Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Istikharah Cinta

Minggu, 10 Juli 2011

Ini adalah istikharah pertama nisa. Saat dihadapkan pada pilihan hidup yang rumit, ia selalu memulainya dengan 'meminta pendapat tuhan' mengenai pilihannya. Setelah sujud terakhirnya di sepertiga malam, ia melanjutkan sholat 2 rakaat yang dipercayainya mampu memantapkan hatinya untuk menentukan pilihan. Dalam do'anya, ia meneteskan airmata penuh kekhusyu'an...

"Ya Allah, aku memohon pilihan menurut pengetahuan-Mu dan memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu, juga aku memohon karunia-Mu yang besar, sebab sesungguhnya Engkau-lah yang berkuasa dan aku tidak berkuasa. Engkaulah yang Maha Tahu, dan aku tidak mengetahui apa-apa. Engkau mengetahui segala yang gaib.

Rabb, jika rencana pernikahan-ku ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku, baik di waktu dekat ataupun dalam waktu panjang, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah. Serta berikanlah keberkahan di dalamnya..

Namun jika Engkau mengetahui bahwa rencana pernikahan ini buruk untukku, dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku, baik di waktu dekat maupun dalam waktu panjang, maka jauhkanlah hal itu daripadaku. Jauhkanlah aku daripadanya serta takdirkanlah untukku yang baik-baik saja dimana saja adanya, kemudian puaskanlah hatiku dengan takdir-Mu itu..."


Semakin lama ayahnya semakin mendesaknya untuk memberiikan jawaban. Sudah 2 minggu ia diberi waktu, namun sampai saat ini nisa belum juga memberi jawaban atas pertanyaan ayahnya, sekaligus pertanyaan pemuda yang melamarnya 2 minggu silam.

Ia adalah seorang lelaki berumur 2 tahun terpaut diatas umur nisa. Anak salah seorang teman ayahnya. Secara perekonomian sudah mapan, karna pemuda itu bekerja di salah satu perusahan terkemuka di jakarta. Sudah memiliki mobil, rumah, bahkan menurut kabar sudah mempersiapkan tabungan untuk berbulan madu bersama nisa ke luar negri. Itupun jika nisa tidak menolak lamarannya.

Namun nisa memiliki keraguan dalam hatinya. Karna lelaki yang melamarnya belum memiliki pemahaman agama yang baik. Kalau untuk mengerjakan kewajiban agama memang tidak pernah bolong, tapi kalau untuk membina rumah tangga dengan pemahaman agama seadanya seperti itu, rasanya ia masih ragu. Dari dulu nisa berkeinginan memiliki seorang suami yang mapan, bukan hanya mapan dalam masalah perekonomian, tapi juga dalam keagamaan. Karna baginya, pernikahan yang berkah harus mampu melahirkan generasi-generasi yang berjuang untuk ummat, bukan sebatas menjadikan anak-anaknya sebagai konglomerat..

Ini istikharah kedua nisa. Ia telah berazam, jika sampai 3 hari ini belum ada kecendrungan untuk memilih tawaran ayahnya, maka ia akan memutuskan untuk menolaknya. Hingga pada hari keempat, ternyata belum ada tanda-tanda kecendrungan baginya untuk memilih lelaki pilihan ayahnya. Maka dengan sopan santun, ia harus berkata sejujurnya...

"Maaf yah, nisa belum bisa menerimanya. Bukan karna ia tidak baik dan kurang mapan. Namun bagi nisa, lelaki yang memililki pemahaman agama yang baik, seharusnya menjadi kriteria utama kita dalam menentukan pendamping hidup. Nisa berharap ayah mengerti alasan nisa. Lagipula kewajiban menikah bagi nisa bukan menjadi hal yang mendesak saat ini. Do'akan saja, semoga suatu saat ada lelaki yang lebih baik untuk nisa dan calon menantu yang terbaik untuk ibu dan ayah...."

Jawaban nisa dengan ucapan yang sangat santun itu tak dapat disanggah ayahnya. Hanya desahan nafas yang cukup berat ayahnya dan kata singkat yang di dengar nisa. "Baiklah kalau memang itu jawabanmu, ayah dan ibu tidak bisa memaksakan kehendakmu.."


Ini adalah istikharah ketiga nisa. Dengan do'a serupa seperti sebelum-sebelumnya. Ia kembali melantunkannya dengan penuh kekhusyuan. Kali ini ia harus istikharah lagi dengan pilihan yang berbeda. Kali ini yang datang melamar adalah lelaki pilihan ibunya. Lelaki berjanggut tipis dengan pemahaman agama yang tidak boleh diragukan. Ia adalah anak seorang ustadzah yang menjadi teman ibunya di pengajian. Perekonomiannya lumayan mapan. Karna lelaki kali ini memiliki beberapa toko buku islam yang bertempat di pinggir ibukota.

Semua aspek telah diamati nisa dengan cermat, dan hampir tidak ada cela. Namun, ia lagi-lagi tak mampu memberi jawaban secara langsung. Belum ada hal yang membuatnya cenderung memilih lelaki yang ada di depannya. Ia meminta waktu seminggu untuk diberi kesempatan istikharah sebelum memantapkan pilihan. Tidak ada yang keberatan, baik dari pihak calon ataupun pihak keluarga nisa. Hanya satu permintaan lelaki itu, ia tak bisa menunggu waktu lebih dari 2 minggu. Jika lewat 2 minggu tidak ada jawaban, maka proses ta'aruf tidak akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan....

Setelah shalat malamnya, ia membuka tirai dan memandang ke arah luar. Udara dingin menyeruak masuk ke dalam kamar. Tak lama ia menatap ke atas langit, ia paling suka memandangi bulan saat malam. Seakan cahaya-nya mampu memberinya energi kehidupan, dan seperti biasa, ia mengambil buku diary yang sampai saat ini masih menemaninya. Sambil merenung, ia goreskan tinta di atas kertas diary-nya..

Malam ini aku menantikan cahaya bulan
Seperti beberapa malam sebelumnya
dalam istikharah dan sujud yang berkepanjangan
dalam penantian yang tak kunjung usai
Namun, telah bermalam-malam yang kutemukan hanya bintang
Rembulan yang kunantikan tak kunjung datang
Kuhanya menantinya untuk melihat sabit bukan purnama
Namun lagi-lagi..
yang kulihat hanyalah bintang yang berserakan di alam
Diantaranya ada yang berpijar begitu terang
Aku terus merenung dan bertanya...
Perlukah aku terus menanti rembulan??
Jika begitu banyak bintang berpijar yang mampu menemaniku menikmati malam...
Ini adalah istikharah ke empat nisa. Namun belum ada tanda-tanda kecenderungan atau apapun yang membuatnya berat pada satu pilihan. Terkadang ia jadi berfikir, apakah ia bukan orang yang normal? Manusia yang tidak memiliki kecendrungan. Namun ia tepis segala kegalauan atas parasangka buruk di hatinya. Tak lama bibirnya mengucap istighfar kemudian berdzikir sambil terus memohon pilihan...

Tiba-tiba bayang-bayang ahmad menyeruak di hatinya. Lelaki yang ia kenal selama ini, namun bukan lelaki yang terlihat mencintainya...

bersambung...
(Cuplikan "Meminang Bidadari" - Afief Alkhawarizm)


"Ya Allah ya Tuhanku,
andaikau takdirkan dia untukku
menjadi teman arungi hidup ini
Satukan hatiku hatinya, amanahkan bahagia, kemesraan selamanya..."


Jatinangor, 10 Juli 2011
`Saat cinta mengusik jiwa, semoga dalam rongga ini hanya ada satu nama-Nya`

Inspiring Moment #3 : Untuk Para Ikhwan

Senin, 09 Mei 2011

Ternyata banyak kewajiban di masa depan yang membutuhkan perhatian. Sebelum semua menagih haknya atas diri kita, lebih baik mempersiapkannya sekarang juga!!! Bismillah, mari bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Untuk anak, istri dan keluarga kita kelak.

