Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label NOTES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NOTES. Tampilkan semua postingan

Surat CINTA

Kamis, 09 Februari 2012

Sungguh Aku jatuh cinta....
Entah pada siapa..
Entah pada wanita dunia, atau bidadari syurga.
Namun yang kutahu,
Aku akan jatuh cinta pada wanita yang taat menjaga dirinya
Dengan segenap jiwa dan raganya

Wanita yang selalu basah bibirnya dengan tasbih..
Dengan senyuman seindah pelangi.

Untuk seorang wanita,
yang sampai kini belum kutahu namanya
Mungkin kita pernah bertemu, atau bahkan saling mengenal
Semoga kau yang ku kenal, masih seperti dulu yang memesona
Aku yakin kau-lah yang telah IA takdirkan,
walaupun sebelumnya bukanlah engkau yang ku harapkan..
Begitupun pula dengan dirimu,
Mungkin aku bukanlah seorang lelaki yang kau harapkan dahulu
Namun ku harap, kita dapat belajar mengarungi hidup dengan sekeping cinta yang bersatu..

Cinta...
Berjuanglah untuk menemukan jalan takdir yang mempertemukan kita..
Dengan selalu berjalan pada ketaatan menjalani perintah-Nya
Aku harap kau tak tersesat, begitu pula denganku
Karna sekali saja kita salah arah,
mungkin jalan itu yang akan menjauhkan pertemuan kita...

Aku hanya berharap,
engkau adalah wanita yang belum pernah tersentuh,
walaupun hanya sebatas seujung kuku..
Karna yang kuharapkan bukan kecantikanmu, melainkan kesucianmu..

Wahai wanita, yang kelak menjadi calon ibu bagi anak-anakku..
Belajarlah semenjak dini akan arti sebuah rumah tangga.
Karna engkau-lah yang kelak akan 'bekerja' di dalamnya.
Biarlah aku yang mencari segenggam emas di luar sana.
Tugasmu, hanyalah mengurus anak-anak kita.

Wahai wanita, yang telah kusumpah atas nama-Nya.
Tahukah kau mengapa aku memilih untuk menikah?

Menikah adalah caraku untuk menggenapkan agama.
Mungkin begitu juga denganmu.
Maka, dalam memilihmu pun, yang ku cari darimu adalah agamamu.
Karna ku takut, jika yang kucari hanyalah kecantikanmu,
Saat kau menua, kau tak lagi kucinta.
Jika yang kucari hanyalah kekayaanmu,
Saat kau jatuh miskin, kau tak lagi kucinta.

Maka, yang kucari darimu adalah agamamu.
Jika kau tak lagi memilikinya, atau terlepas darinya,
Maka aku layak meninggalkanmu dengan alasan yang syar'i.

Maka, yang kuharapkan darimu adalah pengetahuanmu akan ilmu agama yang baik.
Karna di tanganmu-lah anak-anak kita kelak menjadi terdidik.

Untukmu yang wajahnya telah kugambar dengan segenap jiwa..
Semoga Arasy meneduhkan saat kita bersama
Di dunia, maupun dalam perjalanan kita menuju syurga-Nya..



Mungkin nanti aku tak butuh matahari,
Karna senyum hangatmu telah cukup menyapaku di pagi hari..
Mungkin nanti pula aku tak butuh rembulan malam,
Karna kesetiaanmu telah menemani saat gelap menghantui

Cinta, teruslah berpijar laksana surya
Agar ku mudah menemukanmu,
Sejauh apapun bumi terbentang....

Aku sangat berharap 
kaulah sebagian kenyataan 
mimpi masa laluku..

`Ku tulis ini saat usia beranjak dewasa`
Umur 22 tahun, umur yang seharusnya menuntut kemapanan.
Usia yang seharusnya menuntut segala sikap penuh kedewasaan.
24 Juli 2011,

Ada Kalanya

Minggu, 26 Desember 2010

Mungkin ada kalanya kita tidak mempertanyakan apa tanggung jawab mereka, karna mereka akan lebih menerima dan mendengarkan saat kita memberikan haknya. Bahwa perhatian kita tidak melulu berkonsentrasi pada kerja-kerja besar mereka, atau malah menggerutu ketika kelelahan telah melanda sendu...


