Post Update :

Posting Populer

Motivasi

Hidup tanpa motivasi bagaikan berkendara tanpa arah tujuan. Untuk mendapatkan beberapa untaian kata motivasi yang inspiratif, anda bisa dapatkan disini :
-------------------------------------------------------------------------- Motivasi Islam -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Motivator Indonesia -------------------------------------------------------------------------- Salam Super Mario Teguh
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Organisasi Kehidupan

Senin, 11 Juli 2011

"Belum pernah terlihat ada obat yang lebih mujarab bagi dua orang yang sedang dimabuk cinta, selain menikah" (H.R. Thabrani dan Ad-Dailami)

Banyak orang yang memulai kehidupan rumah tangganya dengan hal yang besar. Dengan impian, cita-cita dan harapan yang melekat pada diri mereka. Dengan cinta yang mereka tumbuh kembangkan hingga membuahkan kasih sayang. Namun ironisnya, banyak rumah tangga yang keharmonisannya tidak bertahan lama. Seakan impiannya saat menikah dahulu, hanyalah sekelumit bayang-bayang kehidupan. Cinta dan iman seakan menjadi alasan yang kerdil dibandingkan dengan peliknya permasalahan yang menyulut api perceraian. Maka, mungkin yang perlu kita perbaiki adalah orientasi yang benar mengenai pernikahan. Karna banyak orang yang menganggap pernikahan hanyalah untuk memiliki surat legalitas 'berhubungan badan'.

Saat pernikahan hanya dianggap sebagai sebuah prosesi tanpa esensi, maka disanalah bermula benih-benih kehancuran dalam membangun rumah tangga. Lalu bagaimana seharusnya pernikahan agar dapat dijadikan landasan awal dalam membangun rumah tangga? Setidaknya, perbaikilah tujuan kita ketika memilih untuk menikah. Karna pilihan yang terpenting dalam hidup tak pernah mudah, begitupun dengan MENIKAH!.

Tujuan Pernikahan :

1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta, kasih sayang dan ketenangan jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
5. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
6. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan).

Tujuan ini hanya sebatas referensi yang ane dapatkan dari salah satu sumber. Semoga ini menjadi tujuan minimal ketika kita memutuskan diri dari status membujang..

Keluarga adalah organisasi terumit dalam lingkup rumah tangga... Yang visinya bukan hanya berorientasi pada keberhasilan dunia, namun berorientasi pada keberhasilan meraih syurga.. Menuju Cinta dan Keridhoan-Nya..

Tidak sedikit dari kita yang menganggap keluarga hanya seperti sebuah rumah. Didalamnya kita dapat berteduh, melabuhkan lelah, dan melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tak lebih tak kurang. Atau adapula yang menganggap keluarga hanyalah sebuah kapal layar. Disana kita bersama mendayung hingga akhirnya sampai pada tempat tujuan. Kita dapat mengganti kapal manapun yang kita mau, ketika tujuannya telah berbeda. Pelabuhan yang kita tuju adalah peristirahatan sementara dalam pengembaraan kehidupan. Berpindah dari pelabuhan satu menuju pelabuhan lainnya. Hingga orientasi begitu cepat berubah. (Ngerti khan ya, maksud ana?? :))

Tidak sedikit dari kita, yang menjadikan keluarga sebagai pabrik penghasil manusia dengan kualitas seadanya. Asal bisa bertahan hidup dalam kurun waktu cukup lama, maka proses produksi barang yang biasa disebut 'manusia' itu tak lagi diperhatikan. Bahkan sebagian hanya mengandalkan modal uang untuk memproduksi generasi penerus, yang katanya menjadi harapan agama, masyarakat dan bangsa. Sebagian lainnya, ada yang menjadikan keluarganya sebagai mesin pencetak uang. Tujuannya adalah meningkatkan taraf kehidupan diatas rata-rata kondisi sosial dalam kemewahan dan harta.

Padahal....

Keluarga adalah awal dari segalanya. Soal pendidikan, agama, bahkan keluarga adalah permulaan dari sebuah peradaban bangsa. Banyak orang yang menganggap hidup berkeluarga adalah pekerjaan remeh temeh sehingga banyak diantara kita yang mengenyampingkan kondisi keluarganya. Kalau kita coba analisa, betapa banyaknya permasalahan umat dan masyarakat yang sebenarnya bermula dari kebobrokan dari lingkup terkecil dalam keluarganya. Silakan perhatikan dan analisa sendiri ya.. :)

Keluarga adalah organisasi terbesar dalam lingkup terkecil...

Disadari ataupun tidak, keluarga dapat diibaratkan laksana sebuah organisasi. Seperti yang kita fahami layaknya sebuah organisasi, maka perlu segala yang berhubungan dengannya memiliki landasan, tujuan, peraturan-peraturan, pengkaderan bahkan sampai kepada hal mendetail terkait dengan program kerja. Saya takjub ketika mendengar salah seorang ustadz yang begitu apik mengagendakan secara terperinci agenda-agenda dalam keluarganya. Kapan saatnya seorang anak bermain, belajar, setor hafalan al qur'an, bahkan untuk sekedar menonton TV!! Luar Biasa!!...

Hasilnya? Tak heranlah kalau kesemua anaknya berprestasi dan bernilai di mata masyarakat. Di gemari oleh sahabat dan kerabat. Karna proses 'produksi'-nya melalui serangkaian proses yang dirancang dengan matang, terprogram bahkan terevaluasi layaknya sebuah organisasi!!