Menjadi laki-laki memang cukup berat. Apalagi telah tergambar jelas, jika nantinya para lelaki akan menjadi qawwam atas istri dan anak-anak. Menjadi kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang menyebut kita : suami, dan juga ayah. Menjadi seorang nahkoda yang seharusnya mampu melabuhkan anak dan istri kita di syurga. Maka, tak ayal lagi - kepemimpinan kita akan diuji dengan amanah sebuah keluarga. Pertanyaannya : Apakah kita telah sanggup mempersiapkannya dengan baik, atau malah menjadi salah satu penyebab suramnya masa depan istri dan anak-anak kita kelak?? Maka selagi muda, sudah seharusnya kita mempersiapkan segalanya.

Sudah seharusnya kita berfikir dewasa dan belajar menjadi orangtua. Karna masa depan generasi selanjutnya adalah tanggung jawab kita!!

Dalam sebuah training pernikahan, para peserta diminta untuk menuliskan rencana hidupnya saat berkeluarga. Dengan secarik kertas yang diberikan panitia, kami diminta untuk menuliskan impian, harapan, serta target-target yang harus dicapai selama berumah tangga. Seorang bapak duduk tepat disamping saya. Melihat saya cukup bersemangat menuliskan rencana masa depan, ia tersenyum. "Wah mas, semangat amat nulisnya, sepertinya sebentar lagi ya?", ujar bapak itu sambil tersenyum memandang saya."Ah enggak pak, masih lama", jawab saya sambil membalas senyumnya. Tak lama kemudian si bapak muda meminta untuk melihat rencana hidup saya yang kini sudah melebihi apa yang ditulisnya. Sebenarnya enggan untuk memberikannya, namun rasanya tak enak ketika menolaknya - karna sejujurnya saya malu ^^;

"Memang harus dipersiapkan mendetail seperti itu mas. Walaupun pada kenyataannya sangat sulit di praktekan setelahnya. Biasa lah namanya juga berumah tangga. 6 bulan pertama indah, 6 bulan selanjutnya sangat indah, setahun setelahnya terserah anda...", ujar si bapak sambil terus menyunggingkan senyumnya. Saya sempat senyam-senyum sendiri dibuatnya. Jadi makin berfikir : Begitukah pernikahan? manisnya hanya dirasakan saat-saat tahun pertama, tahun selanjutnya : penuh derita.

Yah, begitulah orangtua. Selalu membandingkan impian kita dengan pengalaman mereka. Namun begitulah hidup, harus kita akui - selalu ada saripati hikmah yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka.

Memang tidak bisa dipungkiri. Dari sebagian besar cerita yang pernah saya dengar, tidak sedikit diantara para orangtua yang pernikahannya kandas di tengah jalan. Peliknya permasalahan rumah tangga rasanya tak sesederhana teori, atau sebatas 'skenario' yang biasa ditampilkan di pelbagai sinetron. Semuanya adalah realitas hidup. Tidak melulu diributkan dengan permasalahan yang besar ternyata, masalah-masalah kecilpun kadang menggelombang, dan akhirnya membentur karang kesetiaan dan cinta yang dulu dibangunnya.

Mulai dari tidak enaknya masakan istri, suami yang pulang larut malam tanpa konfirmasi, pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, anak-anak yang nakal di usia remaja, sampai ketika kecemburuan dan perhatian tak lagi diberikan sesuai kebutuhan. Belum lagi polemik dari permasalahan finansial bagi mereka yang tak cukup mapan. Rasanya setiap permasalahan itu adalah sebuah ujian yang pasti menghampiri siapapun ketika telah berlayar dalam bahtera keluarga. Dan bisa tidak bisa, kita harus melewatinya. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mendewasakan diri sebelum permasalahan-permasalahan itu merenggut kebahagiaan kita..

Cukup banyak yang saya tuliskan dalam secarik kertas yang diberikan panitia. Rencana agenda harian, mingguan, bahkan targetan-targetan yang seharusnya dapat dicapai secepatnya. Rentetan detail yang sebenarnya masih mengawang (karna belum pengalaman), berjejer dalam secarik kertas hingga penuh. Ahh, beginikah rencana hidup, berfikir dalam 5 menit saja sudah cukup memusingkan, apalagi dikemudian hari harus menghadapinya secara nyata untuk menjalani kehidupan. Namun begitulah hidup, rencana kita adalah ikhtiar untuk menciptakan nasib kita.

Hahhh,,, rasanya apa yang saya tuliskan ini bukan sekedar mimpi. Tapi kewajiban yang harus saya penuhi. Seakan gambaran masa depan semakin dekat dipandangan. Bayangan anak-anak yang menagih uang saku, bayar SPP, mainan, dan berbagai keperluan lainnya. Belum lagi untuk keperluan rumah tangga : Bayar listrik, bahan makanan, membeli perabotan rumah tangga, menyekolahkan anak hingga kuliah, sampai pada meng-hajikan orangtua dan mertua. Dan tahukah? Ketika kita mencoba menghitungnya secara mendetail - saya pastikan : tidak ada seorangpun yang siap menikah dengan segera! Walaupun telah nyata dihadapannya seorang wanita yang siap untuk dilamarnya, atau telah bulat keputusan mertua untuk menikahkan kita dengan anak mereka!!

Namun begitulah cinta. Semuanya harus diwujudkan dengan logika. Harus diperhitungkan. Karna konsekuensi dari cinta adalah membahagiakan. Ketika kita berlindung dan mencari aman dengan dalih "Cinta itu menerima apa adanya", maka saat itulah kita harus tersadar, bahwa kita bukanlah pecinta sejati, dan kita tidak berhak merasakannya. Karna cinta adalah sumber energi untuk memperbaiki diri. Membuat kita yang bukan siapa-siapa menjadi papa. Membuat kita yang apa adanya menjadi luar biasa. Dan yang perlu ditegaskan, jangan pernah mengatakan : Siapkah kau hidup bersamaku dalam derita? Relakah kau kiranya kisah kita tak selamanya indah???

Hentikan ucapan pengecut seperti itu. Ketika kita tak mampu menjanjikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai, patutkah kita mencintainya? Jika cinta kita hanya membawanya lebih menderita, lebih baik putuskan segera, buang ia jauh-jauh, dan iklaskan wanita yang kita cintai itu menikah dengan pria yang lebih baik dari kita. Relakan ia bersama seorang lelaki tangguh yang berani menjanjikan kebahagiaan selamanya. Karna konsekuensi cinta adalah membahagiakan!! Membuatnya tumbuh berkembang, menggapai langit, hingga membersamai kita menikmati syurga. Begitulah cinta yang berkah, selalu menawarkan kebaikan.

Kalau banyak orang bilang : Cinta itu tak butuh logika.

Maka, saatnya kita memperbaiki paradigma.

Sungguh, cinta itu sangat membutuhkan logika.

Karna logika, memaksa kita mewujudkan cinta dalam bahasa kerja!!