Semua adakalanya..
Maka cobalah fokus untuk menunaikan hak mereka....
Cobalah membangun tawa, saat jiwa sangat menuntut untuk bertanya..
Usahakan menyelipkan suka, saat begitu terpaksanya hati untuk kecewa...

Semua adakalanya...
Maka bukan hakmu untuk selalu mencela atas setiap kelalaian mereka,
Namun jadikanlah ia kewajibanmu untuk sama-sama memperbaiki segalanya..
Jangan biarkan cela setitik, merusak baik yang sebelanga
Lalu menghilangkan kepercayaanmu padanya..

Semua adakalanya....
Baik curiga, maupun berbaik sangka....
Maka jangan biarkan jiwamu selalu luput pada kebaikannya..
Lalu menganggap abadi cela dan kealpaan dirinya...

Semua adakalanya.
Namun bukankah kita lebih memilih bahagia bersama mereka??

Maka biarkan ukhuwah ini terjalin dengan dinamika..
Bahwa kenangan akan selalu teringat pada masa depan.
Dan lalu, selalu jadi pembelajaran...
Bahkan, suatu saat kita akan sangat merindukan
Saat terpisah jarak, dan masa yang membeda..

Jatinangor, 30 Desember 2010, 21.59.03

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Pagi Tanpa Inspirasi

Sabtu, 20 November 2010

Bakarlah pagi ini dengan semangat sehangat mentari.
Yang mampu menggetarkan arsy,
yang geloranya membangkitkan jiwa yang luluh dengan airmata.
Tiada kesedihan di hari ini,
karna kebahagiaan telah menanti siapa saja yang memulai berjuang di pagi ini...
Bismillah!!

Kembali berkutat dengan jejelan inspirasi yang muncul secara paksa. Merenung itu ternyata sulit juga. Setelah berfikir cukup lama, tetap tidak mendapatkan apapun untuk melanjutkan tulisan. Merajut mimpi, tak ayal hanya menjadi mimpi. Serasa pesimis untuk melanjutkan oase demi oase kata yang berujung pada kebuntuan. Setelah kemarin ada kesempatan buat nge-print dirumah, belum juga bergairah untuk dibaca. Tadinya berniat untuk mengkoreksi kekurangan kata yang ada, tapi saat ini masih saja sulit untuk melakukannya. Huufhhhh, ternyata menulis itu lebih sulit dibanding harus berkata..

Pagi ini kembali mencari inspirasi, mencoba merangsang syaraf melankolis di otak, karna biasanya lebih mudah menulis kalau perasaannya lagi bagus. Merenung, berfikir, berkata, lalu menuliskannya. Ahhh,, rasanya buntu sekali pagi ini, hingga memaksa terus menulis catatan ini agar melaksanakan target sehari minimal 2 tulisan. Ckckckk,, terlalu dipaksakan.

Ngomong-ngomong tentang keterpaksaan ada baiknya loh. Ternyata ada baiknya juga peribahasa 'paksa' dalam melakukan agenda-agenda kebaikan untuk kita.

"Jangan pernah merasa terpaksa untuk melaksanakan kebaikan dan manfaat, namun paksakanlah untuk melakukannya"

Kalau bertanya : Apa bedanya ya??
Ya jelas beda!

Bagaimana tidak, rasa terpaksa mengandung arti ada kecederungan hati untuk enggan melakukannnya, terpaksa karna paksaan dari lingkungan. Namun 'paksakanlah', bermakna dorongan dari diri sendiri untuk berjuang melawan keengganan dan kemalasan. Sehingga kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memulai kebaikan-kebaikan walau godaan syetan begitu menggiurkan. Beda kan??? ^_^

Sepertinya kita memang harus terbiasa mengganti kamus dalam hati, kembali menguatkan pondasi niat dalam dada : mengubah terpaksa menjadi paksakanlah!!! Yah, lebih baik memaksakan diri untuk senantiasa sibuk dalam kebaikan, karna kebaikan itu baik untuk kita. Ayo paksakan!! Bismillah...