Maka, tugas kitalah para lelaki, sebagai qawwam yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak kita. Menjadi pembimbing untuk istri ketika mengurusi masalah rumah tangga. Ingatlah, di pundak kitalah amanah besar itu dititipkan. Tak ada alasan untuk berdalih ketika kita dimintai pertanggung-jawaban atas amanah yang telah menjadi fitrah kita. Apalagi menyerahkan amanah besar itu kepada istri kita dengan segala keterbatasannya. Ingatlah, KITALAH NAHKODANYA!!!


Suami yang shalih adalah dia yang mampu memuliakan seorang wanita di dunianya sebagai seorang istri, dan menjadikannya di akhirat sebagai bidadari....

Maka, untuk kita para lelaki. Bersiaplah.. Karna genderang perang akan segera di tabuh. Bukanlah perang itu selalu dengan pertumpahan darah. Namun perang saat ini adalah bagaimana kita dapat membulatkan tekad untuk berjihad mempersiapkan masa depan kita. Karna sudah pastilah Allah akan mengamanahi kita dengan jabatan yang tidak dapat kita elakkan. Menjadi seorang suami sekaligus ayah, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan anak dan istri kita. Saatnya kita membenahi diri dalam sebuah organisasi kehidupan, sebuah keluarga. Saatnya kita berjihad mempersiapkan generasi rabbani dambaan ummat... Biidznillah....

Wallahu'alam..

`Jatinangor, 7 Juli 2011` - 17.02.01

Inspiring Moment #3 : Untuk Para Ikhwan

Senin, 09 Mei 2011

Ternyata banyak kewajiban di masa depan yang membutuhkan perhatian. Sebelum semua menagih haknya atas diri kita, lebih baik mempersiapkannya sekarang juga!!! Bismillah, mari bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Untuk anak, istri dan keluarga kita kelak.

Menjadi laki-laki memang cukup berat. Apalagi telah tergambar jelas, jika nantinya para lelaki akan menjadi qawwam atas istri dan anak-anak. Menjadi kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang menyebut kita : suami, dan juga ayah. Menjadi seorang nahkoda yang seharusnya mampu melabuhkan anak dan istri kita di syurga. Maka, tak ayal lagi - kepemimpinan kita akan diuji dengan amanah sebuah keluarga. Pertanyaannya : Apakah kita telah sanggup mempersiapkannya dengan baik, atau malah menjadi salah satu penyebab suramnya masa depan istri dan anak-anak kita kelak?? Maka selagi muda, sudah seharusnya kita mempersiapkan segalanya.

Sudah seharusnya kita berfikir dewasa dan belajar menjadi orangtua. Karna masa depan generasi selanjutnya adalah tanggung jawab kita!!

Dalam sebuah training pernikahan, para peserta diminta untuk menuliskan rencana hidupnya saat berkeluarga. Dengan secarik kertas yang diberikan panitia, kami diminta untuk menuliskan impian, harapan, serta target-target yang harus dicapai selama berumah tangga. Seorang bapak duduk tepat disamping saya. Melihat saya cukup bersemangat menuliskan rencana masa depan, ia tersenyum. "Wah mas, semangat amat nulisnya, sepertinya sebentar lagi ya?", ujar bapak itu sambil tersenyum memandang saya."Ah enggak pak, masih lama", jawab saya sambil membalas senyumnya. Tak lama kemudian si bapak muda meminta untuk melihat rencana hidup saya yang kini sudah melebihi apa yang ditulisnya. Sebenarnya enggan untuk memberikannya, namun rasanya tak enak ketika menolaknya - karna sejujurnya saya malu ^^;

"Memang harus dipersiapkan mendetail seperti itu mas. Walaupun pada kenyataannya sangat sulit di praktekan setelahnya. Biasa lah namanya juga berumah tangga. 6 bulan pertama indah, 6 bulan selanjutnya sangat indah, setahun setelahnya terserah anda...", ujar si bapak sambil terus menyunggingkan senyumnya. Saya sempat senyam-senyum sendiri dibuatnya. Jadi makin berfikir : Begitukah pernikahan? manisnya hanya dirasakan saat-saat tahun pertama, tahun selanjutnya : penuh derita.

Yah, begitulah orangtua. Selalu membandingkan impian kita dengan pengalaman mereka. Namun begitulah hidup, harus kita akui - selalu ada saripati hikmah yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka.

Memang tidak bisa dipungkiri. Dari sebagian besar cerita yang pernah saya dengar, tidak sedikit diantara para orangtua yang pernikahannya kandas di tengah jalan. Peliknya permasalahan rumah tangga rasanya tak sesederhana teori, atau sebatas 'skenario' yang biasa ditampilkan di pelbagai sinetron. Semuanya adalah realitas hidup. Tidak melulu diributkan dengan permasalahan yang besar ternyata, masalah-masalah kecilpun kadang menggelombang, dan akhirnya membentur karang kesetiaan dan cinta yang dulu dibangunnya.

Mulai dari tidak enaknya masakan istri, suami yang pulang larut malam tanpa konfirmasi, pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, anak-anak yang nakal di usia remaja, sampai ketika kecemburuan dan perhatian tak lagi diberikan sesuai kebutuhan. Belum lagi polemik dari permasalahan finansial bagi mereka yang tak cukup mapan. Rasanya setiap permasalahan itu adalah sebuah ujian yang pasti menghampiri siapapun ketika telah berlayar dalam bahtera keluarga. Dan bisa tidak bisa, kita harus melewatinya. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mendewasakan diri sebelum permasalahan-permasalahan itu merenggut kebahagiaan kita..

Cukup banyak yang saya tuliskan dalam secarik kertas yang diberikan panitia. Rencana agenda harian, mingguan, bahkan targetan-targetan yang seharusnya dapat dicapai secepatnya. Rentetan detail yang sebenarnya masih mengawang (karna belum pengalaman), berjejer dalam secarik kertas hingga penuh. Ahh, beginikah rencana hidup, berfikir dalam 5 menit saja sudah cukup memusingkan, apalagi dikemudian hari harus menghadapinya secara nyata untuk menjalani kehidupan. Namun begitulah hidup, rencana kita adalah ikhtiar untuk menciptakan nasib kita.