~Inspiring Moment~
Workshop Marriage Management
Jatinangor, 8 Mei 2011


Catatan Perjalanan Dakwah : Di Balik Pundak yang Tegar

Sabtu, 30 April 2011

Jalan dakwah bukanlah jalan yang tepiannya bertabur bunga. Jalan ini adalah jalan yang penuh kerikil, duri, bahkan dipenuhi hewan buas yang siap memangsa siapa saja yang melewatinya. Bahkan terkadang penuh fitnah, cerca dan caci, dari setiap orang yang tidak menyenangi jalan ini. Jalan ini bukanlah jalan yang rata, tanpa kelokan, tanpa tanjakan. Bukan pula jalan yang teduh, tanpa terik matahari laksana atmosfir subuh hari yang sejuk dinikmati. Jalan ini adalah jalan yang berbatu, peluh liku, bahkan kadangkala kita harus memanjat tebing agar sampai di tempat yang ingin kita tuju. Banyak yang berguguran di sini, banyak yang tak sempat berbunga sebelum musim semi. Banyak yang berguguran di tengah perjalanan. Banyak diantaranya yang lari berpaling, memilih jalan yang dirasa lebih aman, tanpa ujian, tanpa ada halang melintang - memilih untuk lebih terlena memikirkan nasib diri sendiri. Namun, dari sebagian besar yang berpaling dari jalan ini, selalu ada yang bertahan hingga singgah di pelabuhan yang Allah janjikan. Pelabuhan dari setiap halte pemberhentian, dari pelabuhan lelah di dunia, hingga melabuh di Syurga yang disediakan oleh-Nya.....

Sore itu, seorang akh berjalan dengan tertunduk. Mukanya masam, raut wajahnya mencerminkan guratan-guratan permasalahan yang mendalam. Setahu saya, ia adalah orang yang seringkali terlihat ceria, mudah tersenyum, bergaul, dan pandai beretorika. Biasanya, jiwanya selalu hangat dengan semangat. Gelora-nya mampu menularkan energi positif kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Namun kini ia tertunduk layu, lesu, dan hanya menatap tanah. Laksana pohon yang hampir tumbang, lalu terlalu mudah diterpa angin hingga akarnya tercerabut dari tanah. Entah apa yang menimpanya saat ini, yang jelas ia benar-benar terlihat menyimpan banyak masalah.

"Antum kenapa akh?", tanyaku pada nya."Ehh, gak apa-apa", jawabnya sesingkat sapaanku padanya.

Sekilas ia tersentak. Sepertinya cukup terkagetkan dengan sapaan sederhana yang saya lontarkan. Saya tahu, betapapun banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, ia tak-kan membuka mulut untuk menceritakan permasalahan dirinya. Ia sangat terbuka dengan permasalahan orang lain, selalu siap membuka diri sebagai 'tempat sampah' dari keluhan teman-temannya, bahkan seringkali memberikan solusi dari setiap permasalahan orang lain. Namun sebaliknya, ia sangat tertutup dengan permasalahan dirinya.

Suatu ketika, saya menemukannya menangis di sandaran dinding. Dari balik tirai kamarnya, suaranya cukup terdengar sendu. Ya, hari itu bukanlah sepertiga malam, yang biasa menjadi tempat mengaduh dan berdo'a, yang biasa diselingi dengan isak tangisan. Waktu itu sore hari - waktu dimana banyak orang tertawa dan disibukkan dengan rutinitas hariannya. Sempat ingin saya ketuk pintu kamarnya perlahan, lalu menanyakan apa yang terjadi padanya. Namun setelah difikir ulang, saya rasa ia sedang membutuhkan kemerdekaan untuk menikmati kesendirian.

Akhir-akhir ini, saya semakin sering melihatnya termenung. Semakin sering melihatnya mengerutkan dahi dibanding tersenyum lebar seperti dulu kala. Rasanya cukup rindu mendengar gurauan yang kadang membuat tawa. Selalu rindu melihatnya menularkan semangat kepada siapapun yang berada di dekatnya. Semangatnya hanya menggelora ketika ia mengisi di pelbagai seminar dan pelatihan. Suaranya yang kadang terserak saat muhasabah yang menggetarkan, seringkali membuat tangisan sekaligus ledakan motivasi untuk memperbaiki diri. Saat ini, saya hanya menemukan dirinya 'hidup' saat berada di hadapan banyak orang, namun seperti melihat 'mayat mati' ketika ia berada dalam kesendirian. bersambung.....

Tentang Jodoh

Selasa, 12 April 2011

Akhir-akhir ini, beberapa sahabat menanyakan masalah yang berhubungan dengan cinta. Mulai dari yang biasa disebut pacaran, jodoh, hingga pernikahan. Jadi teringat, dulu sempat ditanya salah seorang adik kelas tentang jodoh. Dengan lugunya ia bertanya, "Kak, memang jodoh itu bukan hanya di dunia ya? Kalau ia meninggal sebelum mendapatkan jodoh di dunia, terus berarti dia ga punya jodoh dong???" Pertanyaan konyol sekaligus menggelikan meluncur dari mulutnya. Membuat saya tersenyum geli mendengarnya - walaupun sejujurnya tak secara terang-terangan terekspresikan dalam raut muka, sebatas tertawa geli dalam hati.

"Hmm.. gimana yah? Kalau menurut yang pernah saya baca dan saya pahami, kalau jodoh itu sebenarnya bukanlah kosakata yang hanya berlaku untuk di dunia aja. Jadi bisa pula kita mendapatkan jodoh itu bahkan ketika di akhirat. Ya, intinya kalau orang itu beriman dan berhasil masuk ke syurga-Nya, maka bidadari syurga-lah yang akan menjadi jodohnya. Wallahu 'alam", jawab saya singkat dengan pengetahuan seadanya - sambil mencoba mengingat salah satu pertanyaan yang sama pada sebuah konsultasi di salah satu radio islam swasta.

"Terus gimana kalau dia udah punya jodoh di dunia. Misalkan kalau ternyata seorang lelaki beristri. Apakah masih dapat jodoh juga di akhirat nanti? Jadi double dong kak jodohnya?" Sungguh, pertanyaan ini sangat menggelikan, sampai-sampai saya tak mampu lagi menahan gelak tawa, yang saya coba sembunyikan - maksudnya takut menyinggung perasaan. Namun keluguannya saat bertanya, membuat saya tak tahan dengan tawa. Umur masih sekecil itu, begitu termotivasi bertanya tentang jodoh dengan detailnya.

"Hahaaaa.. pertanyaan kamu lucu ya?", respon saya sambil melebarkan lekukan bibir di wajah."Ihhh kaakkk, kan cuma mau tau ajaaa.." jawabnya merengut, sambil mengernyitkan dahi laksana orang memelas karna "lapar" akan jawaban.

"Begini intinya, ketika hanya salah satu saja diantaranya yang beriman - misalnya hanya lelaki itu saja yang beriman, maka Allah akan memberikan kepadanya bidadari syurga sebagai pengganti istrinya. Namun, ketika memang lelaki itu dan istrinya berhasil mengarungi kehidupan ini dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, hingga keduanya masuk ke syurga, maka pasangan itu akan tetap berjodoh selamanya di syurga", akhirnya sebait penjelasan telah meluncur, tentunya dengan terlebih dahulu berfikir sejenak - walau sebenarnya masih ada kosakata yang kurang pas.

"Laahhh, kalau gitu, ketika istrinya beriman, ia gak dapet bidadari syurga dong???"

Pertanyaan ini yang terdengar lebih konyol, sekaligus memang ada benarnya - maksudnya, ada kesalahan redaksi di penjelasan sebelumnya, sehingga menimbulkan keambiguan pada jawabannya. Ya, terkadang pertanyaan anak kecil bukanlah pertanyaan yang melangit - sangat mendasar. Namun di balik dasarnya itu, kita perlu 'arif dan cermat memilih jawaban yang tepat - agar pondasi yang menjadi dasarnya, tidak merobohkan dinding-dinding tebal dari prinsip-prinsip keislaman ketika telah menuju 'langit'.