Jatinangor, 20 November 2010, 7.10
(Mencoba membangkitkan motivasi yang telah lama hilang)

Hanya Mimpi, Sebatas Janji

Jumat, 19 November 2010


Dulu cita-cita kita sama, membangun mimpi melawan realita
Kau punya bagianmu, kupunya urusanku

Kamu dan bagianmu, menyiapkan pondasinya agar tak mudah runtuh
Aku, ada urusanku, mengurusi sebagiannya agar tak terlihat kumuh

Lalu kita sama-sama berjuang

Melewati pintu dan lorong yang berbeda

Jalanmu gelap, akupun juga

Tak ada lilin yang menemani perjalananmu

Dan aku hanya mampu membisu

Karna waktuku, tak lagi cukup untukmu.


Dulu, sewaktu kita bersama mengikat janji

Di bawah teduhan bunga dan mentari

Kau kaitkan kata, dan kita rajut cerita

Dalam mimpi yang kita bangun setia
Namun kini, tinggal percuma.

Dulu, dan mungkin sekarang kita lupa

Saat kita getarkan ikrar dalam dada

Berjanji agar setia selamanya

Masalahmu, juga urusanku

Tak ada benteng yang menghalangi tanggung jawab kita

Namun kita, kini berjalan menyendiri seadanya.

Lalu rindu mempertemukan kita
Menyadarkan jiwa yang tergelepar dan terkapar

Bahwa kita tak bisa melewatinya tanpa bersama

Lalu kita akan semakin terluka

Dan berpisah pada jalan yang berbeda,

hanya akan membuat luka yang lebih menganga.


Lalu badai menguji persahabatan kita

Ego yang kupunya, kian terkikis termakan habis.


Saat ukhuwah tak seindah perbedaan warna

Saat rasanya, ibarat madu yang tiada getir

Ibarat lebah yang hanya diambil madunya
Ibarat lintah yang hanya menghisap darahnya


Lalu, nasihatmu ibarat candu.

Menawarkanku disaat menggerutu.


Karna ukhuwah tak semanis madu,

yang manis rasanya, tanpa getir yang tersisa.

Karna ukhuwah tak segelora darah

yang semangatnya, tak pupus memerah.


Jatinangor, 19 November 2010
(Saat ukhuwah padam, kemudian hilang diterpa zaman)

Satu Mimpi, di Sebuah Negri (Part.1)

Kamis, 18 November 2010

Berharap seperti angin yang mampu brgerak kencang, namun dapat berhembus lembut memberikan udara segar. Selalu bergerak tak kenal lelah, memberi nafas harapan pada jiwa yg lunglai trengah-engah. Ingin rasanya menjadi jiwa yang menjadi harapan, karna hidup ini masih panjang...

Aku tak pernah bermimpi menjadi pemimpin di negeri ini, apalagi harus memiliki ambisi pribadi. Namun semua yang terlihat, sepertinya tidak berlaku jinak. Semua, bahkan terlihat sampai pada kondisi bangsa yang sekarat. Brutal rasanya menjadi kamus wajib bangsa, karna tak ada lagi kenyamanan hidup dalam menghirup udara. Semua seakan bertindak membabi buta, tak pedulikan sekelilingnya yang kian merana..

Ketika jabatan menjadi pertaruhan, harga diri bahkan diperjual belikan. Tampuk kekuasaan ibarat lotre yang menjadi antrian, ditunggu dan dinanti dengan banyak kepentingan. Entah apa yang menjadi motivasi para pemimpin di negri mimpi ini. Semua seakan acuh, tak sadar bahwa dirinya adalah harapan bangsa. Tak ada yang istimewa dari permainan politik mereka. Semua hanya rekayasa sosial yang diagungkan. Visi misi seakan hanya menjadi lembaran mimpi. Tak kerap hanya dijadikan komoditas kampanye belaka. Susah payah mendapatkan jabatan dan kedudukan. Namun setelah terpilih, malah banyak menciptakan kekecewaan.

Ahh, ingin rasanya terus menyalahkan pemimpin di negeri ini. Namun apakah itu cukup berarti??

Bukan saatnya mengutuk keadaan, karna kitalah generasi harapan. Bersiaplah untuk berjuang, walau harus berkorban. Tak perlu menjadi pahlawan, apalagi hanya untuk dikenang. Suara kita, jasad, dan semangat yang membara siap menjadi gaung yang siaga untuk mengatakan TIDAK pada setiap bentuk kedzaliman. Pada siapapun itu ditujukan, bahkan kepada para yang dimuliakan dengan jabatannya.