Hahhh,,, rasanya apa yang saya tuliskan ini bukan sekedar mimpi. Tapi kewajiban yang harus saya penuhi. Seakan gambaran masa depan semakin dekat dipandangan. Bayangan anak-anak yang menagih uang saku, bayar SPP, mainan, dan berbagai keperluan lainnya. Belum lagi untuk keperluan rumah tangga : Bayar listrik, bahan makanan, membeli perabotan rumah tangga, menyekolahkan anak hingga kuliah, sampai pada meng-hajikan orangtua dan mertua. Dan tahukah? Ketika kita mencoba menghitungnya secara mendetail - saya pastikan : tidak ada seorangpun yang siap menikah dengan segera! Walaupun telah nyata dihadapannya seorang wanita yang siap untuk dilamarnya, atau telah bulat keputusan mertua untuk menikahkan kita dengan anak mereka!!

Namun begitulah cinta. Semuanya harus diwujudkan dengan logika. Harus diperhitungkan. Karna konsekuensi dari cinta adalah membahagiakan. Ketika kita berlindung dan mencari aman dengan dalih "Cinta itu menerima apa adanya", maka saat itulah kita harus tersadar, bahwa kita bukanlah pecinta sejati, dan kita tidak berhak merasakannya. Karna cinta adalah sumber energi untuk memperbaiki diri. Membuat kita yang bukan siapa-siapa menjadi papa. Membuat kita yang apa adanya menjadi luar biasa. Dan yang perlu ditegaskan, jangan pernah mengatakan : Siapkah kau hidup bersamaku dalam derita? Relakah kau kiranya kisah kita tak selamanya indah???

Hentikan ucapan pengecut seperti itu. Ketika kita tak mampu menjanjikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai, patutkah kita mencintainya? Jika cinta kita hanya membawanya lebih menderita, lebih baik putuskan segera, buang ia jauh-jauh, dan iklaskan wanita yang kita cintai itu menikah dengan pria yang lebih baik dari kita. Relakan ia bersama seorang lelaki tangguh yang berani menjanjikan kebahagiaan selamanya. Karna konsekuensi cinta adalah membahagiakan!! Membuatnya tumbuh berkembang, menggapai langit, hingga membersamai kita menikmati syurga. Begitulah cinta yang berkah, selalu menawarkan kebaikan.

Kalau banyak orang bilang : Cinta itu tak butuh logika.

Maka, saatnya kita memperbaiki paradigma.

Sungguh, cinta itu sangat membutuhkan logika.

Karna logika, memaksa kita mewujudkan cinta dalam bahasa kerja!!

~Inspiring Moment~
Workshop Marriage Management
Jatinangor, 8 Mei 2011


Renungan : Untuk mereka yang memiliki keluarga

Sabtu, 30 April 2011

Ini sudah beberapa kalinya seorang akh, pulang larut malam. Rutinitas yang padat membuatnya lupa akan hak keluarga akan dirinya, sekaligus kewajiban ia atas mereka. Ini sudah menjadi bilangan yang tak terhitung jari lagi, ketika banyak urusan dirumahnya, tak mampu ia selesaikan dengan bantuan dan uluran tangannya. Membayar listrik, mencuci piring, beberes rumah, bahkan sekedar untuk mencuci baju miliknya. Alasannya klise, masih dengan dalih : sibuk dengan rutinitas kuliah dan organisasi. Padahal ia tahu - ibu dan ayahnya adalah 'orangtua karier' yang sibuk untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga. Pergi subuh hari, pulang larut malam. Mereka tak akan sempat mengurusi lagi seabrek pekerjaan rumah yang menumpuk. Bahkan meskipun itu menjadi tanggung-jawab mereka - maka dipastikan kewajiban itu telah gugur seketika. Seharusnya, pekerjaan rumah tangga seperti ini menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Bukan kewajiban para orangtua.

Sepertinya ada yang salah pada diri kebanyakan aktifis dakwah. Seorang yang biasanya mengaku taat mengaji dan haus akan ilmu agama. Seorang yang katanya sangat disibukkan dengan memikirkan umat. Yang katanya generasi "Rabbani" dengan modal tarbiyah di liqo-liqo yang menjadi rutinitasnya. Sangat disayangkan, jika kondisi pada lingkup terkecil di keluarganya, tak mampu ia benahi dengan baik. Kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggungannya tak mampu ditunaikan, dan sibuk memberi manfaat diluar. Di tempat yang kadangkala ia tak kenal.

"Khairunnas, anfa'uhum linnas", mungkin dalih ini yang membuat kita lupa akan kehadiran dalil : "Quu anfusakum wa ahliikum naara"....

Ketidak-seimbangan kita pada keluarga terkadang membuat ketidak-adilan kita atas mereka - yang sebenarnya sangat berhak atas diri kita. Sejenak coba kita introspeksi, seberapa banyak waktu kita, disibukkan dengan aktifitas 'dakwah' ataupun organisasi??? Bandingkan dengan seberapa sering kita disibukkan dengan pekerjaan rumah : mencuci baju, menyapu rumah, membantu orangtua, dan berbagai hal lainnya??? Lalu bandingkan, seberapa sering kita memberikan mentoring keislaman, motivasi, sms-sms tausiyah kepada sahabat dan kerabat kita? Lalu bandingkan, dengan seberapa sering kita memberikan semua perhatian itu kepada anggota keluarga dan saudara-saudara kita??