"Hmm,, bukan begitu dek. Bidadari syurga itu adalah janji Allah, sekaligus sebuah keniscayaan bagi semua hambanya sebagai salah satu ganjaran pahala baginya di Syurga. Jadi tetap saja bidadari itu akan diberikan padanya. Cuma,... kalau suatu saat saya boleh memilih, saya akan lebih memilih bidadari syurga daripada manusia dunia. Heheee..." Jawab saya dengan sedikit lelucon - sungguh, tanpa sedikitpun berniat dengan sungguh-sungguh menjawabnya. Jadi, bukan maksud saya lebih mengutamakan bidadari syurga dibanding istri saya nanti ketika kami bersama di Syurga. Karna bagi saya, seorang istri yang sampai saat itu mampu membersamai saya dengannya hingga mereguk telaga Syurga - tetap lebih istimewa walaupun dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia dan di Syurga. Huaahhhh... gombal kayaknya :)

"Yeeee... kalau gitu nanti istri kakak cemburu lohh, dikhianati begitu saja. Mentang-mentang udah dikasih bidadari syurga, malah selingkuh!!" sela adik kecil itu dengan nada kecewa.

Sungguh, pernyataan ini benar-benar menumpahkan gelak tawa. Selinguh? Cemburu? Masih adakah perasaan itu di Syurga? Saya rasa tidak. Ya, semua telah terhanyut dalam kenikmatan tiada tara - hingga mencari perhatian dan cinta dari manusia hanyalah perbuatan sia-sia. Allah telah menggantinya dengan bilangan yang berlipat tidak berhingga.

Ya, begitulah perbincangan singkat saya dengan salah seorang 'adik' sewaktu itu. Semuanya berjalan sangat singkat dalam memori kehidupan, walau pada nyatanya, sebagian kisahnya hanyalah kamuflase dari fikiran dan beberapa hasil perenungan. Ahhh, mengingat kisah ini, jadi makin rindu mengejar Syurga. Namun, dibalik itu semua, rasanya makin jauh saja jarak diri ini untuk menggapainya.

Rabb, berikanlah jalan yang terbentang,
dan perpendeklah jarak hamba dan Syurga-Mu.
Anugerahkanlah segenap cinta-Mu,
agar kelak ada yang membersamaiku menjemput Syurga-Mu...
Amiieen...

bersambung...

Jatinangor, 11 April 2011 - 04.21.54
- Subuh hari, saat udara dingin menyergap beku -

Seharusnya Kita Malu...

Minggu, 02 Januari 2011

Semburat senyum tulus mengalir dalam wajah pada kamera. Seorang wanita dengan tinggi badan 74 cm, sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Dengan tangan dan kaki yang tidak normal, namun masih bisa mensyukuri anugerah dengan ikhlas dan semangat pantang menyerah. Dengan kekurangan yang dimilikinya, ia diberi gelar 'wanita terpendek di Indonesia'.

Seorang wanita yang tumbuh dengan keyakinan dan semangat yang besar. Ia tidak minder sekalipun ia dianggap oleh banyak orang sebagai wanita yang aneh karena tubuhnya. Ia sekolah di sekolah normal dan terus belajar mandiri. Ia tidak mau sekolah di sekolah untuk anak cacat dan selalu mendapatkan prestasi akademik di sekolah. Ia kemudian masuk perguruan tinggi dan saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang seorang jaksa, diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah komputer sampai lulus D3. Ya, dia mampu menjalani perkuliahan dengan 2 bidang studi yang berbeda dan berhasil menyabet kelulusan dengan sempurna.

Ahh,, melihat dan mendengar sebagian kisahnya membuat bulu kuduk ini merinding. Sejujurnya, jika dihadapkan pada kondisi yang sama, mungkin aku memilih untuk menyerah, dan kini sedang berbaring dengan rintihan penuh keluhan. Sangat berbeda, dan jauh berbeda dengan apa yang mampu ia lakukan dengan perjuangannya. Dan hanya satu rasa yang seharusnya dapat diakui hati ini : MALU!!

Cukup sampai disana!! Belum selesai mata ini membaca kisahnya saat melahirkan dan mengasuh anaknya sendirian. Bagaimana saat ia menjadi motivator, bahkan untuk orang-orang yang normal tanpa cacat! Tidak sanggup rasanya ketika membayangkan bagaimana saat ia mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anaknya.

Lalu bagaimana dengan kita??

Cacatkah kita? Begitu besarkah masalah yang menimpa kita?

Rasa-rasanya yang cacat bukan raga kita, namun otak ini yang berkarat hingga tak mampu lagi berfikir jernih saat ujian menimpa. Harus kita sadari, ternyata yang buta bukan mata kita. Namun hati yang tak mampu jujur menatap masalah dan ujian yang seharusnya dapat kita selesaikan dengan sempurna. Harus kita akui, ternyata yang lumpuh bukan tangan dan kaki kita. Namun jiwa yang mati karna kurangnya motivasi.

Berkacalah, dan banyaklah bercermin pada orang-orang yang benar-benar diuji dengan keterbatasan. Lalu tataplah seberapa pengecutnya diri ini yang menjalani hidup dengan berjuta keluhan.

Seharusnya kita malu...

Aku jadi tersadar, bahwa sebenarnya aku dilahirkan dengan sempurna. Namun kelalaian yang ku lakukanlah, yang membuatku banyak cela.

Banyak orang yang merasa istimewa dengan ujian dan permasalahan yang menimpa , lalu menjadikan pemakluman untuk menutupi kelemahan dirinya. Lihatlah diluar sana!! Betapa banyak orang yang lebih menderita dengan menanggung takdir yang tidak kita kira, namun mereka berjuang tanpa pernah berfikir bahwa 'akulah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam kemalangan.....

Aku malu pada mereka yang benar-benar ditimpa kemalangan. Jika ku bandingkan dengan apa yang menimpa, rasanya tak pantas aku berkata lagi sebagai manusia seutuhnya. Karna, begitu banyak yang seharusnya dapat kulakukan dibanding mereka. Mereka yang benar-benar memiliki keterbatasan raga, bahkan mampu menciptakan kemampuan yang tak kubisa, lalu mereka mampu menutupi aib dengan prestasi-prestasi gemilang dalam kehidupannya.

Malu, aku yakin tak cukup pada kata itu.

Sungguh, kebahagian tidak pernah melihat kekurangan. Karna ia dapat diciptakan dengan hati yang ikhlas menerima, dan jiwa yang tak lelah berjuang memaknai kehidupan.

Jatinangor, 1 Januari 2011, 19.27.05
(Saat lagi-lagi mendapatkan motivasi dan inspirasi dari orang yang tak ku kenal)


Inspiring Event : SFT

Minggu, 21 November 2010

Akhir-akhir ini saya jadi sering termenung, sekaligus mengingat setiap jengkal perjalanan hidup yang telah terlewati.Teringat ketika mengikuti sebuah event Pelatihan "School For Trainer (SFT)" yang diadakan teman-teman kaderisasi BEM Kema FMIPA Unpad.

Bagi saya, event yang satu ini sungguh luar biasa. Karna saya merasakan dorongan yang begitu kuat untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya yang terpendam. Ya, menjadi salah seorang motivator adalah cita-cita saya sejak SMP dahulu. Pertama kali yang terfikir saat itu, alangkah senangnya ketika kita dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang dapat menginspirasi orang lain untuk berubah. Mendorong orang lain untuk kembali membangun semangatnya. Bagaimana tidak, sepertinya pemuda saat ini banyak yang kehilangan mimpinya, lemah dalam memotivasi hidupnya. Dilihat dari banyaknya pengangguran yang merajalela, banyak pengamen, pengemis jalanan, remaja putus sekolah, dan banyak masyarakat bertahan pada kehidupan yang seadanya. Kalau dilihat dari realita, SDM di indonesia yang berkualitas sangat minim dan kurang memadai. Lalu, bagaimana negri ini diwariskan untuk hari nanti, jika pada saat mudanya kita tak cukup berprestasi untuk mengurusi diri mereka sendiri?