Kilatan pedang memang menyakitkan,
Namun kekuasaan yang disalah-gunakan lebih mematikan.
Perjuangan tak kenal waktu,
Karna setiap desah adalah perjuangan kehidupan

Siapa yang menuntut keadilan, Dia harus melawan
Karna keadilan hanya untuk orang-orang yang tak gentar melawan kedzaliman.

Disini langit kami, tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya, tanah kami subur tua
Di negri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya,
tergusur dan kelaparan
Bunda relakan darah juang kami
Untuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya, tergusur dan kelaparan
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji(Darah Juang)

Jatinangor, 18 November 2010

Jika Politik Jadi Pilihan (Bag.1)

Rabu, 17 November 2010

Hah,, sepertinya melihat potret keseharian bangsa tak ubahnya seperti melihat sejarah kelam dari masa yang semakin suram.Kondisi tanah air yang memilukan. Jadi rindu dengan Rasulullah, rindu dengan perjuangannya yang mampu merubah situasi jahiliyyah menjadi ilahiyyah. Memutar 180 derajat peradaban kearah kemuliaan zaman. Andai saja sosok beliau ada yang meneladani saat ini, pasti langsung ditunjuk menjadi pemimpin di negri ini cukup dengan aklamasi. Namun, realita menyadarkan bahwa kita hidup jauh ratusan tahun dari zaman nubuwwah. Yah,, hanya bisa berharap saja.

Mari kita berkaca akan potret bangsa. Tak ubahnya lotre pacuan kuda, semua partai berlomba duduk di bangku kekuasaan. Mungkin dengan berbagai cara, baik yang halal ataupun yang haram bukan menjadi pilihan, semua dianggap hal yang wajar untuk diusahakan. Dana Kampanye tidak lagi mengenal uang haram ataupun halal, yang dikenal hanya dua mata uang : yang asli atau palsu. Selagi uang itu asli, ya berarti bisa digunakan untuk apa saja, yang penting bisa menang pada pemilu.. Hmmm,, begitu ya.

Berada pada bangku kekuasaan, ibarat berada pada lingkaran setan. Mereka yang berhati suci, terkadang mudah terpengaruh dan terkotori. Suap sana, suap sini. Semua hati, apalagi nurani sudah tertutupi oleh ambisi pribadi. Motivasi membangun negri, akhirnya terkubur kaku tergantikan untuk membangun rumah sendiri. Soal gaji, silakan dinikmati. Kalau kurang fasilitas, tinggal mark up anggaran buat kesejahteraan anggota dewan.. Mahkota menjadi dewa, Nafsu dunia semakin merajalela. Ah,, gila memikirkannya. Jadinya buat apa memikirkan kekuasaan, kalau malah menjerumuskan kita pada kehancuran...??

Sejujurnya, sampai saat ini saya masih pesimis dengan semua partai politik yang ada, termasuk parpol dengan embel-embel partai islam. Semua ditunggangi dengan kepentingan golongan. Mau bukti?? silakan analisa lebih dalam.. Kalau dalam masalah furu' dalam ibadah bolehlah kita berbeda, karna memang ada perbedaan dalam pemahaman mazhab dan sebagainya. Tapi kalau masalah politik bangsa, apakah kita juga memilih untuk berbeda? lalu sampai kapan umat ini akan bersatu membereskan permasalahan bangsa? Kalau untuk menyatukan suara dalam 'kampanye kebaikan' kita tak ada satu suara yang sama?

Saya jadi sering bertanya-tanya pada para pemuka politik muslim : Sudahkah mereka mencoba meyatukan visi misi dan langkah untuk bergerak bersama dalam kancah pemerintahan? Atau mereka memang benar-benar hanya membawa misi dan ambisi golongan? Bukankah strategi politik rasulullah dahulu juga menyatukan muhajirin dan anshar?? Lalu mengapa kita selalu memilih berjalan sendiri-sendiri, seakan mereka bukan saudara-saudara seiman kita?? seakan mereka tak memiliki visi dan misi yang sama? Atau memang begitu adanya???