Belum lagi adanya beberapa fenomena yang memprihatinkan. Ketika banyak saudara mereka - yang katanya saudaranya aktifis dakwah, sangat jauh dari nilai-nilai keislaman. Sebagian dari mereka, ada yang menjadi pecandu, ada yang terjerumus aliran sesat, ada yang gemar melakukan kemaksiatan. Jika ditanyakan, bukankah ini tanggung jawab kita sebagai orang yang terdekat dengan mereka??? Mungkin saat itulah kita baru tersadar, bahwa begitu banyak kewajiban-kewajiban yang sangat dekat dengan kita yang terabaikan. Tidak sedikit dari kita, lebih memilih untuk sibuk di organisasi dibandingkan disibukkan dengan 'pekerjaan rumah' sendiri.

Begitulah fenomena-fenomena 'unik' yang seharusnya tidak terjadi. Mudah-mudahan hal ini-pun menjadi tausiyah untuk diri sendiri. Karna sangat diakui, tulisan ini sangat terinspirasi atas cela yang dilakukan selama ini. Semoga menjadi motivasi kita untuk memberi kesegaran dengan kehadiran kita di sekitar mereka. Ingatlah, pepohonan akan selalu meneduhkan tanah gersang dibawahnya, dan buahnya akan jatuh tak jauh disekitarnya. Bukankah itu hakikat dari perumpamaan pohon iman? Jika manisnya buah, hanya mampu dikecap oleh tetangga. Maka apalah artinya pohon yang tertanam subur di pekarangan??

Jatinangor, 29 April 2011 -19:04:54
(Kutitipkan untuk mereka yang memiliki keluarga : karna kita pasti memilikinya dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka)

Pagi dan Paksaan Inspirasi

Kamis, 06 Januari 2011

Pagi ini, terpaksa bangun larut malam. Menyentuh dinginnya udara subuh walau tak siap. Bahkan memaksa otak untuk terpacu memikirkan inspirasi yang belum terfikir. Lalu, tak lama ada kilatan tembukan sel otak karna rangsangan melankolis, dan jemari serasa reflek dengan menuliskan kata-kata yang ditemukan tanpa sengaja.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Entah mengapa muncul kata seperti itu. Namun harus saya akui, banyak inspirasi muncul dan datang karna pernah dirasakan, atau bermula dari banyak kejadian yang saya temukan. Pagi ini, mungkin refleksi masa lalu yang telah saya lewati. Bahkan dejavu-pun sering terjadi berkali-kali bukan?? Ahh,, hentikan membicarakan asal muasal perkataan. Lebih baik mendalami secara bijak apa yang pernah kita fikirkan dan rasakan.

"Seringkali menjaga sesuatu tidak sebaik saat berusaha mendapatkannya..."


Banyak contoh yang dapat membuktikan kalimat diatas. Ya, seringkali kita berbuat bodoh dengan hal yang telah kita perjuangkan hingga kita lelah mendapatkannya. Betapa sering kita memaksakan untuk mendapatkan sesuatu. Namun setelah berhasil menggenggamnya, ia kita biarkan hilang dan berlalu. Betapa banyak barang dan cinderamata yang dahulu kita senangi dan berusaha membelinya, lalu kita biarkan ia lusuh dan berdebu.

Betapa berat kita berusaha mendapatkan status tertentu, namun kita tidak dapat menempatkan peran sebagai mana mestinya. Atau ketika kita mendapatkan amanah dan kepercayaan dari orang lain, namun tidak diimbangi dengan menjaga tanggung jawabnya.

Bahkan, ketika kita berusaha berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari sesama, namun seringkali kita sulit untuk menjaganya. Menjaga agar mereka tidak kecewa, dan menjaga kepercayaan mereka seutuhnya.

Ya, seringkali motivasi untuk menjaga tidak sekuat saat kita berusaha memilikinya. Rasanya, apa yang kita miliki, tak lagi berharga ketika waktu telah membuktikan bahwa ia memang tak cukup berharga untuk dimiliki.

Lalu, apakah masalah waktu, yang berhak membuatnya hilang dari genggaman. Atau memang masalah kita, yang tidak becus menjaga komitmen dan tanggung-jawab dari semua yang telah kita dapati tanpa percuma.

Lalu kehilangan membuat kita tersadarkan..
Bahwa apa yang kita abaikan, suatu saat akan menghilang.

Jatinangor, 6 Januari 2011, 5.18.06
(Saat pergantian tahun diawali dengan banyak kesia-siaan)

Seharusnya Kita Malu...

Minggu, 02 Januari 2011

Semburat senyum tulus mengalir dalam wajah pada kamera. Seorang wanita dengan tinggi badan 74 cm, sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Dengan tangan dan kaki yang tidak normal, namun masih bisa mensyukuri anugerah dengan ikhlas dan semangat pantang menyerah. Dengan kekurangan yang dimilikinya, ia diberi gelar 'wanita terpendek di Indonesia'.

Seorang wanita yang tumbuh dengan keyakinan dan semangat yang besar. Ia tidak minder sekalipun ia dianggap oleh banyak orang sebagai wanita yang aneh karena tubuhnya. Ia sekolah di sekolah normal dan terus belajar mandiri. Ia tidak mau sekolah di sekolah untuk anak cacat dan selalu mendapatkan prestasi akademik di sekolah. Ia kemudian masuk perguruan tinggi dan saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang seorang jaksa, diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah komputer sampai lulus D3. Ya, dia mampu menjalani perkuliahan dengan 2 bidang studi yang berbeda dan berhasil menyabet kelulusan dengan sempurna.