Ya, mungkin itu mimpi di masa lalu, dan saya harus berjuang mewujudkannya untuk masa depan! Seakan gelora terus membara, dan semangat kian mengalir hangat...

Di akhir acara, jadi teringat ketika harus mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Ada sebuah hal yang terus mengalihkan perhatian saya. Saat itu saya merasa bingung untuk membangun komunikasi selama perjalanan. Karna rasanya cukup membosankan jika berkendaraan dalam diam. Pemateri yang saat pelatihan begitu bersahabat dan bersemangat, terlihat begitu lesu kelelahan. Ya, mungkin beliau terlalu memporsir waktu dan tenaganya dalam banyak training terkemuka, begitu fikir singkat saya. Hingga saat saya melaju dengan motor saat itu, hanya beberapa dialog singkat saja yang sempat terucap. Ternyata, seorang trainer motivasi pun dapat merasa lelah. Hal yang wajar saja, dan begitulah manusia.

Seorang trainer adalah orang yang dapat memanipulasi wajahnya saat di depan panggung. Ia dituntut untuk merubah wajah dari segala kelelahan, kelesuan, atau bahkan dituntut untuk melupakan segala masalah yang sedang dihimpitnya. Wajah optimis harus selalu ia hiasi, walaupun saat itu ia sedang dirundung ujian yang tak terperi. Tapi inilah yang membuat saya takjub. Ternyata dengan berbagi, kita dapat menjadi seorang yang begitu kuat walau pada dasarnya kita sedang melemah. Dengan berkumpul dengan banyak orang, ada energi luar biasa yang bisa membangkitkan semangat kita. Sungguh, berbagi itu luar biasa!!!

Cukup terasa manfaatnya saat bersama. Seringkali saat sakit menghimpit, saya menyengajakan menyibukkan diri dalam organisasi. Dan sungguh luar biasa, dalam beberapa agenda yang padat seringkali rasa sakit itu tak terasa dan terlupakan. Walau gerak sana gerak sini, rasanya seperti orang yang sehat saja. Dan anehnya, setelah pulang dan beristirahat, embali lagi rasa sakit itu merajalela. Entah mengapa, tapi begitulah adanya...

Lalu teringat, sewaktu mengejar waktu untuk tampil di tes ujian dalam training itu. Ketika setiap peserta diwajibkan untuk tampil menjadi pemateri layaknya sorang trainer, dan ini akan dijadikan salah satu syarat kelulusan pada training ini. Kami hanya diberi waktu yang singkat untuk menyiapkan segalanya. Cukup merepotkan. Apalagi dalam jeda itu, saya masih mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Beginilah nasib kalau merangkap status peserta skaligus 'panitia'.. Hufhhh...

Dalam guyuran hujan di perjalanan, mencoba menguak inspirasi dalam otak. Bingung mau menyampaikan materi apa dalam tes nanti. Organisasi? atau motivasi??? Sepertinya materi tentang motivasi lebih menarik dibahas saat ini..

Yap, akhirnya ada judul materi yang menyeruak dalam benak. Judulnya : Membangun kekuatan dalam keterbatasan. Ya, lagi-lagi terinspirasi dari materi pagi tadi, yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang lumpuh kakinya dan cacat tangannya. Lalu ia berusaha mengubah nasib, berjuang melawan realita, dan akhirnya ia berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya dengan kemandirian. Bahkan ia menjadi salah seorang luar biasa melawan keterbatasannya. Bahkan menjadi seseorang yang tidak saya dapat bayangkan : menjadi trainer motivasi!! Luar biasa!!

Sepertinya hari itu penuh dengan motivasi. Walau lagi gak punya uang, walau harus hujan-hujanan, walau harus pulang malam, walau harus kecapean. Rasanya manfaatnya lebih banyak dari deritanya (duhh lebay banget kayaknya ya ^_^). Mudah-mudahan hari itu menjadi pijakan untuk masa depan, mencoba lagi hal baru, kemudian menjadi bekal untuk senantiasa memaksimalkan potensi yang ada. Namun,....

Hahh,, lagi-lagi ada mimpi yang terus menjadi misteri. Semakin banyak pilihan untuk masa depan. Menjadi trainer motivasi? Mampukah? Hanya do'a yang mengalun syahdu, dalam sujud panjang walau seringkali tak khusyuk. Rabb, temukan aku pada jalan yang terbaik untukku, demi masa depanku...

Catatan yang telah lama tersimpan dan belum sempat terselesaikan.
Akhirnya menemukan inspirasi untuk mengakhirinya..

Jatinangor, 21 November 2010, 20.20

Bila Badai kan Datang (Part.I)

Minggu, 17 Oktober 2010

Malam semakin pekat, hujan semakin deras, getir kian menyambar, dan kilat mengerjap cepat. Badai akan tiba, tapi apakah kita mampu bertahan melewatinya? Saat-saat yang tidak diinginkan akhirnya tiba, menguji seberapa kuat keyakinan dan kekuatan kita. Mungkinkah akan bertahan lama, atau hanya ada satu helaan nafas yang tersisa??
Badai datang lagi. lagi-lagi. Entah mengapa saat ini ia sering menyapa. Membuat sedikit kekacauan yang merusak ketenangan. Sampai kapan ia tetap disini, mengganggu dan mengusik kehidupanku. Mungkin juga mengusik kehidupanmu. atau juga mengganggu kehidupan kita. Namun harus disadari, badai tak datang dengan niatnya sendiri. Mungkin ada 'api' yang mematiknya datang kesini.

Hujan tak kunjung berhenti. Tanda ada kesedihan lagi di hari ini. Seakan semuanya berubah rona menjadi pilu, sehingga kita semua begitu mudah untuk menggerutu. Mungkin bagi banyak orang hujan kali ini tak cukup berarti, tapi bagi sebagian yang lain cukup memberikan arti. Mungkin karna hujan memberikan pengharapan, atau bahkan sebaliknya : menimbulkan kebencian. Deras yang terus mengalir membuat banjir. Seakan ingin mengubur kaki hingga perih. Namun bagi saya, sebatas takdir yang tersiklus apa adanya. Entah berarti atau tidak, tapi Tuhan telah memberikan nikmat begitu banyak bagi makhluknya. Begitu banyak, sehingga kita begitu lupa dan sering mendustakannya.

Badai saat ini, kian menjelma bagai raksasa. Meluluh lantakkan siapa saja yang berani melawannya. Mugkin sedikit orang yang berani menghadapinya. Mungkin memang jangan coba berfikir untuk melawannya. Karna mungkin kita akan terbawa hanyutnya. Atau mungkin memang kita terlalu sering terhanyut oleh arus yang kita ciptakan dengan sendirinya.

Entah kalian mengerti atau tidak, tapi ini yang saya rasakan saat ini.

Jatinangor, 17 Oktober 2010, 20.57
Dalam kebisuan malam.

Impian Yang Belum Tercapai

Jumat, 15 Oktober 2010

Jatinangor, 28 Maret 2010

Tak sengaja menemukan kembali catatan sederhana waktu lalu, saat mengikuti pelatihan trainer di kampus (SFT.red). Saat itu peserta diminta untuk membuat motivasion letter sebelum mengikuti pelatihan. Alhasil, melihat status saya juga menjadi peserta saat itu, ya terpaksa dalam waktu yang singkat saya coba buat. Kebiasaan orang indonesia : Bekerja seadanya, dalam waktu secukupnya. Cukup sederhana :

Menjadi Tariner adalah sebuah impian. Sebuah keinginan untuk bisa menjadi motivator disaat orang lain dirundung masalah, penggugah semangat, pemberi inspirasi agar setiap detik merupakan sebuah perjuangan yang tak kenal henti. Menjadi trainer adalah tugas yang mulia, karna boleh jadi lewat ucapan seorang trainer, orang-orang akan tersadarkan bahwa kehidupannya telah jauh dari kondisi idealnya. Banyak orang yang memiliki banyak keinginan, namun minim dalam hal motivasi. Memiliki banyak mimpi, tapi sebatas dalam angan-angan. Banyak harapan, namun sebatas gurauan ucapan. Disinilah tugas trainer yang utama : membuka tabir paradigma lama untuk sebuah perubahan terbesar dalam diri kita!!