Entah kepentingannya apa, entah pertimbangannya apa. Sampai saat ini saya benar-benar tak dapat mencerna apa yag mereka perjuangkan dari dakwah ini. Hingga saya mengamini bahwa semuanya tidak ada yang benar-benar berjuang untuk rakyat. Masa pemilu dijadikan obral janji, setelah terpilih, eh malah bikin sakit hati. Begitulah mentalitas pemimpin negeri ini, semua pandai berdongeng, apalagi membuat rekayasa politik dan sosial untuk mengelabui rakyat. Sudah pendidikan masyarakat tidak begitu memadai, malah dibodoh-bodohi.


Sebagian besar dari kita setuju berpendapat, saatnya islam menguasai tampuk kekuasaan. Demi dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Dakwah siyasi harus segera digulirkan melihat kondisi bangsa yang semakin termakan oleh ahli thagut dan syetan. Korupsi merajalela, hukum ibarat permainan penguasa. Tak ada yang benar-benar baik di negeri ini. Namun, apakah semua permasalahan bangsa dapat terjawab sebelum kita sama-sama menyatukan langkah?

"Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."

Tulisan ini pun saya yakin tidak menjadi solusi, mungkin malah tambah bikin sakit hati. Biarlah, hanya sebatas meluapkan perasaan diri sendri. Entah benar atau tidak, suka atau tidak. Biarlah semua memiliki pandangannya masing-masing. Mudah-mudahan kedepan kita semua dapat menyatukan pandangan, sehingga tak ada kabut lagi yang menutupi kebenaran. Wallahu 'alam.


Jatinangor, 21 Juli 2010
(Saat politik terlihat membusuk oleh ketamakan)


Inspirasi Hujan

Selasa, 16 November 2010

Sesejuk hujan sore ini, gemerciknya basah hingga menyuburkan. Kuntum tetumbuhan yang layu, tersapu hangat oleh guyuran yang menyejukkan. Siklus yang tak pernah berakhir, walau harus lewati setiap perbukitan hingga lautan. Lalu menguap, kembali turun berikan manfaat kehidupan.

Dalam setiap tetesan, ada aroma yang pekat. Berbau debu . Seringkali membentur tanah tandus, hingga kemudian basah subur tertumbuk pupuk alam yang tak pernah habis. Rintik yang perlahan, membanjir jika alam sudah mulai tergoyah. Bandang, bahkan tsunami menggertak, menandakan amarah yang memuncak. Kelembutan adakalanya dapat menghancurkan jika terus diabaikan. Jangan salahkan alam yang berjuang mempertahankan keseimbangan, karna ia pun makhluk tuhan. Yang menuntut keadilan atas segala pengrusakan.

Seringkali kita hanya bisa menyalahkan, tanpa mau instrospeksi atas setiap kebodohan yang kita lakukan. Guyurkan kepalamu pada hujan!! Jika ia terus bertindak bingar, apalagi terlalu sombong untuk mengakui keangkuhan.


Hujan sore ini merintik perlahan.
Lalu kian deras, menderu bising diterpa angin....


Depok, 16 November 2010
(Saat rintik hujan lelah menggelitik)

Dunia Yang Asing

Minggu, 14 November 2010

Saat peradaban mulai meminggir dari kemuliaan
Banyak hal yang terserak berantakan
Seakan puing moralitas sudah biasa menjadi debu
tidak begitu diperhatikan, bahkan sebaliknya :
Dianggap hal yang keji.

Tirani kian merajalelaNafsu menjadi dewa.
Dan kini hanya banyak orang yang bisa mengumpat
Banyak yang terlalu pintar untuk berpendapat
Namun sedikit yang bisa berbuat
Berbuat, lalu memberi manfaat

Dunia seakan menggila sepertinya
Para pemuda telah rusak moralnya
Orangtua, malah surut untuk bertindak bijaksana..
Tak ada kata kerjasama
Dan kita, hanya saling mencela...

Lagi-lagi atmosfir ini membuat pikiran mual
Semua, bahkan saya yakin tak ada satupun yang merasa nyaman
Mereka yang bekerja di perkantoran,
ataupun yang hidup dijalanan.
Bahkan tak ada binatang pun yang dapat hidup tenang..
Tak ada lagi kehidupan yang diimpikan
Karna mimpi telah mati dari pengharapan.
Lagi-lagi nyawa telah banyak dipertaruhkan.
Demi mengobati keputus-asaan..