Ahh,, melihat dan mendengar sebagian kisahnya membuat bulu kuduk ini merinding. Sejujurnya, jika dihadapkan pada kondisi yang sama, mungkin aku memilih untuk menyerah, dan kini sedang berbaring dengan rintihan penuh keluhan. Sangat berbeda, dan jauh berbeda dengan apa yang mampu ia lakukan dengan perjuangannya. Dan hanya satu rasa yang seharusnya dapat diakui hati ini : MALU!!

Cukup sampai disana!! Belum selesai mata ini membaca kisahnya saat melahirkan dan mengasuh anaknya sendirian. Bagaimana saat ia menjadi motivator, bahkan untuk orang-orang yang normal tanpa cacat! Tidak sanggup rasanya ketika membayangkan bagaimana saat ia mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anaknya.

Lalu bagaimana dengan kita??

Cacatkah kita? Begitu besarkah masalah yang menimpa kita?

Rasa-rasanya yang cacat bukan raga kita, namun otak ini yang berkarat hingga tak mampu lagi berfikir jernih saat ujian menimpa. Harus kita sadari, ternyata yang buta bukan mata kita. Namun hati yang tak mampu jujur menatap masalah dan ujian yang seharusnya dapat kita selesaikan dengan sempurna. Harus kita akui, ternyata yang lumpuh bukan tangan dan kaki kita. Namun jiwa yang mati karna kurangnya motivasi.

Berkacalah, dan banyaklah bercermin pada orang-orang yang benar-benar diuji dengan keterbatasan. Lalu tataplah seberapa pengecutnya diri ini yang menjalani hidup dengan berjuta keluhan.

Seharusnya kita malu...

Aku jadi tersadar, bahwa sebenarnya aku dilahirkan dengan sempurna. Namun kelalaian yang ku lakukanlah, yang membuatku banyak cela.

Banyak orang yang merasa istimewa dengan ujian dan permasalahan yang menimpa , lalu menjadikan pemakluman untuk menutupi kelemahan dirinya. Lihatlah diluar sana!! Betapa banyak orang yang lebih menderita dengan menanggung takdir yang tidak kita kira, namun mereka berjuang tanpa pernah berfikir bahwa 'akulah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam kemalangan.....

Aku malu pada mereka yang benar-benar ditimpa kemalangan. Jika ku bandingkan dengan apa yang menimpa, rasanya tak pantas aku berkata lagi sebagai manusia seutuhnya. Karna, begitu banyak yang seharusnya dapat kulakukan dibanding mereka. Mereka yang benar-benar memiliki keterbatasan raga, bahkan mampu menciptakan kemampuan yang tak kubisa, lalu mereka mampu menutupi aib dengan prestasi-prestasi gemilang dalam kehidupannya.

Malu, aku yakin tak cukup pada kata itu.

Sungguh, kebahagian tidak pernah melihat kekurangan. Karna ia dapat diciptakan dengan hati yang ikhlas menerima, dan jiwa yang tak lelah berjuang memaknai kehidupan.

Jatinangor, 1 Januari 2011, 19.27.05
(Saat lagi-lagi mendapatkan motivasi dan inspirasi dari orang yang tak ku kenal)


Kesejatian Hidup

Minggu, 26 Desember 2010

Sungguh, memang tak ada satupun yang kita miliki kawan, tapi selalu ada yang dapat kita berikan. Karna semua yang kita genggam, hanya ada dalam ketidak-abadian. Semuanya mudah hilang, berpindah tangan, atau malah kita abaikan..

Lalu sebenarnya bagaimana hakikat pengorbanan??
Bukankah pengorbanan itu merelakan apa yang kita genggam?
Bukankah pengorbanan itu mengikhlaskan apa yang seharusnya kita tanam?

Sungguh,, TIDAK satupun dari semua definisi yang kita fahami selama ini,
menjelaskan pengorbanan dengan arti yang tulus...
Karna pada hakikatnya,
pengorbanan tidak membuat kita lemah karna kehilangan,
namun pengorbanan,
selalu memberikan apa yang kita harapkan...

Ya, pengorbanan selalu memberikan apa yang ingin kita dapatkan..
Tanam definisi itu kawan...!!
Bahwa pada hakikatnya, tak ada yang hilang dari kita,
Karna kita memang tak memiliki apa-apa..
Namun selalu ada yang bertambah,
minimalnya dengan amal shalih karna keikhlasan kita...

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama??
Lalu buat apa kita berfikir ulang meniatkan kebaikan yang pantas kita lakukan??
Atau merasa menjadi orang yang teramat rugi,
ketika harus menjalaninya seorang diri.
Lakukan saja sahabat, pun ketika harus berkorban..
Lalu tanamkan keikhlasan, agar tak tercium wanginya
Karna terbakar api riya


Mungkin selama ini ada hal yang belum kita dapatkan,
Belum kita fahami dengan bijak,belum kita hayati dalam benak,,
Kesejatian hidup, mungkin itu yang selama ini tidak kita miliki..

Bersambung.....

Jatinangor, 15 Desember 2010, 06.38.54

Memaknai Cinta (Part.6) : Karna Cinta bukan sekedar Perasaan Suka...

Rabu, 08 Desember 2010

Banyak diantara kita yang mencukupkan diri atas motivasi cinta yang kita miliki. Hanya sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, dan selanjutnya diwujudkan dengan cara yang belum dihalalkan. Banyak kemaksiatan bermula dari perasaan suka. Sadarilah, sangat banyak.. Dan cinta, selanjutnya menjadi sasaran utama saat rasa suka ini tidak terwadahkan dengan bijak..

Suka karna dia sangat menarik dengan kecantikannya.
Suka karna ia sangat perhatian kepada kita.
Suka atas segala kebaikan yang ia berikan kepada kita.
Suka, suka, dan hanya atas kesukaan belaka..

