,, melihat dan mendengar sebagian kisahnya membuat bulu kuduk ini merinding. Sejujurnya, jika dihadapkan pada kondisi yang sama, mungkin aku memilih untuk menyerah, dan kini sedang berbaring dengan rintihan penuh keluhan. Sangat berbeda, dan jauh berbeda dengan apa yang mampu ia lakukan dengan perjuangannya. Dan hanya satu rasa yang seharusnya dapat diakui hati ini : MALU!!

Cukup sampai disana!! Belum selesai mata ini membaca kisahnya saat melahirkan dan mengasuh anaknya sendirian. Bagaimana saat ia menjadi motivator, bahkan untuk orang-orang yang normal tanpa cacat! Tidak sanggup rasanya ketika membayangkan bagaimana saat ia mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anaknya.

Lalu bagaimana dengan kita??

Cacatkah kita? Begitu besarkah masalah yang menimpa kita?

Rasa-rasanya yang cacat bukan raga kita, namun otak ini yang berkarat hingga tak mampu lagi berfikir jernih saat ujian menimpa. Harus kita sadari, ternyata yang buta bukan mata kita. Namun hati yang tak mampu jujur menatap masalah dan ujian yang seharusnya dapat kita selesaikan dengan sempurna. Harus kita akui, ternyata yang lumpuh bukan tangan dan kaki kita. Namun jiwa yang mati karna kurangnya motivasi.

Berkacalah, dan banyaklah bercermin pada orang-orang yang benar-benar diuji dengan keterbatasan. Lalu tataplah seberapa pengecutnya diri ini yang menjalani hidup dengan berjuta keluhan.

Seharusnya kita malu...

Aku jadi tersadar, bahwa sebenarnya aku dilahirkan dengan sempurna. Namun kelalaian yang ku lakukanlah, yang membuatku banyak cela.

Banyak orang yang merasa istimewa dengan ujian dan permasalahan yang menimpa , lalu menjadikan pemakluman untuk menutupi kelemahan dirinya. Lihatlah diluar sana!! Betapa banyak orang yang lebih menderita dengan menanggung takdir yang tidak kita kira, namun mereka berjuang tanpa pernah berfikir bahwa 'akulah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam kemalangan.....

Aku malu pada mereka yang benar-benar ditimpa kemalangan. Jika ku bandingkan dengan apa yang menimpa, rasanya tak pantas aku berkata lagi sebagai manusia seutuhnya. Karna, begitu banyak yang seharusnya dapat kulakukan dibanding mereka. Mereka yang benar-benar memiliki keterbatasan raga, bahkan mampu menciptakan kemampuan yang tak kubisa, lalu mereka mampu menutupi aib dengan prestasi-prestasi gemilang dalam kehidupannya.

Malu, aku yakin tak cukup pada kata itu.

Sungguh, kebahagian tidak pernah melihat kekurangan. Karna ia dapat diciptakan dengan hati yang ikhlas menerima, dan jiwa yang tak lelah berjuang memaknai kehidupan.

Jatinangor, 1 Januari 2011, 19.27.05
(Saat lagi-lagi mendapatkan motivasi dan inspirasi dari orang yang tak ku kenal)


Kesejatian Hidup

Minggu, 26 Desember 2010

Sungguh, memang tak ada satupun yang kita miliki kawan, tapi selalu ada yang dapat kita berikan. Karna semua yang kita genggam, hanya ada dalam ketidak-abadian. Semuanya mudah hilang, berpindah tangan, atau malah kita abaikan..

Lalu sebenarnya bagaimana hakikat pengorbanan??
Bukankah pengorbanan itu merelakan apa yang kita genggam?
Bukankah pengorbanan itu mengikhlaskan apa yang seharusnya kita tanam?

Sungguh,, TIDAK satupun dari semua definisi yang kita fahami selama ini,
menjelaskan pengorbanan dengan arti yang tulus...
Karna pada hakikatnya,
pengorbanan tidak membuat kita lemah karna kehilangan,
namun pengorbanan,
selalu memberikan apa yang kita harapkan...

Ya, pengorbanan selalu memberikan apa yang ingin kita dapatkan..
Tanam definisi itu kawan...!!
Bahwa pada hakikatnya, tak ada yang hilang dari kita,
Karna kita memang tak memiliki apa-apa..
Namun selalu ada yang bertambah,
minimalnya dengan amal shalih karna keikhlasan kita...

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama??
Lalu buat apa kita berfikir ulang meniatkan kebaikan yang pantas kita lakukan??
Atau merasa menjadi orang yang teramat rugi,
ketika harus menjalaninya seorang diri.
Lakukan saja sahabat, pun ketika harus berkorban..
Lalu tanamkan keikhlasan, agar tak tercium wanginya
Karna terbakar api riya


Mungkin selama ini ada hal yang belum kita dapatkan,
Belum kita fahami dengan bijak,belum kita hayati dalam benak,,
Kesejatian hidup, mungkin itu yang selama ini tidak kita miliki..

Bersambung.....

Jatinangor, 15 Desember 2010, 06.38.54

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah Bag.2

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kalau saja waktu bisa dibeli, Betapa saya ingin membeli waktu milik orang-orang yang menganggur itu. Agar semua menjadi 'amal yang muntijah (produktif) dalam dakwah. Karena, alwajabat aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia.."(Hasan Albana)

Huffhhhh,, mungkin itu helaan panjang yang sudah menjadi kebiasaan. entah sampai kapan kita mampu menyelesaikan. Semakin dikerjakan sepertinya bukannya semakin berkurang, tapi kian bertambah bahkan berkali lipat bebannya. Ya, karna kita mengerjakannya semakin detail, semakin kita mengetahui bahwa ternyata masih banyak yg kurang dari perencaan awal.

Sepakat dengan perkataan Hasan Albana : Al wajabat Aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yg tersedia. Allah menganugerahkan kepada kita dengan begitu banyak kewajiban yang harus kita selesaikan, terlepas dari penting atau tidaknya kewajiban itu untuk kita tunaikan. Tapi bukankah kita beramal karna memang membutuhkanya. Sungguh, kita butuh menunaikannya sebagai bekal untuk pemberat kebaikan di akhirat.

Kelelahan seperti rasa yg haram untuk dirasakan sepertinya. Ketika kita sungguh2 berniat untuk mengejar kesempurnaan amal. Produktivitas waktu, itu yang perlu kita tuju. Bukankah dalam surat Al Asr, Allahpun menyebutkan bahwa pada dasarnya kita memang merugi, kecuali orang2 yang memanfaatkan waktunya umtuk beramal sholeh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran???

Jadi untuk masalah waktu, sepertinya kita tak perlu menggerutu. Mengapa Allah memberikan keterbatasan waktu pada kita, bukan bertujuan untuk melihat seberapa bisa kita menyelesaikan semua kewajiban2 kita, tapi bertujuan untuk menilai bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk berjuang dalam menunaikannya..(itu menurut saya, entah bagaimana dengan anda).

Untukkmu yang diburu waktu... Bersabarlah, waktu memang selalu mengejar kita Mengejar agar kita tidak menyia-nyiakannya. Karna begitu banyak kewajiban yang harus kita tunaikan. Begitu banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Begitu banyak harapan yang harus kita perjuangkan. Selagi Tuhan masih memberi kita waktu untuk berdiri dan berlari Maka jangan sia-siakan waktu yg tersisa saat ini. Karna esok belum tentu ada waktu lagi untuk menanti


Untukmu yang tak kenal lelah,
Semoga Allah mengganti setiap tetesan peluhmu dengan airmata Syurga....

Jatinangor, 23 Oktober 2010, 06.07.51
(Saat mencari motivasi yang hilang)

Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah.

Minggu, 17 Oktober 2010

Mungkin kita tak seikhlas Abu bakar : Yang rela mengorbankan seluruh hartanya untuk umat dan menebus syurga. Mungkin kita tak sekuat Umar bin khattab : Yang lantang meneriakkan kebenaran, walau setiap kata harus ditebus dengan nyawa. Mungkin kita tak setegar Bilal : Yang rela menebus derita dengan darah memperjuangan aqidah, yang tetap tegar untuk berucap : Asyhadu alla ilaaha illallah, muhammad arrasulullah.. Bahkan kita sangat jauh dengan pengorbanan seorang ayah, Yang mencari nafkah untuk anak-anak dan keluarganya. Sangat jauh.

Mungkin kita sering mengeluh dengan amanah yang membebani kita, memang manusiawi. Tapi sadarkah, ketika keluhan-keluhan itu tersampaikan, ia akan mengikis ketegaran. Membuat semangat kendur, bahkan membuat kita berfikir ulang untuk menghentikan perjuangan. Ketika lelah, cukuplah istirahat yang menjadi obat. Yang membuat kita kembali segar, merasa bugar untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita selanjutnya.