Dunia kita, saat ini berubah menjadi neraka
Tak ada lagi keindahan
Yang ada hanya fatamorgana yang memabukkan
Semakin diminum, semakin menambah dahaga
Tak pernah puas bahkan
Tak ada lagi makanan yang terasa lezat untuk dihidangkan.
Semuanya menjadi racun,
dan kemudian mematikan.

Ini salah siapa???
Jangan hanya menyalahkan penguasa
apalagi rakyat jelata..
Karna kita semua memegang andil dalam setiap kerusakan
Dan kini, kita pula yang menjadi juru kunci dari setiap perubahan.
Jika memang tak bisa menanggung sepenuhnya,
Lebih baik mengusahakan untuk menanggung sebagiannya..

Jatinangor, 13 November 2010
(saat dunia semakin membuat pikiran penat)

Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah Bag.2

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kalau saja waktu bisa dibeli, Betapa saya ingin membeli waktu milik orang-orang yang menganggur itu. Agar semua menjadi 'amal yang muntijah (produktif) dalam dakwah. Karena, alwajabat aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia.."(Hasan Albana)

Huffhhhh,, mungkin itu helaan panjang yang sudah menjadi kebiasaan. entah sampai kapan kita mampu menyelesaikan. Semakin dikerjakan sepertinya bukannya semakin berkurang, tapi kian bertambah bahkan berkali lipat bebannya. Ya, karna kita mengerjakannya semakin detail, semakin kita mengetahui bahwa ternyata masih banyak yg kurang dari perencaan awal.

Sepakat dengan perkataan Hasan Albana : Al wajabat Aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yg tersedia. Allah menganugerahkan kepada kita dengan begitu banyak kewajiban yang harus kita selesaikan, terlepas dari penting atau tidaknya kewajiban itu untuk kita tunaikan. Tapi bukankah kita beramal karna memang membutuhkanya. Sungguh, kita butuh menunaikannya sebagai bekal untuk pemberat kebaikan di akhirat.

Kelelahan seperti rasa yg haram untuk dirasakan sepertinya. Ketika kita sungguh2 berniat untuk mengejar kesempurnaan amal. Produktivitas waktu, itu yang perlu kita tuju. Bukankah dalam surat Al Asr, Allahpun menyebutkan bahwa pada dasarnya kita memang merugi, kecuali orang2 yang memanfaatkan waktunya umtuk beramal sholeh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran???

Jadi untuk masalah waktu, sepertinya kita tak perlu menggerutu. Mengapa Allah memberikan keterbatasan waktu pada kita, bukan bertujuan untuk melihat seberapa bisa kita menyelesaikan semua kewajiban2 kita, tapi bertujuan untuk menilai bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk berjuang dalam menunaikannya..(itu menurut saya, entah bagaimana dengan anda).

Untukkmu yang diburu waktu... Bersabarlah, waktu memang selalu mengejar kita Mengejar agar kita tidak menyia-nyiakannya. Karna begitu banyak kewajiban yang harus kita tunaikan. Begitu banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Begitu banyak harapan yang harus kita perjuangkan. Selagi Tuhan masih memberi kita waktu untuk berdiri dan berlari Maka jangan sia-siakan waktu yg tersisa saat ini. Karna esok belum tentu ada waktu lagi untuk menanti


Untukmu yang tak kenal lelah,
Semoga Allah mengganti setiap tetesan peluhmu dengan airmata Syurga....

Jatinangor, 23 Oktober 2010, 06.07.51
(Saat mencari motivasi yang hilang)

Kematian Yang Tak Pernah Kuimpikan (Part.1)

Rabu, 22 September 2010

Mengarungi jalan lurus namun gelap, hanya ada lilin kecil yang terus membakar dirinya...