Namun, ada hal yang sangat saya cari dengan menjadi seorang trainer, yaitu mendapatkan energi timbal balik (feed back). Hukum alam bercerita tentang prinsip aksi-reaksi dari Hukum Newton ke-3 : “Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua tersebut mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya = gaya yang diterima tetapi berlawanan arah”. Begitupun dengan seorang trainer, energi motivasi yang diberikan kepada orang lain, akan berdampak balik pada dirinya, sehingga ia pun akan merasakan motivasi yang luar biasa ketika dapat memberikan pencerahan kepada orang lain.
Sungguh menjadi seorang penggugah adalah pekerjaan yang mulia,
menjadikan setiap lelah menjadi petuah
menjadikan hambatan menjadi peluang
mengambil hikmah dari setiap musibah
menyadarkan “orang mati” menjadi hidup kembali!!
Dan yang harus di garis bawahi adalah : Menjadi Trainer bukanlah sekedar profesi belaka, tapi sebuah panggilan mulia disaat orang lain renta di usia mudanya... Menjadi penggugah (trainer) bukanlah pilihan semata, yang boleh diambil ataupun tidak. Karna Allah berfirman dalam Kitabnya : Sungguh, setiap manusia berada dalam kerugian...... Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.
Cukup singkat bukan??
Dulu dan sampai sekarang masih bermimpi seperti itu.
Salah satu, dari berjuta mimpi yang saya miliki
Namun sepertinya terlalu banyak bermimpi, hingga sulit untuk menyepakati.
Mana mimpi yang harus saya pilih.
Tapi tak masalah, karna saya sudah memulai jalan menuju kenyataan dari mimpi yang saya banggakan.

Mudah-mudahan selanjutnya tak hanya bisa bermimpi.
Karna mimpi, bikin sakit hati..


Jatinangor, 2 Oktober 2010, 18.30.01
(Saat mencari mimpi yang hilang)

Sepenggal Perjalanan (Antara Bandung - Depok)

Selasa, 27 Juli 2010

Perjalanan ini membuatku merenung tentang hidup. Di kala matahari kian terbenam di barat, saat petang memberikan rona pekat di atas langit dunia. Kerlipan lampu yg disorotkan kendaraan membuat malam ini begitu kontras dg pekatnya. Sore tadi, dalam perjalanan, saya memandangi gunung dari kejauhan. Ada rona biru yg tertangkap mata saat memandanginya, padahal yg saya tahu gunung terdiri dari rombongan pepohonan yang hijau walau tak tertata. Saya merasa bersalah ketika harus Menikmati keindahan pegunungan dari kejauhan. Karna ia menampakkan wujud semu dengan warnanya. Atau mungkin mata ini yg tak mampu menatap utuh hijaunya pegunungan dari kejauhan. Saya jadi teringat tentang yg biasa terjadi pada mata ini.

Saat mata kita tak mampu melihat dunia secara utuh, atau ketika kita terlalu cepat menilai seseorang dari penampilannya, yang cantik dr kejauhan hingga melupakan kejernihan hati dari kedekatan. Atau saat mata ini terperdaya oleh bayang2 semu dari kelezatan dunia, hingga kita termabukkan saat meminumnya. Gambaran alam membuatku banyak belajar tentang arti kehidupan. Saat melihat burung di angkasa yg terbang bersama. Mengepak sayap tanpa lelah, hingga sampai di tempat tujuan. Kebersamaan mereka saat terbang ternyata membuat mereka Bertahan saat harus melawan awan. Menerjang tekanan angin yg berhembus kencang. Adakalanya mereka bertukar posisi, ketika kawanan burung yg didepan tak kuat lagi menantang angin di garda terdepan. Naluri seakan sudah menjadi otak yg berfikir cepat, Mengatur mereka bergerak hingga mampu memperbaiki keadaan koloni agar seimbang. Mereka terus terbang, melewati perbukitan bahkan hutan.

Jakarta di malam hari. Tidak ada perubahan dan hanya ada keramaian.. Kendaraan masih banyak berlalu lalang hingga kemacetan tak terelakkan. Ibukota sepertinya tidak memiliki perbedaan yang signifikan saat pagi ataupun malam hari, tetap ramai, macet, bahkan bising. Seakan kota ini tak pernah mati dengan sunyi, terus hidup dengan keramaian disana sini. Mata ini tak sengaja menatap lusuh seorang anak kecil dengan baju yang kumal sedang memegang gitar mungilnya. Memainkan melodi petikan gitar dengan suara sumbangnya, berpindah dari mobil ke mobil. Terkadang ia tak mendapatkan recehan dari penumpang, dan kembali ke mobil lain untuk mempromosikan kemalangan. Terkadang aku berfikir tentang kota ini. Ibukota bukankah cerminan dari negara? seharusnya lebih maju, lebih tertata, lebih makmur, atau seharusnya bisa memamerkan kelebihan lainnya. Tapi di Jakarta, aku tidak menemukan satupun keistimewaan yang patut dibanggakan. Rumah kumuh berjejeran di pinggir sungai, pedagang kaki lima berserakan di jalan, fasilitas umum tidak terawat, angkutan umum amburadul. Ahhh,, sepertinya atmosfir tidak mengenakan sering terhirup disini.

Tiba saatnya saya harus turun dari angkutan. Berhenti di pinggir jalan dan selanjutnya menyebrang memasuki stasiun Tanjung Barat, salah satu stasiun pemberhentian kereta di sudut kota Jakarta. Mobil dan kendaraan lainnya masih berlalu lalang dengan kencang, membuat saya dan beberapa pejalan kaki lainnya terpaksa menunggu sampai arus lalu lintas mereda. Seorang ibu tampak ragu untuk menyebrang. Kalau harus menunggu sampai jalanan lengang, mungkin sampai subuhpun aku harus berdiri di pinggir jalan ini fikirku. Akhirnya saya memaksa untuk menerobos arus lalu lintas yang masih padat kendaraan. Anehnya, Pengendara masih menancap gas kendaraan mereka walaupun melihat pejalan kaki yang melambaikan tangan sebagai isyarat agar pengendara meredakan kecepatan. Berbeda saat melihat sebuah negara di luar sana. Ketika melihat para pejalan kaki ingin menyebrang, semua pengendara mobil berinisiatif untuk berhenti dan mempersilahkan pejalan kaki untuk menyebrang terlebih dahulu, begitu cerita yang pernah kudengar dari seorang dosen yang biasa melanglang buana ke mancanegara. Sungguh santun sepertinya.