Ketika merasa lemah, fikirkanlah, bahwa seharusnya kita tidak pantas berada pada posisi itu. Karna begitu banyak orang yang menunggu, untuk meraih bantuanmu. Dan menuntut hak, atas kewajiban-kewajibanmu...


Bahkan kita sering dipaksa untuk bekerja, walaupun itu bukan menjadi kewajiban kita. Yakinlah, Allah akan selalu melihat perbuatan baik kita. Bahkan sebesar zarrah-pun tak akan luput dari 'penglihatan-Nya'. Sebatas motivasi : amal-amal baik bukan sebatas melakukan kewajiban yang harus kita penuhi, tapi sebanyak-banyaknya memberi manfaat dari waktu yang kita miliki.

Begitu sulitnya untuk ikhlas, hingga Allah menguji kita dengan pujian ataupun cercaan dari manusia. Begitulah sulitnya sabar, hingga Allah memberikan ujian yang tak pernah kita kira sebelumnya. Begitulah sulitnya istiqomah, Hingga ia membuat kita lemah tak berdaya. Begitulah sulitnya hidup, hingga kita dapat merangkum berbagai masalah yang menimpa kita, dengan ikhlas, sabar dan istiqomah..

Untukmu yang selalu dikejar waktu..
Mungkin setiap detik adalah nafas beratmu. Karna kau harus mengejar waktu untuk menyelesaikan amanah dan permasalahan itu. Namun bersyukurlah, Allah memang menyediakan waktu untuk dihabiskan. Tanpa kita pilih pun, ia akan habis terkikis. Tapi banyak orang memiliki cara berbeda untuk menghabiskannya. Ada yang tertidur pulas, ada yang bermain, ada yang berbuat maksiat, dan ada yang berjuang keras dalam kebaikan. Sungguh, dirimu berada pada posisi kebaikan!! Biarlah keringat kita jadi saksi bisu saat ini, namun kelak di akhirat nanti, ia akan lantang berbicara :

"AKU KELUAR DARI TUBUHNYA SAAT IA MENGORBANKAN WAKTUNYA DALAM KEBAIKAN. YA ALLAH,, IZINKANLAH IA MENEMUI SYURGA-MU, SYURGA PARA PEJUANG!!"

Subhaanaallah.. dan waktu-pun melanjutkan perbincangan :

YA ALLAH, AKU DIHABISKAN UTUK MEMENUHI PERINTAHMU DALAM MENABUR KEBAIKAN. MEMENUHI SYARL'ATMU, MENJALANKAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN DARI-MU. IZINKALAH IA MASUK KE SYURGA-MU, SYURGA PARA PEJUANG!!

Sungguh, tak akan merugi diri ini ketika menghabiskan waktu dalam kebermanfaatan. Tak akan rugi diri ini ketika kita mencelupkan diri ini dengan kesibukan-kesibukan yang berkepanjangan. Sungguh, amanah dan perjuangan ini menjadi bekal amal yang dapat memberatkan timbangan amal baik di akhirat kelak. Maka jalanilah dengan ikhlas, seberat apapun ia membebani kita.

Rabb, ketika ujian ini begitu berat untuk dirasakan,
maka jangan biarkan kami berada dalam kesendirian.
Berikanlah kami sahabat seperjuangan
yang mampu menemani kami dalam meniti jalan juang ini.

Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka kuatkanlah.
Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka tegarkanlah.
Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka sabarkanlah.
Sungguh, Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka jangan biarkan kami lari, jangan biarkan kami lalai menanggung amanah mulia ini.

Kami tak pernah menyesali segala ujian yg KAU bebankan pada pundak kami,
karna kami yakin bahwa ENGKAU sebaik2-baiknya sutradara kehidupan,
yang menginginkan kami menjadi pemeran utama & mengatur jalan hidup kami begitu indah.

Maka ketika permasalahan sudah terlalu membebani hati dan fikiran-fikiran kami,
ijinkanlah kami menyelesaikannya saat ini.
Bismillah!! 

Untukmu yang tak kenal lelah.
Semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Jatinangor, 16 Oktober 2010, 5.14
(Subuh hari, saat gemericik hujan memberi banyak pengharapan - Afief Alkhawarizm).

Memaknai Cinta Part.4 : Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Sebenarnya apa yang memotivasi kita untuk mencitai seseorang??
Sebatas kita memerlukan perhatian manusiakah??
Atau sebatas menjelmakan perasaan kita?
Setiap orang memiliki motivasi tersendiri untuk mencintai orang-orang yang dikasihi. Cinta memang sebuah anugrah yang tak dapat kita bantah. Adalanya ia hadir tanpa diundang, ia datang tiba-tiba, dan hilang dengan seenaknya. Cinta sebagai sebuah bentuk perasaan, terkadang mudah luntur dan hilang. Ketika ia ingin senantiasa kita pertahankan, maka butuh motivasi yang kuat sebagai landasan. 'Latar belakang sejarah' perasaan kita, harus dapat kita manajemen dengan baik. Sehingga kita tidak tertipu dengan rasa yang semu. Mungkin bagi beberapa orang, mencintai adalah hal yang sederhana. Tak perlu banyak berfikir, karna fikiran yang mengikis perasaan. Tak perlu menetapkan tujuan, biarlah ia mengalir begitu saja. Menikmati dalam ketidakjelasaan status ataupun hubungan. Tapi bagi orang-orang yang menjadikan cinta sebagai kekuatan, ia akan terus berjuang untuk memahami lebih dalam rasa cinta yang dimilikinya.

Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Alangkah indahnya, ketika cinta yang kita miliki adalah cinta yang bervisi. Cinta yang tumbuh karna kekuatan iman, bukan sebatas cinta yang terlegalkan dengan pernikahan. Cinta yang bervisi mengantarkan kita pada banyak kebaikan. Sebaliknya, cinta yang tak berorientasi hanya akan menimbulkan kepedihan , kekecewaan, sakit hati, bahkan kehancuran. Banyak orang yang terjerat oleh perasaan, dan berubah drastis ketika menemukan cinta yang tak sengaja dapat ia rasakan. Ya, cinta membuat segalanya berubah. Ada yang berubah menjadi lebih baik, sangat banyak yang merubah seseorang menjadi lebih buruk. Sungguh, cinta merubah segalanya.

Contoh sederhananya, adalah saat cinta menjadi pondasi dalam membangun keluarga. Saat cinta suami kepada istri hanya didasari atas dasar perasaan suka, maka suatu saat, ketika suami menemukan cela yang ada pada istrinya, maka perasaan suka itu semakin terkikis habis. Semakin hari, semakin dalam ia mengetahui akan kekurangan yang istrinya miliki. Alhasil, mungkin ketika cinta kian terkikis, maka benih-benih perceraian semakin dekat untuk dijadikan sebagai pilihan (Naudzubillah).

Namun, berbeda dengan orang yang melandaskan cinta dengan iman. Seberapapun cela yang ada pada pendamping hidupnya, ia akan terus mempertahankannya. Ia akan mencoba saling menasihati dan memperbaiki diri, agar kelak keturunan yang dilahirkan lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Karna Cinta Adalah ibadah, yang dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Ketika kita mencintai manusia, pada hakikatnya kita sedang mencintai sang Pencipta.Maka ketika cinta ternyata menjauhkan kita dari-Nya.Ketika cinta membuat kita bermaksiat pada-NyaKetika cinta bahkan membuat kita lalai untuk mendekat pada-NyaTanyakan pada diri kita : Siapakah gerangan yang sedang aku cinta???

Jikalau harus memilih :
Lebih baik mencintai seseorang atas dasar iman, daripada dicintai banyak orang dengan kemaksiatan...

Rabb, pertemukan kami dengan orang-orang yang senantiasa Mencintai-Mu.
Yang tak pernah padam Cinta-Nya karna Iman dihatinya.
Yang menjadikan cinta pada makhluk sebagai wujud Cintanya pada-Mu.

Rabb, biarkan kami belajar untuk dapat mencintai.

Karna Cinta yang menguatkan kami

Karna Cinta yang membuat kami masih berada disini.


Jatinangor, 2 Oktober 2010. 19.18.00

Tentang Keluarga (Part.1) : Jika Keluarga Dipandang Sebelah Mata

Selasa, 21 September 2010

Sebelum mengarungi samudera hidup, ada kalanya kita diharuskan untuk menyamakan tujuan, sehingga saat badai datang, tak ada lagi kebimbangan dalam menentukan arah. Semua awak adalah nahkoda kapal, yang sama-sama berjuang untuk menyelamatkan hidupnya sampai tujuan. Jika salah seorang awak mulai bosan dengan pelayaran yang menjemukan, maka nahkoda-lah yang mengingatkan bahwa lelahnya perjalanan menunjukkan dekatnya kita dengan tempat tujuan. Semua saling mengingatkan, tak ada yang pantas duduk dengan lega disaat semua orang disibukkan dengan ancaman yang membahayakan. Hanya saja peran selalu mempengaruhi siapa yang patut untuk dijadikan teladan... Bijaksanalah dalam melihat kondisi dan keadaan, disitulah sebenarnya waktu yang tepat untuk menentukan siapa nahkoda yang sebenarnya...