Hanya ada lilin kecil yang menemani. Dengan cahaya sekedarnya, aku melindunginya dari usapan angin yang berhembus. Dingin semakin merasuk, menusuk hingga membuat diri bulu kuduk. Hanya ada penyesalan, ketika siang sebelum senja. Aku tak pernah menyiapkan segalanya. Bahkan hidup dalam kesenangan dunia, melenakanku akan getir malam ini. Hanya ada tetes air yang mengalir, menyesali subuh tadi. Saat tubuh ini masih kuat menyiapkan pelita. Saat tubuh begitu gagah berkata lantang, Aku Hebat!! Aku memiliki segalanya.. Sungguh, sungguh angkuh, dan aku terlena...

Sekarang baru beranjak malam, namun perjalanan masih panjang. hanya cahaya bulan yang menemani malam. Sebelum menemukan matahari di subuh hari, mungkin lilin kecil telah berbakar mati. Kegelapanpun semakin mencekam, hanya petunjuk hati yang menemani.


Serasa telah berada di penghujung kehidupan. Nafas semakin terengah, detak jantung semakin payah.. Langkah-langkah kecil tetap menapak, namun tak bisa meninggalkan jejak-jejak keletihan. Rasanya 'aku' tak sanggup lagi melakukan perjalanan. Tubuh semakin kaku, lidah membisu. Seakan tak ada kata yang terucap untuk mengeluh.

Mata semakin kabur, pandangan semakin buram, sepertinya kegelapan begitu mencekam. Hingga 'aku' tak lagi memikirkan kemana arah yang sebenarnya. Tapak demi tapak semakin payah,, sangat melemah. Hingga 'aku' merasakan udara dingin yang menyapa. Tubuh terjerembab sesaat, kaki tak mampu lagi untuk berdiri. Kilat menyambar sangar, dan aku hanya terkapar..

Sepi,
Gelap,
Lemah,
Tak Berdaya,
Mungkin ini adalah akhir dari segalanya.
Akhir Hidup yang tak pernah kuimpikan.
Tragis.

Jatinangor, 22 September 2010, 18.42.32

(Saat Beban Begitu memuncak, dan kondisi kian melemah)

Memaknai Cinta (Part.2) : Jika Makna Cinta Disalah-artikan..

Selasa, 21 September 2010

Jika Cinta Disalahartikan...

Ia Lebih tajam dibanding duri, menusuk, menorehkan luka

Ia Lebih memabukkan dibanding arak, terlena, membuat gila

Ia Lebih suram dibanding kegelapan, kalut, membutakan arah

Jika cinta sebatas Nafsu,Ia akan terus menipu

Jika cinta hanya dianggap sebatas rasa, Ia tak akan pernah terlihat nyata

Jika cinta diartikan untuk memilikinya, Ia akan menghilang.

Jika cinta tak memiliki wadah yang benar, hanya kemaksiatan yang menyelimutinya.

Jika cinta hanya didasari oleh suka, suatu saat kebencian akan menghampirinya.

Jika cinta hanya dianggap untuk menerima, Kita tak akan pernah bisa ikhlas untuk memahaminya.

Jika cinta dianggap untuk memberi, pada hakikatnya tak ada yang kita miliki.

Jika Cinta mengalihkan perhatian dari Tuhannya,

Lalu apakah itu Cinta yang sesungguhnya???

Sungguh, Cinta bukan sebatas hasrat yang perlu dipenuhi!!

Jatinangor, 21 September 2010

(Ketika Makna Cinta seringkali disalah-artikan)

Dua Hati yang Berlabuh

Minggu, 19 September 2010

Antara Hati dan Rasa

Banyak orang yang bilang, "Hati lelaki terbuat dari batu, hati wanita terbuat dari salju"..

Tidak sedikit orang yang bilang : "Cowo mah gak peka, gak punya perasaan"

Sebagian orang mengaminkan : "Wanita terlalu perasa, sensitif, gak logis!"

Semua orang sering berbicara tentang perasaannya,

tanpa mau merasakan, apa yang orang lain rasakan.

Tuhan membuat hati lelaki keras membaja, karna ia ingin menciptakan manusia yang teguh dan tangguh.

Ia membuat hati wanita lebih lembut dan perasa, karna dari hati seorang wanitalah tumbuh kasih sayang kepada anak2nya.

Tidak ada yang pernah salah, dari Hati yang Allah ciptakan berbeda.

Batu, untuk menguatkan, salju untuk melumatkan kasih sayang.