Stasiun Kereta ini ternyata sudah diperbaiki. Yah walaupun tidak begitu mewah, tapi sudah disulap sederhana sehingga cukup pantas digunakan sebagai fasilitas manusia. Berbeda saat 2 tahun lalu. Stasiun dimana-mana bisa diidentikkan sebagai pasar dan tempat sampah karna tak terawat dan tak tertata. Sampah dagangan berserakan dimana-mana, tempat duduk penumpang untuk menunggu disulap menjadi meja dagangan. Itu sebagian kecil potret 2 tahun silam, dan bersyukur ternyata pemerintah sudah meperbaikinya saat ini. Tak lama kereta kelas ekonomi yang ingin saya tumpangi akhirnya tiba. Mungkin ini yang tak berubah, jutaan manusia berdesakan dalam rentetan gerbong kusang. Kalau saya sudah bekerja, mungkin tak memilih kendaraan alternatif ini untuk ditumpangi. Untuk keluarpun sulit apalagi untuk masuk. Melihat jam sudah cukup malam, saya terpaksa menerobos dengan paksa, bahkan terkadang terpaksa menyikut tubuh penumpang yang bergelayutan di pinggir pintu. Kekerasan disini diperbolehkan dan menjadi sesuatu hal yang wajib dilakukan. Kalau mau main lembut silakan cari taksi dan siap bayar mahal untuk sampai di tujuan. Itu Hukum Penumpang di Kereta Kelas Ekonomi. Tapi bagi saya ini bukan lagi kelas Ekonomi, tapi lebih cocok disebut sebagai Kereta Ekonomi Kelas Teri! Coba bayangkan saja, tidak ada tempat untuk bepijak, karna saat itu kaki saya diinjak! Kesal rasanya kalau untuk kaki saja tak ada tempat. Bau anyir keringat membuat terkadang mabuk. Disini bukan lagi oksigen yang dihirup, tapi aroma ketiak yang menyebarluas karna sebagian besar penumpang mengangkat tangannya untuk berpegangan ke besi pegangan. Terkadang udara bercampur parfum aneh dengan aroma tak jelas. Kasihan untuk penumpang dengan badan yang tidak tinggi, karna terkadang mereka terpaksa mencium ketiak orang lain dari kedekatan. Berbicara hijab?? tak ada peraturan itu disini. Penumpang ibarat teri yang yang dimasukkan paksa tanpa melihat jenis kelamin. Keadaan gerbong gelap, karna sebagian lampu sudah rusak. Untuk orang baru, sepertinya pengalaman ini menjadi sesuatu yang memuakkan.

Stasiun demi stasiun terlewati, kini telah sampai di salah satu stasiun yang cukup besar dengan muatan penumpang yang cukup banyak. Stasiun Depok tidak berubah. Masih tidak terawat, dan masih banyak pedagang kaki lima yang tidak tertata dengan baik. Diluar stasiun tampak lebih suram bahkan, karna pasar malam kian menjamur tak karuan, memadati pinggiran rel maupun jalanan. Penumpang berdesakan keluar, saling dorong dan sikut takut kereta segera beranjak. Akhirnya kepengapan sedikit berkurang. Rasa mual terobati. Saya memandangi malam dari dalam, walaupun masih berdiri, seakan tubuh begitu terpaku. Kerlipan lampu di perumahan, kendaraan yang berlalu lalang, hembusan angin, obrolan dan teriakan pedangan seakan menyatu, berpadu menghiasi kota ini. Malam saya pandangi berkabut. Ada embun yang menempel di kaca mata, ada tetesan air yang bergulir dari retina. Ada do'a yang tak mampu terucap.

"Rabb, kutitipkan seuntai do'a untuk saudara2ku yang senantiasa menjaga agama-Mu. Saat hanya ada ucapan yang mampu tuk saling menguatkan, saat raga tak lagi bersama, atau langkah yg tak sama menapak. Pertemukan kami sebelum ajal menanti. Semoga..."

Alhamdulillah, terima kasih Allah. Engkau masih memberikan aku umur untuk kembali...

Depok, 26 Juli 2010
Afief Alkhawarizm

Memaknai Arti Cinta

Jumat, 25 Juni 2010

“Banyak cinta yang kita buang dengan percuma. Hawa nafsu menjadi makhluk liar dan sulit dikendalikan ketika cinta sudah disalah artikan..Banyak dari kita yang begitu mudah mencinta, tanpa tahu apa makna dari cinta yang sesungguhnya...”

Sahabat, cinta ibarat tumbuhan liar, yang dapat tumbuh kapanpun dan dimanapun. Ia akan selalu tumbuh subur walaupun kau tak pernah menanamnya, ia akan berkembang walaupun kita tak pernah memupuknya. Karna Cinta adalah anugerah, Karna Cinta adalah karunia yang Allah titipkan pada setiap hati kita. Ia tak mengenal waktu, tak mengenal 'siapa yang punya lahan', tidak memandang bagaimana ia dapat tumbuh. Maka yang kau harus lakukan, bukan merawatnya. Tapi mencabutnya ketika ia menjadi penggangu di lahan kebunmu. Kebun tempat kau menanam bibit-bibit keimanan, tempat kau menumbuhkan pohon ketaqwaan. Sungguh, jika kita tak mampu mencabutnya, maka akan ada tumbuhan liar lain yang mengganggu kebunmu. Ya, kebun itu adalah hatimu...

Cinta begitu rumit, ketika kita tidak dapat memaknai-nya secara bijak. Terkadang kita mendefinisikan cinta terlalu sempit, hingga terbuai oleh wajahnya yang semu.. Terkadang kita mengejawantahkan nafsu atas nama cinta. Hingga kita beranggapan, ketika kita telah mencintai sesorang, dan orang yang kita cintai mencitai kita, sudah selayaknya ia selalu ada bersama kita. Mendayung bersama dalam sebuah pelayaran kehidupan dalam perahu rumah tangga. Hingga terkadang kita menghalalkan berbagai cara agar dapat mewujudkannya menjadi nyata. Namun tanpa sadar, selama ini kita keliru dengan perasaan cinta yang kita punya.

Tanyalah pada dirimu : Mengapa aku harus mencintainya??

Sahabat, kita sering dibodohi oleh perasaan kita sendiri. Menganggap bahwa apa yang kita rasakan haruslah kita nikmati sepenuhnya. Tanpa sadar, kita menikmati racun yang kita anggap madu. Perasan cinta memang manusiawi, namun ketika membuat kita terlena, itu tak lebih dari rayuan syetan untuk menghacurkan sisi lain dari kehidupan kita.

Syetan telah membuat kita terlena. Kita dimabukkan dengan arak berbahan cinta. Ia tahu, betapa lemahnya manusia terhadap perasaan yang dimilikinya, Cinta. Syetan tahu, bagaimana kuatnya kita untuk menggapai sepenuhnya untuk merasakan betapa nikmatnya anugerah Cinta. Namun sayang, cinta sudah disalah artikan. Cinta tak lagi menjadi obat yang dapat menyehatkan. Ia menjadi racun pada jiwa-jiwa yang rapuh. namun sayang, Cinta tak lagi menguatkan. Bahkan ia akan melemahkan sendi-sendi perasaan yang terselimuti oleh nafsu.

Jika kau benar-benar mencintainya atas nama Cinta
Maka jangan kau geser esensi cinta menjadi nafsu buas-mu
Maka jangan kau benarkan perasaan yang menghantui-mu itu
Jika yang kau maksud cinta itu suci
maka jangan pernah mengotorinya dengan sentuhan-mu
maka jangan pernah mengotorinya dengan pandangan-mu

Sahabat, jika kau mencintai seseorang yang belum pantas kau cintai
Maka jauhilah ia, karna boleh jadi cinta-mu yang semu itu
malah akan mengantarkan nya ke azab neraka
menjauhkannya dari cinta yang ia harapkan sesungguhnya, dari Tuhannya.