Jemari seakan memaksa saya untuk menulis catatan tentang tema ini. Sebentar,, sebelum beranjak lebih jauh perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa motivasi saya dalam menulis tema ini semata-mata karna saya mendapatkan inspirasi sederhana dari jalan kehidupan yang saya amati dekat-dekat ini, dari berbagai kisah yang saya temui. Bukan karna pengalaman, atau termotivasi untuk mendorong teman2 atau diri saya sendiri untuk enggan atau ingin menikah secepatnya.(^^')Dari sebuah radio muslim saya mendengar kajian tentang keluarga. Ada kata bijak yang terucap dari mulut seorang ustadzah saat itu :

"Salah satu bencana dan malapetaka terbesar dalam keluarga adalah saat seorang suami tidak mampu menjadi imam, dan seorang istri yang tidak mau menjadi makmum"

Naudzubillah, mungkin bukan barang langka lagi sepertinya, kita seringkali melihat kondisi keluarga dalam masyarakat yang sudah jauh dari etika dan norma sebenarnya. Bukan hanya di sinetron-sinetron yang banyak di tayangkan di layar kaca saja, mungkin kita juga sering melihat bagaimana kondisi di masyarakat sekeliling kita, tetangga, atau bahkan dalam keluarga kita sendiri, bagaimana keadaan rumah tangga yang tidak harmonis, bahkan cenderung ke arah kehancuran. Hubungan suami-istri yang tidak baik, perceraian, penganiayan dalam rumah tangga, anak yang tega membunuh ibunya, atau sebaliknya.

Ya, beginilah kalau menikah hanya dijadikan sebagai perubah status sosial belaka, saat kita tidak memiliki tujuan yang jelas bahwa menikah juga berfungi untuk membangun keluarga, membangun masyarakat, bahkan membangun bangsa yang dilandasi dari pondasi-pondasi dalam keluarga, dilandasi oleh pondasi agama yang kuat. Saat menikah hanya dijadikan sebagai kebutuhan manusiawi, bukan semata-mata berniat untuk menunaikan kewajiban sebagai insan manusia yang taat beragama. Saat menikah hanya didasari atas nama cinta, tanpa iman, tanpa kekuatan untuk senantiasa menjaga kesucian. Saat menikah ibarat barang dagangan yang diperjual belikan, dimana adakalanya kita bosan, ada kalanya kita tidak membutuhkan.

Ironis memang, bagaimana cita-cita masyarakat selama ini belum utuh memandang sebuah ikatan keluarga yang seharusnya dapat merubah peradaban bangsa, bahkan dunia. Jelas rasanya, penyebab kehancuran bangsa ini, bermula karna kehancuran keluarga dalam setiap tananan masyarakat yang mendukungnya. Kita sudah sama-sama mengamini bahwasanya pendidikan yang paling efektif berada dalam lingkup keluarga. Bagaimana seorang ayah dan ibu dapat bekerja sama untuk mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi pribadi yang baik. Lalu bagaimana keadaannya, jika kedua pimpinan dalam keluarga ini tidak dapat gotong royong untuk bertanggung-jawab memikirkan masa depan anak-anak mereka???

Sungguh, tanggung jawab orangtua sangat memiliki kendali yang besar dalam masa depan, dan kebaikan anak-anak mereka. Seringkali permasalahan dalam keluarga tidak dapat kita selesaikan dengan bijak, sehingga berdampak kepada semua anggota keluarga. Perlu adanya pembagian peran yang jelas, rasa percaya, perhatian yang intens agar semuanya berjalan dengan baik. Berkeluarga menjadi ujian organisasi dalam lingkup yang kecil, namun berdampak global dalam tatanan kehidupan.

Maka pikirkanlah matang-matang apa yang kita cita-citakan dari kelurga sederhana kita. Apa prestasi yang ingin kita raih bersama-sama??

Keluarga yang sakinah selalu mengantarkan kita dalam ketenangan jiwa seberapapun menderitanya kita

Keluarga yang mawaddah, selalu menghantarkan kita pada cinta antar sesama, berapapun banyaknya alasan kita untuk membencinya

Keluarga yang warahmah, selalu membuat diri kita terketuk untuk memberi, berbelas kasih, dan mengorbankan apa yang kita miliki

Kemudian ketiganya seakan menyatu, berpadu, dan terdispersi begitu indah, lalu wanginya tercium semerbak Syurga...

Quu Anfusikum wa ahlikum naara...


Keluarga Yang Diimpikan

Cita-cita seorang ayah

“Laki-laki adalah wujud manusia yang tak pernah nyaman jika ada hal tak mengenakan dan diluar kebiasaan. Dan seorang ayah adalah peran yang cocok untuk memperbaiki segalanya. Membuat segalanya menjadi lebih baik, teruntuk keluarga tercinta”

Bagaimana Seorang Ibu??

Seorang wanita yang kuat selalu melahirkan anak-anak yang hebat. Generasi penerus seakan hanya bercokol pada kemuliaan ibu mendidik anaknya. Sangat berpengaruh besar untuk merubah manusia dan peradaban.Seorang wanita yang baik selalu berusaha menjadi istri yang sholehah, menjadi pendidik yang baik bagi anak-anakanya, dan bermanfaat untuk keluarga.

Seperti apakah Seorang Anak?

Anak adalah mutiara bagi kedua orangtua. Mutiara yang tidak akan pernah tergantikan oleh kekayaan harta, maupun tahta. Maka seorang anak yang baik akan berusaha agar hidupnya senantiasa bernilai. Bukan hanya menjadi objek pendidikan bagi kedua orangtua, tapi turut serta pula dalam membangun keluarga yang sakinah.


Jatinangor, 21 September 2010

(Saat begitu Banyak Makna yang Belum dapat saya Fahami)

Ter-Untuk Saudara Perjuangan (Part.2)

Selasa, 10 Agustus 2010

Suatu waktu, Allah mentakdirkan kita berjumpa dalam sebuah amanah. Suatu ketika kami mengajakmu untuk bersama, menyingsingkan lengan, meluangkan perhatian, melakukan banyak hal. Amanah seakan mempertemukan kita tanpa sengaja, mempertautkan hati kita untuk berjuang bersama. Semua terasa teramat indah, ketika ada ucapan yang tersirat, bahwa kita sama-sama memiliki sebuah cita-cita yang mulia, sebuah tekad, dan banyak mimpi yang terlintas untuk kita wujudkan Bersama!! Bersama-sama sahabat!!.. Bekerja sama, dan sama-sama bekerja.

Awal pertemuan kita, diselingi dengan perkenalan. Dulu, kami tak sempat mengenalmu. Bahkan bertemu denganmu pun rasanya belum tentu. Kita sama-sama memperkenalkan diri, bertegur sapa, melebarkan senyuman memberi tanda keramahan. Kami bangga saat itu. Karna kehadiran kami disni tidak sendiri, ataupun terhitung jari. Ternyata cukup banyak orang yang peduli, merasa bertanggung jawab dengan keadaan lingkungannya saat ini. Pertemuan kita saat itu sungguh meriah, diselingi canda tawa, sukacita, dan kebahagiaan lainnya. Dulu kami merasa sendiri, namun pertemuan saat itu membuat kami mengerti, bahwa Allah telah menciptakan masalah dan sahabat untuk membantu kami menyelesaikannya. Amanah pertemukan kita, dan Pertemuan itu begitu indah.

Kami jadi teringat dahulu. Ketika kita sama-sama meluangkan waktu bersama. Merajut cita dalam keluarga baru. Sekedar menyiapkan rencana yang tak sederhana, dalam masa yang tak begitu lama. Menyiapkan tujuan, harapan, dan kekuatan sebagai bekal untuk menempuh sebagian episode yang akan kita lewati bersama... Kita pun banyak mengeluarkan pemikiran, mengasah daya analisa terhadap kebutuhan dan kondisi lingkungan. Idealisme kita saat itu terpacu, melewati batas waktu, menghiraukan dimensi masa lalu, berfikir seidealis mungkin. Kita sama-sama menuntut diri kita dan anggota keluarga kita untuk memberikan sebuah hal terbaik dari yang kita punya. Dari tetesan keringat, dari kucuran peluh yang melekat. Sampai suatu saat, pilar-pilar perencanaan begitu kuat. Sebuah Perencaan sebagai pijakan untuk melanjutkan langkah. Kita memulai dengan baik kawan, dan berharap akan selalu baik sampai akhir waktunya kelak.