Maka ketika kesukaan kita padanya menjadikan motivasi yang mendorong kita untuk mencintainya, maka tunggulah bahwa ketidaksukaan kita padanya suatu saat akan mengampiri kita. Tunggulah saatnya.

Karna saat kita semakin dekat dan mengenalnya, saat itulah kita semakin mengetahui cela dan kekurangan yang ada pada dirinya. Saat kita tau bahwa ternyata banyak kekurangan yang ia tutup-tutupi demi menjaga rasa cintamu padanya. Saat begitu banyak kebohongan yang ia rahasiakan darimu dengan dalih menjaga kepercayaanmu padanya. Saat begitu banyak yang tak kau ketahui tentangnya, dan saat itulah kau mengatahuinya. Saat kau begitu nyata melihat apa yang sebenarnya kau suka, hanyalah seorang yang ternyata sangat membuatmu kecewa.

Jika cinta dibangun hanya karna perasaan suka,
maka berapa banya orang wanita yang akan kau cinta??

Inilah pertanyaan sederhananya. Seringkali peraasaan ini timbul secara tiba-tiba. Tanpa kita sadari, dalam waktu sejenak saat melihatnya, sangat sederhana. Banyak orang bilang : Tak perlu banyak alasan untuk memulai merasakan cinta kita kepada seseorang, namun untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang luar biasa. Benarkah?

Dari pernyataan diatas saja sudah banyak kekeliruan. Dengan satu alasan sederhana, namun diperjuangkan dengan luar-biasa?? Sebandingkah??? Maka saya mengajak sahabat untuk memutar balikkan fakta dengan hal yang seharusnya. Dengan syariat yang seharusnya kita jaga :

"Perlu banyak alasan untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada seseorang. Maka setelah menemukan alasan-alasan itu, dengan mudah kita akan mendapatinya,....."

Ya, saya mengajak saudara-saudara untuk menemukan banyak alasan itu. Namun, saya cukupkan dengan menemukan satu alasan yang mampu mengikat semuanya. Alasan prinsip yang seharusnya dapat senantiasa kita jaga, lalu kita rawat dengan baik di kebun hati dan rasa. Satu alasan yang akan menyelamatkan, bahkan membahagiakan. Satu alasan yang bukan diada-ada, tapi memang harus ada semestinya. Alasan itu adalah... Iman.

Sahabat,,
Yakinkanlah pada dirimu, tekadkanlah..
bahwa apa yang kau rasakan, tidak semuanya harus kau wujudkan.
Rasa suka yang kau miliki pada seseorang,
hanyalah setitik ujian hati yang Allah berikan.
Tidak pantas rasanya, ketika cinta kau bangun diatasnya.
Karna suka hanyalah perasaan yang hadirnya sementara. Rapuh..
Kau perlu motivasi uatama sebagai pondasinya.
Agar kelak kesenanganmu tidak menghancurkan masa depanmu.
Agar kelak kebahagiaan cintamu mampu menjaga dan menyelamatkanmu
Membawamu hingga menemui kebahagiaan sejati..

Maka katakanlah :
Aku mencintaimu sebagaimana Allah cinta pada-mu,
Maka ketika kau menjauhi-Nya, akupun akan jauh darimu
Ketika kau dekat dengan-Nya,
maka semakin aku mendekati-mu
Sungguh,,,

cinta-mu bukanlah cinta yang aku tuju...
Maka, biarkanlah cintaku semakin dekat kepada Rabb-ku..

Depok, 6 Desember 2010, 11.41.05
(Saat cinta menyeruak, mengisi ruang-ruang kosong yang belum disinggahi)

Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah Bag.2

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kalau saja waktu bisa dibeli, Betapa saya ingin membeli waktu milik orang-orang yang menganggur itu. Agar semua menjadi 'amal yang muntijah (produktif) dalam dakwah. Karena, alwajabat aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia.."(Hasan Albana)

Huffhhhh,, mungkin itu helaan panjang yang sudah menjadi kebiasaan. entah sampai kapan kita mampu menyelesaikan. Semakin dikerjakan sepertinya bukannya semakin berkurang, tapi kian bertambah bahkan berkali lipat bebannya. Ya, karna kita mengerjakannya semakin detail, semakin kita mengetahui bahwa ternyata masih banyak yg kurang dari perencaan awal.

Sepakat dengan perkataan Hasan Albana : Al wajabat Aktsaru minal auqat, kewajiban lebih banyak dari waktu yg tersedia. Allah menganugerahkan kepada kita dengan begitu banyak kewajiban yang harus kita selesaikan, terlepas dari penting atau tidaknya kewajiban itu untuk kita tunaikan. Tapi bukankah kita beramal karna memang membutuhkanya. Sungguh, kita butuh menunaikannya sebagai bekal untuk pemberat kebaikan di akhirat.

Kelelahan seperti rasa yg haram untuk dirasakan sepertinya. Ketika kita sungguh2 berniat untuk mengejar kesempurnaan amal. Produktivitas waktu, itu yang perlu kita tuju. Bukankah dalam surat Al Asr, Allahpun menyebutkan bahwa pada dasarnya kita memang merugi, kecuali orang2 yang memanfaatkan waktunya umtuk beramal sholeh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran???

Jadi untuk masalah waktu, sepertinya kita tak perlu menggerutu. Mengapa Allah memberikan keterbatasan waktu pada kita, bukan bertujuan untuk melihat seberapa bisa kita menyelesaikan semua kewajiban2 kita, tapi bertujuan untuk menilai bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk berjuang dalam menunaikannya..(itu menurut saya, entah bagaimana dengan anda).