Sungguh, kau tahu, bahwa yang pantas ia cintai hanyalah Tuhannya
cintamu hanya akan jadi pengganggu
saat ia ingin melabuhkan sepenuh Cintanya untuk Sang Pencipta

Sahabat, jika kau benar-benar mencintai ia
maka buatlah ia lebih mencintai Penciptanya
Bukan mencintaimu, ataupun hartamu

Sahabat, jika kau yakin jodoh itu ada
Maka Yakinlah Allah telah menyiapkannya untukmu
Maka jangan pernah kau takut, kau tak akan mendapatkannya
Maka jangan pernah takut, kau tak ada dapat hidup bersamanya
Jika ia jodohmu, maka Allah akan mempertemukanmu di dunia-Nya
Jika tak sempat di dunia,
Maka Allah akan mempertemukan bidadari untuk-mu di Syurga-Nya

Sahabat, jika kau percaya
Cinta itu anugerah yang suci,
maka jangan pernah kau lumuri ia dengan nafsu-mu
Hingga kau merasa nyaman ketika dekat bersamanya
Padahal ia belum halal bagimu
Hingga kau merasa tentram ketika dekat disampingnya
Padahal ia bukan siapa-siapa bagimu
Sungguh, Jika cintamu seperti itu
Cinta itu sungguh keliru

Sahabat, Jika kau yakin Cinta-lah yang menguatkanmu
Biarkan ia tumbuh subuh di hatimu
Agar keimananmu berkembang semerbak bunga
Bukan cinta yang mematikan hatimu
Bukan cinta yang membunuh nuranimu
Bukan cinta yang menipumu
Bukan cinta yang mewarnai dengan sejuta wajahnya yang semu
Melupakanmu dari hakikat diciptakannya dirimu

biarkan ia berkembang
biarkan ia tumbuh subur
biarkan ia menjadi bunga
yang mewangi
yang menghiasi hidupmu

Biarkan ia ada bukan semata untuk-mu
Namun biarkan ia ada bersamamu
untuk bersama menggapai Anugrah Cinta-Nya bersamamu...


~Cinta dengan sekelumit kerumitannya~
Biarkan ia berkembang, melayang, dan meninggalkanmu
di saat kau tak mampu mewadahkannya dengan baik.
(Afief Alkhawarizm)







Inspiring Event : SFT

Akhir-akhir ini saya jadi sering termenung, sekaligus mengingat setiap jengkal perjalanan hidup yang telah terlewati.Teringat ketika mengikuti sebuah event Pelatihan "School For Trainer (SFT)" yang diadakan teman-teman kaderisasi BEM Kema FMIPA Unpad.

Bagi saya, event yang satu ini sungguh luar biasa. Karna saya merasakan dorongan yang begitu kuat untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya yang terpendam. Ya, menjadi salah seorang motivator adalah cita-cita saya sejak SMP dahulu. Pertama kali yang terfikir saat itu, alangkah senangnya ketika kita dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang dapat menginspirasi orang lain untuk berubah. Mendorong orang lain untuk kembali membangun semangatnya. Bagaimana tidak, sepertinya pemuda saat ini banyak yang kehilangan mimpinya, lemah dalam memotivasi hidupnya. Dilihat dari banyaknya pengangguran yang merajalela, banyak pengamen, pengemis jalanan, remaja putus sekolah, dan banyak masyarakat bertahan pada kehidupan yang seadanya. Kalau dilihat dari realita, SDM di indonesia yang berkualitas sangat minim dan kurang memadai. Lalu, bagaimana negri ini diwariskan untuk hari nanti, jika pada saat mudanya kita tak cukup berprestasi untuk mengurusi diri mereka sendiri?

Ya, mungkin itu mimpi di masa lalu, dan saya harus berjuang mewujudkannya untuk masa depan! Seakan gelora terus membara, dan semangat kian mengalir hangat...

Di akhir acara, jadi teringat ketika harus mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Ada sebuah hal yang terus mengalihkan perhatian saya. Saat itu saya merasa bingung untuk membangun komunikasi selama perjalanan. Karna rasanya cukup membosankan jika berkendaraan dalam diam. Pemateri yang saat pelatihan begitu bersahabat dan bersemangat, terlihat begitu lesu kelelahan. Ya, mungkin beliau terlalu memporsir waktu dan tenaganya dalam banyak training terkemuka, begitu fikir singkat saya. Hingga saat saya melaju dengan motor saat itu, hanya beberapa dialog singkat saja yang sempat terucap. Ternyata, seorang trainer motivasi pun dapat merasa lelah. Hal yang wajar saja, dan begitulah manusia.

Seorang trainer adalah orang yang dapat memanipulasi wajahnya saat di depan panggung. Ia dituntut untuk merubah wajah dari segala kelelahan, kelesuan, atau bahkan dituntut untuk melupakan segala masalah yang sedang dihimpitnya. Wajah optimis harus selalu ia hiasi, walaupun saat itu ia sedang dirundung ujian yang tak terperi. Tapi inilah yang membuat saya takjub. Ternyata dengan berbagi, kita dapat menjadi seorang yang begitu kuat walau pada dasarnya kita sedang melemah. Dengan berkumpul dengan banyak orang, ada energi luar biasa yang bisa membangkitkan semangat kita. Sungguh, berbagi itu luar biasa!!!

Cukup terasa manfaatnya saat bersama. Seringkali saat sakit menghimpit, saya menyengajakan menyibukkan diri dalam organisasi. Dan sungguh luar biasa, dalam beberapa agenda yang padat seringkali rasa sakit itu tak terasa dan terlupakan. Walau gerak sana gerak sini, rasanya seperti orang yang sehat saja. Dan anehnya, setelah pulang dan beristirahat, embali lagi rasa sakit itu merajalela. Entah mengapa, tapi begitulah adanya...

Lalu teringat, sewaktu mengejar waktu untuk tampil di tes ujian dalam training itu. Ketika setiap peserta diwajibkan untuk tampil menjadi pemateri layaknya sorang trainer, dan ini akan dijadikan salah satu syarat kelulusan pada training ini. Kami hanya diberi waktu yang singkat untuk menyiapkan segalanya. Cukup merepotkan. Apalagi dalam jeda itu, saya masih mengantar pemateri pulang ke rumahnya. Beginilah nasib kalau merangkap status peserta skaligus 'panitia'.. Hufhhh...

Dalam guyuran hujan di perjalanan, mencoba menguak inspirasi dalam otak. Bingung mau menyampaikan materi apa dalam tes nanti. Organisasi? atau motivasi??? Sepertinya materi tentang motivasi lebih menarik dibahas saat ini..

Yap, akhirnya ada judul materi yang menyeruak dalam benak. Judulnya : Membangun kekuatan dalam keterbatasan. Ya, lagi-lagi terinspirasi dari materi pagi tadi, yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang lumpuh kakinya dan cacat tangannya. Lalu ia berusaha mengubah nasib, berjuang melawan realita, dan akhirnya ia berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya dengan kemandirian. Bahkan ia menjadi salah seorang luar biasa melawan keterbatasannya. Bahkan menjadi seseorang yang tidak saya dapat bayangkan : menjadi trainer motivasi!! Luar biasa!!

Sepertinya hari itu penuh dengan motivasi. Walau lagi gak punya uang, walau harus hujan-hujanan, walau harus pulang malam, walau harus kecapean. Rasanya manfaatnya lebih banyak dari deritanya (duhh lebay banget kayaknya ya ^_^). Mudah-mudahan hari itu menjadi pijakan untuk masa depan, mencoba lagi hal baru, kemudian menjadi bekal untuk senantiasa memaksimalkan potensi yang ada. Namun,....

Hahh,, lagi-lagi ada mimpi yang terus menjadi misteri. Semakin banyak pilihan untuk masa depan. Menjadi trainer motivasi? Mampukah? Hanya do'a yang mengalun syahdu, dalam sujud panjang walau seringkali tak khusyuk. Rabb, temukan aku pada jalan yang terbaik untukku, demi masa depanku...

Catatan yang telah lama tersimpan dan belum sempat terselesaikan.
Akhirnya menemukan inspirasi untuk mengakhirinya..

Jatinangor, 21 November 2010, 20.20

Chatting dengan Tuhan

Selasa, 22 Juni 2010

Kamu memanggilKu ?
Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
Ini TUHAN.Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
banyak ketidakpastian.
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
Apa yang menarik dari manusia?
Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

`dari seorang Sahabat`

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.