Kitapun bersiap berbagi peran, membagi kewajiban sesuai kemampuan. Ada si Menteri yang bertanggung jawab, ada perangkat yang sigap berbuat. Suatu saat, kita disibukkan dengan pekerjaan dalam posisinya masing-masing. Sibuk melakukan persiapan kegiatan. Pekerjaan di masing-masing jabatan. Mungkin semakin lama dan dewasa, terlalu banyak tanggung jawab dan amanah yang perlu untuk dipikul dalam waktu yang bersamaan.. Tak jarang kita hanya disibukkan dengan tanggung jawab yang kita emban.Namun Terkadang melupakan, siapa sahabat kita dahulu, lupa bertegur sapa dengan mereka, menanyakan kabar, atau sekedar menawarkan bantuan. Mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing yang tak bisa terelakkan. Kamipun tak menuntut, karna kau pun tak pernah menuntut kami memberikan imbalan.

Namun, semakin lama. kami melihat ada kabut yang menghalangi kita.. Kabut itu semakin pekat,. Ada rasa yang gelisah, bahwa kau akan meninggalkan kebersamaan kita.Sampai Suatu waktu, kami mengundangmu untuk sekedar bertegur sapa. Melepas kejenuhan dari semua beban yang tak terbantahkan. Mengulang canda tawa di masa lalu, saat pertemuan mula dulu. Namun saat itu kami tak menemukanmu, entah hal apa yang menghalangimu untuk bertemu. Kami fikir, mungkin dirimu sedang disibukkan dengan rutinitas lain yang tak kalah menyita waktu. Kamipun berharap kabar darimu, berharap kau meluangkan waktu untuk sekedar memberi tahu, bahwa saat itu kau memang tak bisa untuk bertemu sementara waktu. Namun, kami tak mendapati mu melakukan itu. Kami pun berfikir, mungkin saat itu, kamu memang benar-benar tak bisa diganggu. Sungguh, kami mencemaskan ketidakhadiran mu saat itu. Terkadang kami tersadar, apakah ketidakhadiranmu itu disebabkan karena tuntutan kami yang terlalu berat membebanimu? Atau ada salah kata, ucap, atau tindakan yang melukai perasaanmu saat itu. Hingga menyebabkan kau pergi, dan enggan untuk bercerita bersama lagi? Keceriaan kami sedikit demi sedikit berkurang, ketika bagian dari keluarga sederhana kita semakin banyak yang sulit bertemu. Sulit, sangat sulit.

Badai tak bisa terelakkan, ujian sudah biasa menyambar.Amanah banyak memberi pelajaran untuk kita tentang hidup. Dan Allah telah menantang kita untuk menghadapinya. Menyadarkan bahwa begitu pentingnya rasa pengertian antar sesama. Saat seseorang tak diperhatikan, mungkin itu menjadi bisa yang cukup mematikan. Namun, pengertian bukanlah hal yang bisa dicapai di satu pihak. Saat memang tak ada pihak yang belum mengerti, maka kau perlu memberikan pengertian itu. Agar kita dapat menjaga komunikasi, menjaga agar persaudaraan ini tak terputus oleh benci.

Sahabat, tak banyak yang kami harapkan darimu. Keberhasilan menjalankan semua mimpi, bukan menjadi tujuan utama. Yang menjadi tujuannya adalah terus bersama dan sama-sama mewujudkannya. Sedih kiranya ketika harus mempartisi mimpi kita. Mengkotak-kotakan jabatan, dan enggan untuk bersama mencapai tujuan. Apalah gunanya bahagia, canda tawa, atau kepuasaan lainnya jika kita tak bisa membagi-bagikan kebahagiaan itu pada saudara-saudara kita. Saudara-saudara yang dahulu sama-sama bermimpi bersama kita. Merajut mimpi dan Cita. Sungguh, kami tak merasa bahagia. Ketika harus merasa bahagia karna kesuksesan, ataupun menelan pil pahit karna kegagalan dalam kesendirian.

Bagaikan sebuah pelayaran, kita semua adalah awak yang menentukan keberhasilan dalam mengarungi lautan. Bagai gerigi roda, saat satu mati, maka gerigi lain akan turut berhenti. Tak ada yang spesial dari amanah ini, jabatan ataupun peran. Biarkan keberasamaan menjadi madu, saat pengorbanan dituntut menjadi pil pahit untuk ditelan.

Kami berharap kita terus bersama, walau waktu terus membatasi kesempatan kita....

Afief Alkhawarizm
Jatinangor, 15 Agustus 2010
Curahan Ruang Kosong dari Amanah yang Senantiasa Merindukan Kebersamaan.
Sungguh, Allah mentakdirkan kita untuk berhasil secara jamaah, bersama-sama.

Ter-Untuk Saudara Seperjuangan (Part.1)

Perjuangan tak akan berhenti walau kau lelah kawan. Jangan pernah kau berfikir untuk berhenti meskipun kau kian melemah. Semakin lelah, pertanda kita telah melakukan banyak hal, dan semakin jauh kita telah melewati rintangan-rintangan di masa lalu. Yakinlah, suatu saat kelak Allah akan membukakan pintu kemenangan bagi kita, dan IA akan menebus semua kelelahan kita dengan Syurga-Nya. Semoga.

Sahabat, teruslah gapai mimpi-mimpi mu, walau begitu banyak orang yan mencela-mu. Celaan itu adalah bentuk perhatian, walaupun cukup melukai perasaan. Namun Jadikan Celaan itu sebagai media untuk memperbaiki diri. Kau pun tak perlu membenci orang-orang yang mencelamu, karna pada hakikatnya mereka memperdulikan kekuranganmu. Mereka begitu peduli, agar kau mampu memperbaiki diri.

Sahabat, mungkin begitu banyak ujian yang menimpamu. Masalah datang silih berganti, dan kau sering merasa sendirian untuk menghadapinya. Namun Yakinlah Allah selalu bersamamu. Ia tak akan pernah meninggalkanmu sendiri dalam ketakutan dan keputus-asaan. Kau pun sering meneteskan airmata ketika dirimu telah berada diambang kesedihan. Maka jangan biarkan airmata mematikan hatimu, jangan biarkan kesedihan mencampakkanmu ke dalam keterpurukan!!

Sahabat, hari ini adalah saatnya kamu bangkit!! Besyukurlah karna IA masih memberimu waktu untuk kembali berdiri. Berusahalah untuk terus berdiri, walau kau belum mampu untuk berlari. Kau tidak dapat terus menganggap bahwa hari ini adalah kelanjutan dari hari kemarin. Maka ubahlah hari esok dengan kesungguhanmu untuk bangkit pada hari ini. Kau tidak boleh selalu terpuruk kawan.

Sahabat, tahukah engkau? Bahwa di dunia ini terlalu banyak orang yang berputus asa dengan kehidupannya. Mereka tak mampu lagi untuk bangun dan bangkit, dan lebih memilih untuk mengakhiri kehidupan suramnya di hari ini. Masa lalu mereka lebih kelam dan suram. Penuh kabut dan kelabu. Mereka memutuskan harapan dengan kelemahan. Mematikan impian karna keterbatasan. Padahal harapan dan impian selalu hidup pada diri mereka, dan hanya hati yang sedang mati.

"Allah menciptakan harapan ditengah keputus-asaan. Ia menghadirkan cinta diatas kebencian, menyelipkan suka di antara penderitaan, meluangkan maaf atas segala salah dan khilaf.. Sungguh, mengapa kita terlalu sibuk memikirkan hal yg tidak kita suka, padahal Allah telah menghadirkannya di antara Kehidupan kita. Besyukurlah atas 2 wajah kehidupan yang saling berlawanan. Sudah saatnya kita bijak dalam menghadapi berbagai permasalahan"

Sahabat, terkadang dirimu ragu untuk melangkah. Bahkan untuk menentukan jejak terkadang kau terlalu takut untuk berpijak. Mungkin kegagalanmu dimasa lalu menjadimu sedikit trauma dengan keadaan saat ini. Jangan biarkan kegagalanmu dimasa lalu menghantuimu. Biarkan kegagalan itu menjadi bagian sejarah hidup yang akan kau kenang untuk belajar banyak tentang kehidupan. Kau tak perlu menghilangkan memori masa lalu yang menyedihkan, karna itu bagian dari kehidupan. Mengenang kegagalan adalah sebuah pijakan untuk menaklukan kemenangan.