Untukkmu yang diburu waktu... Bersabarlah, waktu memang selalu mengejar kita Mengejar agar kita tidak menyia-nyiakannya. Karna begitu banyak kewajiban yang harus kita tunaikan. Begitu banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Begitu banyak harapan yang harus kita perjuangkan. Selagi Tuhan masih memberi kita waktu untuk berdiri dan berlari Maka jangan sia-siakan waktu yg tersisa saat ini. Karna esok belum tentu ada waktu lagi untuk menanti


Untukmu yang tak kenal lelah,
Semoga Allah mengganti setiap tetesan peluhmu dengan airmata Syurga....

Jatinangor, 23 Oktober 2010, 06.07.51
(Saat mencari motivasi yang hilang)

Teruntuk Saudara Seperjuangan (Part.3) : Untukmu Yang Tak Kenal Lelah.

Minggu, 17 Oktober 2010

Mungkin kita tak seikhlas Abu bakar : Yang rela mengorbankan seluruh hartanya untuk umat dan menebus syurga. Mungkin kita tak sekuat Umar bin khattab : Yang lantang meneriakkan kebenaran, walau setiap kata harus ditebus dengan nyawa. Mungkin kita tak setegar Bilal : Yang rela menebus derita dengan darah memperjuangan aqidah, yang tetap tegar untuk berucap : Asyhadu alla ilaaha illallah, muhammad arrasulullah.. Bahkan kita sangat jauh dengan pengorbanan seorang ayah, Yang mencari nafkah untuk anak-anak dan keluarganya. Sangat jauh.

Mungkin kita sering mengeluh dengan amanah yang membebani kita, memang manusiawi. Tapi sadarkah, ketika keluhan-keluhan itu tersampaikan, ia akan mengikis ketegaran. Membuat semangat kendur, bahkan membuat kita berfikir ulang untuk menghentikan perjuangan. Ketika lelah, cukuplah istirahat yang menjadi obat. Yang membuat kita kembali segar, merasa bugar untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita selanjutnya.

Ketika merasa lemah, fikirkanlah, bahwa seharusnya kita tidak pantas berada pada posisi itu. Karna begitu banyak orang yang menunggu, untuk meraih bantuanmu. Dan menuntut hak, atas kewajiban-kewajibanmu...


Bahkan kita sering dipaksa untuk bekerja, walaupun itu bukan menjadi kewajiban kita. Yakinlah, Allah akan selalu melihat perbuatan baik kita. Bahkan sebesar zarrah-pun tak akan luput dari 'penglihatan-Nya'. Sebatas motivasi : amal-amal baik bukan sebatas melakukan kewajiban yang harus kita penuhi, tapi sebanyak-banyaknya memberi manfaat dari waktu yang kita miliki.

Begitu sulitnya untuk ikhlas, hingga Allah menguji kita dengan pujian ataupun cercaan dari manusia. Begitulah sulitnya sabar, hingga Allah memberikan ujian yang tak pernah kita kira sebelumnya. Begitulah sulitnya istiqomah, Hingga ia membuat kita lemah tak berdaya. Begitulah sulitnya hidup, hingga kita dapat merangkum berbagai masalah yang menimpa kita, dengan ikhlas, sabar dan istiqomah..

Untukmu yang selalu dikejar waktu..
Mungkin setiap detik adalah nafas beratmu. Karna kau harus mengejar waktu untuk menyelesaikan amanah dan permasalahan itu. Namun bersyukurlah, Allah memang menyediakan waktu untuk dihabiskan. Tanpa kita pilih pun, ia akan habis terkikis. Tapi banyak orang memiliki cara berbeda untuk menghabiskannya. Ada yang tertidur pulas, ada yang bermain, ada yang berbuat maksiat, dan ada yang berjuang keras dalam kebaikan. Sungguh, dirimu berada pada posisi kebaikan!! Biarlah keringat kita jadi saksi bisu saat ini, namun kelak di akhirat nanti, ia akan lantang berbicara :

"AKU KELUAR DARI TUBUHNYA SAAT IA MENGORBANKAN WAKTUNYA DALAM KEBAIKAN. YA ALLAH,, IZINKANLAH IA MENEMUI SYURGA-MU, SYURGA PARA PEJUANG!!"

Subhaanaallah.. dan waktu-pun melanjutkan perbincangan :

YA ALLAH, AKU DIHABISKAN UTUK MEMENUHI PERINTAHMU DALAM MENABUR KEBAIKAN. MEMENUHI SYARL'ATMU, MENJALANKAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN DARI-MU. IZINKALAH IA MASUK KE SYURGA-MU, SYURGA PARA PEJUANG!!

Sungguh, tak akan merugi diri ini ketika menghabiskan waktu dalam kebermanfaatan. Tak akan rugi diri ini ketika kita mencelupkan diri ini dengan kesibukan-kesibukan yang berkepanjangan. Sungguh, amanah dan perjuangan ini menjadi bekal amal yang dapat memberatkan timbangan amal baik di akhirat kelak. Maka jalanilah dengan ikhlas, seberat apapun ia membebani kita.

Rabb, ketika ujian ini begitu berat untuk dirasakan,
maka jangan biarkan kami berada dalam kesendirian.
Berikanlah kami sahabat seperjuangan
yang mampu menemani kami dalam meniti jalan juang ini.

Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka kuatkanlah.
Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka tegarkanlah.
Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka sabarkanlah.
Sungguh, Ketika diri kami benar-benar tak sanggup lagi untuk memikulnya, maka jangan biarkan kami lari, jangan biarkan kami lalai menanggung amanah mulia ini.

Kami tak pernah menyesali segala ujian yg KAU bebankan pada pundak kami,
karna kami yakin bahwa ENGKAU sebaik2-baiknya sutradara kehidupan,
yang menginginkan kami menjadi pemeran utama & mengatur jalan hidup kami begitu indah.