Sungguh, hentikan paradigma kita antar sesama manusia.

Karna Hati bisa merasakan, akal bisa mencerna.

Tanpa Hati, akal menjadi angkuh

Terlalu gagah untuk tidak meneteskan airmata.

Tanpa akal, perasaan melemah

Mudah terbawa kondisi yang ada

Maka buatlah hati kita seperti salju

ia lembut, namun begitu kuat ketika tergumpal menjadi batu.


Tidak Selamanya Batu itu Keras!!

Seorang Ayah terpekur di atas kursinya. Tetesan Keringat membanjir dari balik bajunya. Bau terik matahari masih tercium, kotoran lumpur, dan basahnya limbah menempel di celana. Sekedar melepas lelah, ia menarik helaan nafas beratnya. Kuatnya hirupan nafas pertanda sangat lelah, dan ingin segera beristirahat secepatnya. Kalau saja tidak teringat akan anak dan istrinya, rasanya ia ingin melabuhkan diri sejenak, beristirahat dari usianya yang sudah merenta. Pekerjaan sebagai buruh pabrik dengan jam kerja siang sampai larut malam cukup membuat rontok sendi tulang belakangnya.Namun Terkadang keluarga yang membuat kita kuat, bagaimanapun keadaannya.

"Pak, makan dulu. Sudah Ummi siapin di Meja. Maaf, cuma ada lauk seadanya".

"Anak-anak sudah makan bu??"

"Belum pak, tadi anak-anak nunggu bapak pulang, eh malah pada ketiduran. Padahal tadi mereka ribut kelaparan"

"Bapak kayaknya kecapean, istirahat dulu aja pak. Nanti malah sakit lagi"

"Nggak bu, cuma butuh rehat sejenak aja. Masih ada proyekan yang belum selesai. Kayaknya malam ini harus menginap di pabrik bu".

"Bapak, sudah biar ibu aja yang menggantikan bapak bekerja. Kemarin dapat tawaran buat nyuci baju di tetangga sebelah. Sudah waktunya bapak istirahat"

"Sudah ga usah perdulikan bapak! Bapak ga perlu perhatian dari ibu, lebih baik urus saja anak-anak dan ibu sendiri!"

Ada tetes yang tak biasa mengalir.

Seakan getir menyambar hujan yang turun gemetar. Memecah syahdu rintikan air yang mengalun merdu. Suara yang terdengar lantang seakan menusuk. Ucapan akan ketidak butuhan dengan keluarga terkadang diyakini secara emosinal sebagai tindakan acuh dan ketidakpedulian. Seorang ayah tau, tak pantas rasanya membentak atas perhatian yang istrinya berikan. Tapi sungguh, dalam lubuk hatinya ia tak bermaksud melukai perasaan istrinya. Hanya mencoba untuk berlaku keras, agar istrinya dapat menaati pengorbanannya. "Tidak usah perdulikan aku" dapat diterjemahkan sebagai "Aku tak mau merepotkanmu". Tapi kata tetaplah kata, salah bicara dan nada, ia akan merobek dan membuat nanah di lubuk hati seorang wanita.

Sebagian lelaki memang tidak pandai mengungkap perasaannya. Sebagian mereka terkadang memilih cara yang keras untuk menunjukkan perhatian. Ada hal yang sangat mendasar yang sangat membedakan ciri khas komukasi wanita dan lelaki pada umumnya. Untuk seorang Lelaki, lebih memilih diam ataupun pura-pura acuh ketika ia tidak menemukan cara untuk mengungkapnya, kemudian melupakannya atau memilih cara yang keras tanpa berfikir panjang, dan berkata apa adanya. Seorang wanita lebih cenderung diam dan menahan perasaan, menangis, dan menikmati penderitaan dari sakitnya perasaan. Banyak dari mereka yang tidak mamapu berkata jujur, tak bisa melupakan, dan terkadang bertambah besar ketika semakin tak tertahankan.

Hati-hati mengungkap hati,

Karna ia banyak menyimpan sebuah misteri

Dari rasa, materi yang tak pernah nyata.


Jatinangor, 18 September 2010

(Tengah Malam : Saat sangat sulit memahami hati sendiri)

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.