"Biarkan setiap masalah dan beban itu menimpa diri kita, dan lihatlah Allah akan menambah kekuatan dan kasih sayang-Nya pada diri kita"

Sahabat, biarkan lisanmu selalu basah dengan do'a. Saat tak ada lagi yang mampu kau lakukan untuk bangkit, yakinlah hanya do'a yang mampu menguatkanmu. Sungguh, tak ada do'a yang tak terjawab, hanya saja terkadang jawabannya adalah Tidak untukmu. Yakinlah, Allah begitu tau apa yang pantas bagimu. Saat ini pasrahkan segala solusi padanya, dirimu cukup berikhtiar dengan segala hal yang mampu kau perbuat. Berusahalah dengan segenap kemampuan, baik yang kau biasa lakukan ataupun dari hal yang belum kau lakukan sebelumnya. Man jadda wa jada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, pasti dapatlah ia.

"Kekuatan seseorang menghadapi ujian berbanding lurus dengan kekuatan kita bertaqarrub kepada Allah. Saat diri ini melemah, mungkin indikasi bahwa semakin jauh kita dari Tuhan kita. Maka hati yang lapang dapat dirasakan ketika hati ini dapat begitu dekat dengan Sang Pencipta Masalah"

Sahabat, dekatkanlah dirimu pada Rabb-mu, dekatkan. Begitu dekat hingga tak ada lagi jarak yang terpisahkan dengan kemaksiatan. Dekatkan hatimu, bersyukurlah dengan lisanmu, dan beribadahlah untuk menjalankan kewajibanmu, menunaikan hak Tuhan. Ketika dirimu mampu begitu dekat, yakinlah bahwa suatu saat pasti ada jalan yang mengeluarkanmu dari kesedihan, menyelamatkanmu dari kehancuran. Berdoa'lah, selalu. walau kau lelah.

..........................
....
Wahai pemilik nyawaku, betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari-Mu, Kupasrahkan semua, pada-Mu
Tuhan, baru ku sadar, Indah nikmat sehat itu,
tak pandai aku bersyukur, kini kuharapkan cinta-Mu.

Kata-kata cinta terucap indah
mengalir berzikir di kidung do'aku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta, airmataku
teringat semua yang KAU beri untukku
Ampuni khilaf dan salaf, slama ini
Ya illahi, muhasabah cintaku

Tuhan kuatkan aku, lindungiku dari putus asa
Jika kuharus mati, pertemukan aku dengan-Mu
(EdCoustic : Muhasabah Cinta)
...............................

Saat Sesal tak kunjung reda.
Saat Harap tak kunjung tiba.
Memintalah, berdo'alah.
Dan lihatlah, kesedihan akan sirna
Dan keajaiban itu pun tiba.

Afief Alkhawarizm
Jatinangor, 12 Agustus 2010

Di bumi yang selalu ada harapan dan kejayaan
Tak ada kata untuk menyerah, Karna Allah Selalu mentakdirkan kita untuk bahagia.

Tentang Pemimpin

Selasa, 27 Juli 2010

Sebelum memimpin, yang pertama kali patut dilakukan adalah membuat orang yang kita pimpin "jatuh hati" pada kita. Karena, Pemimpin yang bijak terlebih dahulu menyentuh hati, baru meminta tolong.

Kata-kata ini terus terngiang dalam benak saya. Mencoba merenungi dan memaknai lebih dalam akan arti "menyentuh hati". Persoalan menyentuh hati memang perkara yang sangat sulit, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Saya sering melihat, ketika salah seorang pemimpin memang diikuti dan ditaati oleh 'bawahannya', tetapi disisi lain, ternyata bawahannya mengikuti hanya sebatas perintah kerja, bukan karena ia merasa bertanggung jawab atau merasa harus melakukannya dengan segenap hati. Sehingga, terkadang banyak orang yang bekerja atas dasar terpaksa, sebuah tanggung jawab tidak lagi dianggap sebuah kenikmatan. Hanya sebatas beban yang memberatkan. Dalam lingkup dunia kerja, hal ini memang pantas terjadi, tapi bagaimana jika perasaan ini dirasakan oleh seorang aktifis dalam lembaga kemahasiswaan??

Kita dituntut untuk bekerja tanpa pamrih, dituntut kontribusi tanpa iba. Ketika perasaan tidak nyaman akan sebuah amanah terus menggerogoti hatinya, maka bagi saya ini adalah sebuah malapetaka. Seorang pemimpin yang baik haruslah peka akan kondisi yang terjadi. Ia harus menciptakan nuansa organisasi yang menyenangkan, kondusif dan hal positif lainnya. Ketika ia mampu memanipulasi kondisi yang menjemukan menjadi sebuah taman hiburan, maka sepertinya pengorbanan telah menjadi hal yang pantas kita berikan.

Prinsip kepemimpinan sepertinya sudah bergeser dari sebuah nilai yang saya pahami dahulu. Saya berbicara bukan pada ruang lingkup dunia kerja yang profesional. Tapi berbicara pada skala mikro, sebuah lembaga kemahasiswaan, ataupun dalam rumah tangga (^_^'). Yang dimana sikap dan perilaku seorang pemimpin perlu dipandang khusus, dilihat dari kebutuhan dan kondisi di lapangan. Dalam lingkup ini, "Bawahan" dalam arti staff adalah orang yang berjuang bersama kita untuk mewujudkan cita-cita yang diimpikan seorang pemimpin. Suatu waktu, impian dan cita-cita itu disadari betul oleh rekan kita, sehingga mereka terketuk hatinya untuk membantu kita dalam sebuah pergerakan. Mereka pun berjuang dengan merelakan waktunya, bahkan tak jarang ada yang mengorbankan kuliahnya. Dalam hal ini, pemimpin ditolong dengan keberadaan anggotanya!

Yang membuatmu menjadi pemimpin bukanlah posisi-mu, tapi dilihat dari manfaat keberadaan-mu

Masalah tempat, ini yang menjadi catatan penting. Kita harus bisa menempatkan diri pada tempatnya. Bahkan sampah-pun harus dibuang pada tempatnya bukan?? Apalagi orang yang sangat berharga. Karna bagi saya, pemimpinlah yang memiliki peluang dengan mobilitas yang sangat tinggi. Ia dapat berpindah-pindah tempat dengan keleluasaan wewenang. Ada kalanya kita dituntut untuk meninggalkan kursi jabatan, sejenak melihat kondisi di semua 'tempat". Adakalanya kita perlu memperhatikan setiap sudut dari lingkup organisasi kita. Bahkan ada kalanya kita harus langsung turun tangan, disaat memang hanya tangan kita yang mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Sulitnya menjadi seorang pemimpin bukan karna besarnya tanggung jawab, namun karna harus menyesuaikn cara memimpin yang dapat diterima semua kalangan. Ada kalanya kita harus tegas dibalik kelembutan ucapan, perlu bertindak keras dibalik keramahan, perlu profesional dibalik kebersamaan. Ketika kepemimpinan terkesan monoton & kaku, sepertinya ada banyak hal yg tidak kita perhatikan bahkan terabaikan, walaupun pada kenyataannya, kecenderungan karakter seorang pemimpin perlu dpertahankan.

Banyak pemimpin yang enggan melakukan sesuatu yang menurutnya dapat menjatuhkan harga dirinya. Ia merasa, rasanya tak pantas melakukan hal yang biasa dilakukan oleh 'bawahannya'. Mungkin takut kalau pekerjaan itu akan menghancurkan wibawanya. Misalnya, untuk sekedar membersihkan tempat kerja-pun (sekre.red) sepetinya sebuah hal yang dapat menghinakan dirinya. Atau ada seorang pemimpin yang merasa enggan untuk membantu 'bawahannya' ketika ia dalam kesulitan dalam pekerjaanya. Karna baginya itu sudah menjadi tanggung jawab 'anggotanya'. Sebuah hal yang lucu memang. Kita dibantu, tapi menyulitkan orang yang berniat untuk menolong kita.

Kewibawaan, bukanlah sebuah hal yang mampu diciptakan oleh seorang pemimpin. Karna kewibawaan seorang pemimpin adalah hadiah yang diberikan oleh orang yang kita pimpin, dan disebabkan karna mereka melihat sebuah sikap yang luar biasa yang tampak pada diri kita.

Memimpin dengan ke-Teladan-an

Jangan pernah berharap orang lain tergerak, ketika kita yang menjadi pemimpinnya tidak mau bersama-sama untuk bergerak. Kita dapat menggerakkan dengan sebuah pergerakan, bukan hanya diam ataupun sekedar ucapan.

Pemimpin bukan hanya orang yang berinisiatif untuk bergerak, tapi orang yang mampu menggerakkan!