Maka ketika permasalahan sudah terlalu membebani hati dan fikiran-fikiran kami,
ijinkanlah kami menyelesaikannya saat ini.
Bismillah!! 

Untukmu yang tak kenal lelah.
Semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Jatinangor, 16 Oktober 2010, 5.14
(Subuh hari, saat gemericik hujan memberi banyak pengharapan - Afief Alkhawarizm).

Memaknai Cinta Part.4 : Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Sebenarnya apa yang memotivasi kita untuk mencitai seseorang??
Sebatas kita memerlukan perhatian manusiakah??
Atau sebatas menjelmakan perasaan kita?
Setiap orang memiliki motivasi tersendiri untuk mencintai orang-orang yang dikasihi. Cinta memang sebuah anugrah yang tak dapat kita bantah. Adalanya ia hadir tanpa diundang, ia datang tiba-tiba, dan hilang dengan seenaknya. Cinta sebagai sebuah bentuk perasaan, terkadang mudah luntur dan hilang. Ketika ia ingin senantiasa kita pertahankan, maka butuh motivasi yang kuat sebagai landasan. 'Latar belakang sejarah' perasaan kita, harus dapat kita manajemen dengan baik. Sehingga kita tidak tertipu dengan rasa yang semu. Mungkin bagi beberapa orang, mencintai adalah hal yang sederhana. Tak perlu banyak berfikir, karna fikiran yang mengikis perasaan. Tak perlu menetapkan tujuan, biarlah ia mengalir begitu saja. Menikmati dalam ketidakjelasaan status ataupun hubungan. Tapi bagi orang-orang yang menjadikan cinta sebagai kekuatan, ia akan terus berjuang untuk memahami lebih dalam rasa cinta yang dimilikinya.

Cinta Kepada Allah adalah visi, Cinta kepada manusia hanya sebatas refleksi..

Alangkah indahnya, ketika cinta yang kita miliki adalah cinta yang bervisi. Cinta yang tumbuh karna kekuatan iman, bukan sebatas cinta yang terlegalkan dengan pernikahan. Cinta yang bervisi mengantarkan kita pada banyak kebaikan. Sebaliknya, cinta yang tak berorientasi hanya akan menimbulkan kepedihan , kekecewaan, sakit hati, bahkan kehancuran. Banyak orang yang terjerat oleh perasaan, dan berubah drastis ketika menemukan cinta yang tak sengaja dapat ia rasakan. Ya, cinta membuat segalanya berubah. Ada yang berubah menjadi lebih baik, sangat banyak yang merubah seseorang menjadi lebih buruk. Sungguh, cinta merubah segalanya.

Contoh sederhananya, adalah saat cinta menjadi pondasi dalam membangun keluarga. Saat cinta suami kepada istri hanya didasari atas dasar perasaan suka, maka suatu saat, ketika suami menemukan cela yang ada pada istrinya, maka perasaan suka itu semakin terkikis habis. Semakin hari, semakin dalam ia mengetahui akan kekurangan yang istrinya miliki. Alhasil, mungkin ketika cinta kian terkikis, maka benih-benih perceraian semakin dekat untuk dijadikan sebagai pilihan (Naudzubillah).

Namun, berbeda dengan orang yang melandaskan cinta dengan iman. Seberapapun cela yang ada pada pendamping hidupnya, ia akan terus mempertahankannya. Ia akan mencoba saling menasihati dan memperbaiki diri, agar kelak keturunan yang dilahirkan lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Karna Cinta Adalah ibadah, yang dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Ketika kita mencintai manusia, pada hakikatnya kita sedang mencintai sang Pencipta.Maka ketika cinta ternyata menjauhkan kita dari-Nya.Ketika cinta membuat kita bermaksiat pada-NyaKetika cinta bahkan membuat kita lalai untuk mendekat pada-NyaTanyakan pada diri kita : Siapakah gerangan yang sedang aku cinta???

Jikalau harus memilih :
Lebih baik mencintai seseorang atas dasar iman, daripada dicintai banyak orang dengan kemaksiatan...

Rabb, pertemukan kami dengan orang-orang yang senantiasa Mencintai-Mu.
Yang tak pernah padam Cinta-Nya karna Iman dihatinya.
Yang menjadikan cinta pada makhluk sebagai wujud Cintanya pada-Mu.

Rabb, biarkan kami belajar untuk dapat mencintai.

Karna Cinta yang menguatkan kami

Karna Cinta yang membuat kami masih berada disini.


Jatinangor, 2 Oktober 2010. 19.18.00

Karya

Meminang Bidadari Kisah tentang perjuangan untuk bisa belajar mencintai dan berkorban. Pertaubatan seorang WTS untuk menemukan cinta sejatinya, dan penerimaan seorang lelaki sholeh kepada seorang pendamping hidup yang memiliki masa lalu yang kelam. (Baca Selengkapnya)
Merajut Mimpi Merenungkan kehidupan berarti menemukan pertanyaan dan berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di atas nalar manusiawi. Banyak sekali pertanyaan yang perlu di jawab demi mengungkap keber-makna-an kehidupan kita. Makna adalah "makanan" dari nalar manusia.. Maka maknai kehidupan kita, agar setiap hembusnya memilki arti untuk dipahami..” (Baca Selengkapnya)
4 Musim Cinta Kisah berlatar negri jerman, tepatnya di kota Heidelberg. Kota yang dikenal sebagai kota paling romantis di negri jerman. Tentang kisah hidup seorang Alysha (Mahasiswi berprestasi dan agen intelegen) menemukan cinta, jalan hidup dan Tuhannya. (Baca Selengkapnya)
 

© Copyright Afief Alkhawarizm 2010 -2011 | Design by Afief Alkhawarizm | Published by Khawarizm's.net | Powered by AK-Team.