Lisaanul hal afshohu min lisaanil maqaal
Bahasa kerja lebih fasih daripada bahasa kata-kata

Rosulullah SAW kita jadikan teladan bukan hanya karena ia mengajarkan kebaikan dengan kata-kata dalam hadist-nya, tetapi ia mengajarkan kita dengan keteladanan. Seorang ayah yang bijak, akan terlebih dahulu mengajarkan dengan perbuatan dibanding hanya sebatas dengan perintah ucapan.
Ia terlebih dahulu hidup bersih, sebelum mengingatkan anaknya untuk menjaga kebersihan. Seorang anak adalah peniru yang ulung, ia tidak akan meniru apa yang kita ucapkan, tapi akan mencontoh ucapan yang kita lakukan.

Selamat memaknai kepemimpinanmu kawan....

To Be Continue..
"Memimpin dengan Hati, Bekerja dengan Profesionalitas"

Himbauan :
Catatan ini hanya diperuntukkan kepada orang yang bermental pemimpin!

Memaknai Arti Cinta

Jumat, 25 Juni 2010

“Banyak cinta yang kita buang dengan percuma. Hawa nafsu menjadi makhluk liar dan sulit dikendalikan ketika cinta sudah disalah artikan..Banyak dari kita yang begitu mudah mencinta, tanpa tahu apa makna dari cinta yang sesungguhnya...”

Sahabat, cinta ibarat tumbuhan liar, yang dapat tumbuh kapanpun dan dimanapun. Ia akan selalu tumbuh subur walaupun kau tak pernah menanamnya, ia akan berkembang walaupun kita tak pernah memupuknya. Karna Cinta adalah anugerah, Karna Cinta adalah karunia yang Allah titipkan pada setiap hati kita. Ia tak mengenal waktu, tak mengenal 'siapa yang punya lahan', tidak memandang bagaimana ia dapat tumbuh. Maka yang kau harus lakukan, bukan merawatnya. Tapi mencabutnya ketika ia menjadi penggangu di lahan kebunmu. Kebun tempat kau menanam bibit-bibit keimanan, tempat kau menumbuhkan pohon ketaqwaan. Sungguh, jika kita tak mampu mencabutnya, maka akan ada tumbuhan liar lain yang mengganggu kebunmu. Ya, kebun itu adalah hatimu...

Cinta begitu rumit, ketika kita tidak dapat memaknai-nya secara bijak. Terkadang kita mendefinisikan cinta terlalu sempit, hingga terbuai oleh wajahnya yang semu.. Terkadang kita mengejawantahkan nafsu atas nama cinta. Hingga kita beranggapan, ketika kita telah mencintai sesorang, dan orang yang kita cintai mencitai kita, sudah selayaknya ia selalu ada bersama kita. Mendayung bersama dalam sebuah pelayaran kehidupan dalam perahu rumah tangga. Hingga terkadang kita menghalalkan berbagai cara agar dapat mewujudkannya menjadi nyata. Namun tanpa sadar, selama ini kita keliru dengan perasaan cinta yang kita punya.

Tanyalah pada dirimu : Mengapa aku harus mencintainya??

Sahabat, kita sering dibodohi oleh perasaan kita sendiri. Menganggap bahwa apa yang kita rasakan haruslah kita nikmati sepenuhnya. Tanpa sadar, kita menikmati racun yang kita anggap madu. Perasan cinta memang manusiawi, namun ketika membuat kita terlena, itu tak lebih dari rayuan syetan untuk menghacurkan sisi lain dari kehidupan kita.

Syetan telah membuat kita terlena. Kita dimabukkan dengan arak berbahan cinta. Ia tahu, betapa lemahnya manusia terhadap perasaan yang dimilikinya, Cinta. Syetan tahu, bagaimana kuatnya kita untuk menggapai sepenuhnya untuk merasakan betapa nikmatnya anugerah Cinta. Namun sayang, cinta sudah disalah artikan. Cinta tak lagi menjadi obat yang dapat menyehatkan. Ia menjadi racun pada jiwa-jiwa yang rapuh. namun sayang, Cinta tak lagi menguatkan. Bahkan ia akan melemahkan sendi-sendi perasaan yang terselimuti oleh nafsu.

Jika kau benar-benar mencintainya atas nama Cinta
Maka jangan kau geser esensi cinta menjadi nafsu buas-mu
Maka jangan kau benarkan perasaan yang menghantui-mu itu
Jika yang kau maksud cinta itu suci
maka jangan pernah mengotorinya dengan sentuhan-mu
maka jangan pernah mengotorinya dengan pandangan-mu

Sahabat, jika kau mencintai seseorang yang belum pantas kau cintai
Maka jauhilah ia, karna boleh jadi cinta-mu yang semu itu
malah akan mengantarkan nya ke azab neraka
menjauhkannya dari cinta yang ia harapkan sesungguhnya, dari Tuhannya.

Sungguh, kau tahu, bahwa yang pantas ia cintai hanyalah Tuhannya
cintamu hanya akan jadi pengganggu
saat ia ingin melabuhkan sepenuh Cintanya untuk Sang Pencipta

Sahabat, jika kau benar-benar mencintai ia
maka buatlah ia lebih mencintai Penciptanya
Bukan mencintaimu, ataupun hartamu

Sahabat, jika kau yakin jodoh itu ada
Maka Yakinlah Allah telah menyiapkannya untukmu
Maka jangan pernah kau takut, kau tak akan mendapatkannya
Maka jangan pernah takut, kau tak ada dapat hidup bersamanya
Jika ia jodohmu, maka Allah akan mempertemukanmu di dunia-Nya
Jika tak sempat di dunia,
Maka Allah akan mempertemukan bidadari untuk-mu di Syurga-Nya

Sahabat, jika kau percaya
Cinta itu anugerah yang suci,
maka jangan pernah kau lumuri ia dengan nafsu-mu
Hingga kau merasa nyaman ketika dekat bersamanya
Padahal ia belum halal bagimu
Hingga kau merasa tentram ketika dekat disampingnya
Padahal ia bukan siapa-siapa bagimu
Sungguh, Jika cintamu seperti itu
Cinta itu sungguh keliru

Sahabat, Jika kau yakin Cinta-lah yang menguatkanmu
Biarkan ia tumbuh subuh di hatimu
Agar keimananmu berkembang semerbak bunga
Bukan cinta yang mematikan hatimu
Bukan cinta yang membunuh nuranimu
Bukan cinta yang menipumu
Bukan cinta yang mewarnai dengan sejuta wajahnya yang semu
Melupakanmu dari hakikat diciptakannya dirimu

biarkan ia berkembang
biarkan ia tumbuh subur
biarkan ia menjadi bunga
yang mewangi
yang menghiasi hidupmu

Biarkan ia ada bukan semata untuk-mu
Namun biarkan ia ada bersamamu
untuk bersama menggapai Anugrah Cinta-Nya bersamamu...


~Cinta dengan sekelumit kerumitannya~
Biarkan ia berkembang, melayang, dan meninggalkanmu
di saat kau tak mampu mewadahkannya dengan baik.
(Afief Alkhawarizm)







Berhati-hatilah dalam Bersikap

Rabu, 23 Juni 2010

Kesulitan untuk dimaafkan membuat kita berhati-hati alam bersikap, dan jangan pernah meremehkan kesalahan yangg kita lakukan kepada manusia, sekecil apapun itu.Pepatah "Alloh SWT saja Maha Pengampun dan Pemaaf bagi setiap hamba yang mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada-Nya" itu motivasi untuk orang yg disakiti, sepertinya tidak pantas dijadikan dalih kita ketika berbuat salah, sehingga meremehkan setiap kesalahan yg kita lakukan. Itu yg saya fahami..... (Afief Alkhawarizm)

Begitu banyak dosa yang kita lakukan mungkin karena kita terlalu sering menganggap remeh dosa-dosa kecil. Padahal yang namanya dosa adalah sebuah keburukan dan akan dimintai pertanggung jawabannya. dan Allah tidak akan pernah luput dari segala macam dosa yang kita perbuat, besar ataupun kecil dosa itu. Sungguh, tidak begitu malu-nya kah kita berhadapan dengan Allah saat bertemu dengan-Nya di akhirat kelak?? tidak mengerikannya-kah neraka di mata kita?? begitu perihnya azab, tetesan api neraka yang membara. Huffhh,, membayangkannya saja saya tidak kuat sepertinya.

Seorang ustadz yang saya lupa namanya pernah berkata : Berhati-hatilah terhadap dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia, karna kita tidak hanya meminta ampun kepada Allah saja, tapi harus mendapatkan penerimaan maaf dari orang yang kita dzolimi. Istilahnya kalau kita dosa sama Allah, kita hanya meminta maaf kepada 1 pihak saja, yaitu Allah SWT, sedangkan ketika kita berdosa kepada sesama manusia, kita harus meminta maaf kepada 2 pihak, Allah dan manusia. Jadi, masih meremehkan dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia??

Kita sering mendengar 'gurauan lucu', ketika seseorang ingin meminta maaf kepada orang yang disakitinya. Tidak jarang kita juga sering mengucapkan : "Maafin ya, dosa loh kalau ga mau maafin, orang Allah aja memaafkan dosa hambanya, masa kita sebagai makhluknya pelit banget ngasih maaf, maafin ya.. please!!". Sambil sedikit memaksa dan merayu sepertinya itu ucapan yang sering kita lontarkan. Bukan dengki atau apapun, ketika sering terbersit ucapan itu, saya malah berfikir : Ya, Pantas aja Allah mau memaafkan, karna Allah itu memiliki sifat Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha bijaksana. Jadi ya wajar saja kalau Allah 'bersikap' rahman seperti itu, begitu fikiran sederhana saya. Bahkan kita sering melupakan bagaimana syarat mendapatkan kata 'penerimaan maaf' dari Allah. Tidak cukup hanya sebatas ucapan penyesalan, tapi masih banyak yang harus kita lakukan, diantaranya berjanji tidak akan mengulanginya, ikhlas, istighfar, memenuhi hak, dll.

Untuk memaafkan memang suatu yang rumit. Makanya kita harus berfikir sebelum bersikap dan bertindak, kira-kira ketika kita melakukannya kita PD gak bakal dapet kata maaf dari manusia, atau Allah SWT. Kalau gak yakin bakal dimaafin, ya mending jangan coba-coba deh berbuat salah, apalagi sampai mendzolimi seseorang. Terkadang kita meremehkan saat melakukannya, dan baru merasa bersalah ketika mendapat akibatnya. Berhati-hatilah, jangan sampai kita dijerumuskan ke neraka dan ditimpa dengan azab karna kita sering meremehkannya, dan tidak sadar saat melakukannya.. Naudzubillah.


Kebijaksanaan dalam Memaknai Amanah

Teruntuk sahabat2ku yang tak pernah mengenal kata lelah demi memperjuangkan kebermanfaatan hidupnya. Teruslah berikan sebagian cahayamu meski dirimu kian rapuh, karna semakin lama, semakin lemah cahaya yang kau punya. Sebelum semuanya terlambat, berjuanglah untuk terus meneteskan keringat-keringat perjuangan. Ikhlaskanlah,, dan Malaikat akan selalu berdo'a atas semua pengorbanan-mu, dan Allah, akan senatiasa memberi kekuatan kepadamu..
Yakinlah, bahwa amanah yang kau emban bukan hanya kepercayaan yang manusia berikan kepadamu, tapi anugerah dan kepercayaan yang Allah titipkan padamu,Maka ketika kau merasa lelah, yakinlah Allah akan terus menjaga dan menguatkanmu...

Teruntuk sahabatku yang merasakan bagaimana sulitnya menjalankan setiap tuntutan yang ada,, Disaat tuntutan itu kau anggap bukan menjadi masalah yang harus kau penuhi,, disaat kau anggap setiap tuntutan itu tidak bermanfaat untuk dirimu,, disaat tuntunan itu membuatmu lebih lelah dan merasa membebani,, Berbahagialah ketika kau terus dituntut untuk melakukan banyak hal. Itu merupakan tanda bahwa pada dirimu terdapat banyak potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber kebaikan.... Jangan pernah mengeluh untuk berbuat banyak dan manfaat. Karna suatu saat, akan ada kalanya kita menuai dari apa yang telah kita kerjakan... Bersabarlah...

Teruntuk sahabat2ku yang pernah merasa bekerja sendirian, dan ditinggalkan oleh teman seperjuangan,,, dan saat itu kau begitu lemah untuk melakukan segalanya,...
Bersabarlah, ada kalanya Allah mengujimu dalam kesendirian, Allah ingin melatihmu bersabar, dan IA ingin mengujimu, Apakah engkau benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk melakukan banyak hal dalam kebaikan, walau dalam kesendirian... Maka tetaplah lakukan apa yang kau anggap patut untuk dikerjakan, karna Allah selalu melihat pengorbananmu..

Teruntuk sahabat yang merasa tidak dihargai atas kerja-kerja beratmu, Kau sudah mengeluarkan banyak tenaga dan fikiran, tapi disisi lain orang lain mengacuhkanmu, tak menghargai peluh yang kau keluarkan disaat kau telah mengorbankan segala-nya... kau korbankan waktu sibukmu,dan mengabaikan perhatianmu akan kepentingan dirimu,, Ikhlaskanlah,,, karna Allah sedang menguji ketulusan hati-mu, Menguji apakah kerja kerasmu, kau lakukan dengan segala keikhlasan, tanpa mengharapkan pujian, atau aspresiasi semu yang manusia berikan...

Teruntuk sahabat yang pernah merasa tersakiti oleh ulah sahabat yang kamu anggap begitu menjengkelkan,,,, dan saat itu hatimu terasa begitu tersakiti,, Terimalah dengan senyuman, karna sebenarnya perilaku menjengkalkan nya itu merupakan cara yang dipahaminya untuk mengakrabkan dirinya dengan-mu...Untuk saling memahami bukanlah hal yang sulit, Kita hanya butuh waktu untuk bertindak bijak dalam menjalin persahabatan.. walaupun terkadang caranya kau anggap keliru....

Teruntuk sahabat2ku, yang merasa keberadaanmu dalam menjalani amanah bukan pada posisi yang tepat, merasa kurang pantas atau kurang pengalaman dalam menjalankan amanah yang diberikan padamu.. Yakinlah, amanah tidak akan pernah jatuh pada orang yang salah,, Tidak ada ketetapan Allah yang begitu sia-sia dan meleset dengan percuma.. Yakinlah bahwa Allah ingin memberimu banyak pelajaran, Hal yang baru terkadang membuat-mu bisa lebih terbuka akan hal yang belum kau pahami sebelumnya, membuka pemikiranmu, bahwa dunia tak sesempit hal yang mampu terlihat oleh indera.. Pengalaman adalah guru yang keras, kau dipaksa menempuh ujian dahulu, baru mengetahui maknanya.. Namun aku yakin, pengalaman baru-mu akan menjadikan mu begitu kuat..

Kepada sahabat-sahabatku yang cukup sulit untuk kulihat, Takukah kau, bahwa ketidak-beradaanmu dalam setiap agenda kebaikanmu, membuat aku dan sahabat2mu kehilangan orang yang mampu menutupi segala kekurangan dan kelemahan yang ada. Aku dan sahabatmu begitu tahu akan kesibukanmu, tapi kami hanya berharap kau berikan kabar bahwa kau tidak ada saat itu,, Tahukah kau ketika kami terus menunggu dan menunggumu untuk kesekian kalinya,, Aku dan sahabatmu khawatir memikirkanmu,, Khawatir ketidakberadaanmu disini adalah ulah ku, atau kau tidak merasa nyaman dengan kondisi sekelilingmu,, dan yang kau perlu tahu, kami disini terus menantikanmu, untuk terus bersama merajut mimpi kita,, Mimpi yang dulu kita fikirkan bersama.. namun aku yakin mimpi itu sebatas angan-angan jika tanpa kehadiranmu...

Kita semua ingin memenangkan ujian ini bersama-sama, tak ada yang tertinggal langkah, atau merasa dirinya belum berguna.. Keberhasilan terlihat ketika kita mampu menguatkan setiap langkah kita secara bersama-sama. Kebersamaan banyak memberikan arti untuk semua perubahan yang kita mimpikan.... dan KAU ada disaat Allah memberikan kekurangan pada setiap kelebihan yang kau punya.. Maka jadikanlah dirimu berharga dengan menjadikanmu benang yang akan kita pintal bersama....

"Pejuang sejati tak akan pernah meninggalkan medan pertempuran,.
walaupun banyak musuh menghadang di jalan,
walaupun tak ada lagi kawan yang menemani berjuang,
walaupun raga tak kuat lagi untuk menembakan busur & panah ke jantung lawan,
walaupun tak ada lagi kesempatan yang tersisa untuk menang...,
walaupun telah banyak darah yang membanjiri raga,
walau tak ada lagi harapan untuk hidup & hanya pilihan kematian untuk-nya.
Karna bagi-nya MATI lebih mulia daripada hanya bisa lari menjadi seorang pecundang...

Sewaktu kita terlahir ke dunia, kita menangis, dan semua orang tertawa melihat bayi mungil telah lahir ke dunia.. dan ketika kita mati, mampukah kita tersenyum bangga, karena melihat orang yang kita cintai menangis pilu karena kepergian kita??? ,, manusia adalah makhluk sejarah yang akan terus hidup, walau hayat telah tiada dan pergi meninggalkan dunia. Kita akan terus hidup lewat kenangan yang terus diingat oleh orang-orang yang kita cintai. Maka buatlah orang lain mencintai kehidupan kita. Dengan anurah raga dan sisa tenaga yang tersisa, buatlah lembaran sejarah yang membuat kita tetap hidup disaat kematian kita"

Tetaplah bijaksana dalam memaknai amanahmu....
(Terinspirasi dari semua orang yang pernah kukenal saat beramanah)

Kelemahanmu adalah Bentuk Ujianmu

~Ya Allah KAU remukkan kesombonganku dengan kepayahanku~

Masalah memang membuat seseorang enggan untuk tersenyum. Kepayahan kita dalam menghadapinya membuat kita begitu lesu, tak berdaya. Sungguh, betapapun hebatnya seseorang pasti akan terasa terbebani dengan masalah yang menimpanya. Allah menguji kita sesuai dengan kelemahan yang kita punya. Jika kita lemah dalam harta, Allah akan menguji kita dengan kemiskinan. Jika kita lemah cinta, Allah akan menguji kita dengan wanita. Jika kita lemah dengan pendidikan, maka Allah akan menguji kita dengan kebodohan. Jika kita lemah dalam Akhlaq, maka Allah menguji kita dengan kehinaan.

Chatting dengan Tuhan

Selasa, 22 Juni 2010

Kamu memanggilKu ?
Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
Ini TUHAN.Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
banyak ketidakpastian.
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
Apa yang menarik dari manusia?
Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

`dari seorang Sahabat`

Untuk para Aktifis Part.2

Senin, 12 April 2010

Teruntuk sahabat2ku yang tak pernah mengenal kata lelah demi memperjuangkan kebermanfaatan hidupnya. Teruslah berikan sebagian cahayamu meski dirimu kian rapuh, karna semakin lama, semakin lemah cahaya yang kau punya. Sebelum semuanya terlambat, berjuanglah untuk terus meneteskan keringat-keringat perjuangan. Ikhlaskanlah,, dan Malaikat akan selalu berdo'a atas semua pengorbanan-mu, dan Allah, akan senatiasa memberi kekuatan kepadamu..

Yakinlah, bahwa amanah yang kau emban bukan hanya kepercayaan yang manusia berikan kepadamu,
tapi anugerah dan kepercayaan yang Allah titipkan padamu,Maka ketika kau merasa lelah, yakinlah Allah akan terus menjaga dan menguatkanmu...

Teruntuk sahabatku yang merasakan bagaimana sulitnya menjalankan setiap tuntutan yang ada,, Disaat tuntutan itu kau anggap bukan menjadi masalah yang harus kau penuhi,, disaat kau anggap setiap tuntutan itu tidak bermanfaat untuk dirimu,, disaat tuntunan itu membuatmu lebih lelah dan merasa membebani,, Berbahagialah ketika kau terus dituntut untuk melakukan banyak hal. Itu merupakan tanda bahwa pada dirimu terdapat banyak potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber kebaikan.... Jangan pernah mengeluh untuk berbuat banyak dan manfaat. Karna suatu saat, akan ada kalanya kita menuai dari apa yang telah kita kerjakan... Bersabarlah...

Teruntuk sahabat2ku yang pernah merasa bekerja sendirian, dan ditinggalkan oleh teman seperjuangan,,, dan saat itu kau begitu lemah untuk melakukan segalanya,...
Bersabarlah, ada kalanya Allah mengujimu dalam kesendirian, Allah ingin melatihmu bersabar, dan IA ingin mengujimu, Apakah engkau benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk melakukan banyak hal dalam kebaikan, walau dalam kesendirian... Maka tetaplah lakukan apa yang kau anggap patut untuk dikerjakan, karna Allah selalu melihat pengorbananmu..

Teruntuk sahabat yang merasa tidak dihargai atas kerja-kerja beratmu, Kau sudah mengeluarkan banyak tenaga dan fikiran, tapi disisi lain orang lain mengacuhkanmu, tak menghargai peluh yang kau keluarkan disaat kau telah mengorbankan segala-nya... kau korbankan waktu sibukmu,dan mengabaikan perhatianmu akan kepentingan dirimu,, Ikhlaskanlah,,, karna Allah sedang menguji ketulusan hati-mu, Menguji apakah kerja kerasmu, kau lakukan dengan segala keikhlasan, tanpa mengharapkan pujian, atau aspresiasi semu yang manusia berikan...

Teruntuk sahabat yang pernah merasa tersakiti oleh ulah sahabat yang kamu anggap begitu menjengkelkan,,,, dan saat itu hatimu terasa begitu tersakiti,, Terimalah dengan senyuman, karna sebenarnya perilaku menjengkalkan nya itu merupakan cara yang dipahaminya untuk mengakrabkan dirinya dengan-mu...Untuk saling memahami bukanlah hal yang sulit, Kita hanya butuh waktu untuk bertindak bijak dalam menjalin persahabatan.. walaupun terkadang caranya kau anggap keliru....

Teruntuk sahabat2ku, yang merasa keberadaanmu dalam menjalani amanah bukan pada posisi yang tepat, merasa kurang pantas atau kurang pengalaman dalam menjalankan amanah yang diberikan padamu.. Yakinlah, amanah tidak akan pernah jatuh pada orang yang salah,, Tidak ada ketetapan Allah yang begitu sia-sia dan meleset dengan percuma.. Yakinlah bahwa Allah ingin memberimu banyak pelajaran, Hal yang baru terkadang membuat-mu bisa lebih terbuka akan hal yang belum kau pahami sebelumnya, membuka pemikiranmu, bahwa dunia tak sesempit hal yang mampu terlihat oleh indera.. Pengalaman adalah guru yang keras, kau dipaksa menempuh ujian dahulu, baru mengetahui maknanya.. Namun aku yakin, pengalaman baru-mu akan menjadikan mu begitu kuat..

Kepada sahabat-sahabatku yang cukup sulit untuk kulihat, Takukah kau, bahwa ketidak-beradaanmu dalam setiap agenda kebaikanmu, membuat aku dan sahabat2mu kehilangan orang yang mampu menutupi segala kekurangan dan kelemahan yang ada. Aku dan sahabatmu begitu tahu akan kesibukanmu, tapi kami hanya berharap kau berikan kabar bahwa kau tidak ada saat itu,, Tahukah kau ketika kami terus menunggu dan menunggumu untuk kesekian kalinya,, Aku dan sahabatmu khawatir memikirkanmu,, Khawatir ketidakberadaanmu disini adalah ulah ku, atau kau tidak merasa nyaman dengan kondisi sekelilingmu,, dan yang kau perlu tahu, kami disini terus menantikanmu, untuk terus bersama merajut mimpi kita,, Mimpi yang dulu kita fikirkan bersama.. namun aku yakin mimpi itu sebatas angan-angan jika tanpa kehadiranmu...

Kita semua ingin memenangkan ujian ini bersama-sama, tak ada yang tertinggal langkah, atau merasa dirinya belum berguna.. Keberhasilan terlihat ketika kita mampu menguatkan setiap langkah kita secara bersama-sama. Kebersamaan banyak memberikan arti untuk semua perubahan yang kita mimpikan.... dan KAU ada disaat Allah memberikan kekurangan pada setiap kelebihan yang kau punya.. Maka jadikanlah dirimu berharga dengan menjadikanmu benang yang akan kita pintal bersama....

"Pejuang sejati tak akan pernah meninggalkan medan pertempuran,.
walaupun banyak musuh menghadang di jalan,
walaupun tak ada lagi kawan yang menemani berjuang,
walaupun raga tak kuat lagi untuk menembakan busur & panah ke jantung lawan,
walaupun tak ada lagi kesempatan yang tersisa untuk menang...,
walaupun telah banyak darah yang membanjiri raga,
walau tak ada lagi harapan untuk hidup & hanya pilihan kematian untuk-nya.
Karna bagi-nya MATI lebih mulia daripada hanya bisa lari menjadi seorang pecundang...

Sewaktu kita terlahir ke dunia, kita menangis, dan semua orang tertawa melihat bayi mungil telah lahir ke dunia.. dan ketika kita mati, mampukah kita tersenyum bangga, karena melihat orang yang kita cintai menangis pilu karena kepergian kita??? ,, manusia adalah makhluk sejarah yang akan terus hidup, walau hayat telah tiada dan pergi meninggalkan dunia. Kita akan terus hidup lewat kenangan yang terus diingat oleh orang-orang yang kita cintai. Maka buatlah orang lain mencintai kehidupan kita. Dengan anurah raga dan sisa tenaga yang tersisa, buatlah lembaran sejarah yang membuat kita tetap hidup disaat kematian kita"

Tetaplah bijaksana dalam memaknai amanahmu....
(Terinspirasi dari semua orang yang pernah kukenal saat beramanah)

Salam Hangat,
Afief Alkhawarizm

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.